Pagi di Kota Nabi
Azan Subuh berkumandang dari Masjid Nabawi, terdengar sayup-sayup dari gedung Kantor Misi Haji Indonesia yang berjarak sekitar satu kilometer dari masjid megah itu. Di pagi buta, Jalan King Abdul Aziz dipadati jemaah yang berjalan kaki menuju satu arah, ke pusat suara azan. Aku larut dalam rombongan jemaah yang bergerak ke Nabawi.
Tiba di gerbang masjid yang searah dengan Pintu 21, aku tertegun. Sejenak menghentikan langkah, menatap lurus ke arah pintu masuk, lalu menyapu pandangan ke seluruh area masjid. Lampu-lampu yang bercahaya terang, kubah-kubah yang menguncup, dan arus jemaah yang terus berdatangan, mewarnai suasana Masjid Nabawi.
Seperti memasuki Masjidil Haram kemarin, tak terasa air mataku menetes kala menginjakkan kaki di halaman masjid yang seluruhnya dilapisi marmer berkilap. Aku masih tak percaya jika kini telah berada di Masjid Sang Nabi, salah satu di antara tiga masjid utama selain Masjidil Haram dan Masjid Aqsha. Sungguh besar sekali karunia Allah pada diri yang bahkan masih jauh dari kata layak untuk mendapatkan secuil perhatian-Nya. Dengan langkah gontai, aku menyeret kaki memasuki ruang utama masjid, sambil sesekali mengusap wajah yang basah.
Begitu memasuki ruang utama masjid, mataku langsung terpaku pada tiang-tiang yang begitu dominan memenuhi interior bangunan. Jemaah hampir memenuhi tiap sudut ruang. Padahal, jemaah haji belum banyak yang datang. Dapat dipastikan masjid ini akan penuh sesak jika seluruh jemaah telah tiba di Madinah.
Begitu iqamat dikumandangkan, jemaah berdiri dan merapikan shaf masing-masing. Sang imam pun bertakbir dan melantunkan surat Al-Fatihah, yang dilanjutkan dengan Surat Al-Fajr. Bacaan imam yang mengalun sendu seperti menghinoptisku untuk memusatkan pikiran pada Sang Maha Pencipta, melupakan sejenak segala urusan dunia yang membelit.
Lagi-lagi aku tak kuasa menahan kelopak mata agar tak beraklimasi. Aku telah berupaya menahan tangis, namun pusat syarafku seperti kehilangan kendali atas seluruh jaringan anatomis tubuh. Terlalu banyak faktor dan elemen yang mengonstruksi ‘kecengenganku’; fisik ataupun metafisik. Mulai dari kehadiranku di Kota Suci, suasana magis Masjid Nabawi, hingga lantunan qiraat sang imam yang membius.
Kombinasi seluruh unsur yang bermuara pada sujud di hadapan Sang Maha Segala, plus perasaan hina dan berdosa inilah yang mengakselarasi kegembenganku. Tanpa kusadari, aku pun larut dalam ekstase ketertundukan hingga berakhirnya gerakan salat.
Masjid Nabawi bukanlah pusat ibadah yang hanya diisi ritual salat semata, ia juga jadi pusat ilmu, tempat menimba air pengetahuan dari sumur yang tak pernah kering. Usai Subuh, majelis-majelis ilmu digelar di berbagai sudut dalam bentuk halaqah. Jemaah tinggal memilih akan mengikuti halaqah qiraat Quran, tafsir, fikih, atau kajian keislaman lainnya.
Halaqah-halaqah ini dipandu oleh para ulama yang kompeten di bidang masing-masing. Jemaah yang tak ikut halaqah tampak tenggelam dalam tadarus Al-Quran. Sebagian lagi bergegas dan berebut menuju Raudah, tempat mustajab untuk berpinta. Jalan menuju Raudah—yang terdapat di antara makam dan mimbar Rasul—dibatasi tirai-tirai yang membentuk lorong. Jemaah harus antre di lorong-lorong ini sebelum memasuki area yang ditandai dengan karpet warna hijau.
