Begitu memasuki putaran ketujuh atau putaran terakhir tawaf, kami berjalan menepi menjauhi kerumunan di seputar Ka’bah. Ini kami lakukan agar mudah keluar dari pusat area tawaf untuk salat sunah di Maqam Ibrahim. Usai melaksanakan salat sunah tawaf, azan Subuh berkumandang dari menara Masjidil Haram. Jemaah yang tadinya memutari Ka’bah seketika berhenti dan membentuk shaf untuk salat berjamaah. Azan tadi ibarat rem yang menghentikan segala gerak dan aktivitas tawaf. Kami mendirikan salat Subuh di area Maqam Ibrahim. Suara merdu sang imam yang membacakan kalam Ilahi begitu membuai.
Usai salat Subuh, kami bergerak menuju Hijr Ismail untuk mendirikan salat sunah di area yang merupakan bagian Ka’bah itu. Salat di Hijr Ismail bagaikan salat di dalam Ka’bah. Sebagaimana dikisahkan ketika Aisyah RA meminta pada Rasulullah agar diizinkan salat di dalam Ka’bah, Beliau membawa istri terkasihnya ke Hijr Ismail lantas bersabda, “Salatlah di