Aku termasuk di antara mereka yang ingin bermunajat di Raudah. Walau tahu betul bahwa Raudah ditandai karpet hijau, namun aku merasa congkak untuk bertanya ke arah mana harus melangkah. Memang di depanku terdapat dua kolom antrean jemaah yang hendak masuk ke Raudah, tapi aku tak bisa begitu saja bergabung dengan mereka karena di tempatku berdiri dan lorong dibatasi tirai. Merasa paham bahwa jalur menuju lorong antrean lewat samping masjid (bukan dari dalam), aku pun keluar terlebih dahulu. Mencari pintu yang langsung mengarah ke lorong antrean menuju Raudah. Tiba di luar, di depanku terdapat dua pintu; Pintu Abu Bakar dan Pintu As-Salam. Di depan masing-masing pintu ini terdapat askar dan pria berserban yang terlihat sibuk mengawasi hilir-mudik jemaah.
Aku sebenarnya ingin bertanya pada si askar atau pria berserban, manakah pintu yang mengarah ke Raudah. Namun entah mengapa hatiku merasa sangsi dan gengsi. Dan sebenarnya aku juga yakin bahwa Pintu Abu Bakar inilah jalan masuk yang benar. Lagi-lagi kesombongan lebih menguasaiku. Aku justru terus berjalan menuju Pintu As-Salam, karena kulihat lebih banyak jemaah yang masuk dari sana. Sementara dari Pintu Abu Bakar, hampir tak ada orang yang masuk. “Pasti itulah jalur ke Raudah,” pikirku.
Begitu melewati Pintu As-Salam, kerumunan jemaah ternyata telah membludak. Mereka berdesakan dan bergerak maju perlahan. Ketika kuberpaling ke kiri, ternyata aku baru sadar bahwa jalur ini bukan antrean menuju Raudah. Mereka yang berada di kolom antrean masih tetap berdiri tak bergerak, di balik tirai.
Ternyata aku salah masuk. Merasa malu balik badan, dan juga tak memungkinkan, aku pun mengikuti pergerakan jemaah. Berjalan pelan dan berdesakan. Merasa tak tahu ke mana tujuan jemaah ini, aku terpaksa membuang malu, bertanya pada lelaki berwajah Arab di sebelahku. “Jalan ini tembus ke mana?”
“Menuju Makam Rasul,” jawabnya.
“Bukan jalan ke Raudah?” aku masih penasaran.
“Jalan ke Raudah lewat pintu sebelah itu,” timpalnya sembari menudingkan telunjuk ke arah Pintu Abu Bakar.
Aku kaget, sedikit syok, namun lebih banyak merasa malu. Ternyata aku salah arah, lebih tepatnya kesasar. Sembari terus berjalan mengikuti arus, aku lebih banyak menunduk, beristigfar, memohon ampun pada Allah atas segala kecongkakan. Menjelang pintu keluar Raudah dari sisi mimbar Rasul, kerumunan jemaah semakin padat. Kakiku hampir tak bisa melangkah. Pergerakan jemaah seolah terhenti. Setelah kuperhatikan lebih saksama, ternyata kepadatan ini terjadi karena pertemuan jemaah yang baru keluar dari Raudah dan jemaah yang bergerak menuju Makam Rasulullah.
Tak mau capek berdesakan dan berimpitan dengan jemaah lain, aku menepi ke dinding pembatas sebelah kiri. Bergerak santai dan perlahan. Tak lama kemudian, kepadatan jemaah mulai terurai. Pergerakan jemaah yang menuju Makam Rasulullah mulai lancar. Sementara di Raudah hampir tidak ada orang, sepi.
Rupanya askar meminta jemaah yang tengah bermunajat di Raudah segera keluar, memberi kesempatan pada jemaah yang antre di lorong. Kebetulan aku tepat berada di pintu Raudah di sebelah mimbar ketika area itu sepi dari jemaah. Pada saat yang sama, tirai pembatas yang memisahkan Raudah dengan jemaah di lorong belum dibuka. Raudah benar-benar kosong.
Salah seorang askar mempersilakanku memasuki Raudah melalui pintu yang ia jaga. “Mau masuk Raudah? Masuk lewat sini saja,” katanya ramah.
Sejenak kutatap lelaki muda berjanggut lebat ini. Sorot mata dan mimik wajahnya tampak ramah. Kuyakin ia bersungguh-sungguh dengan tawarannya. Namun entah mengapa lidahku spontan menjawab, “Tidak, terima kasih. Nanti saja,” lantas berlalu dari hadapannya.

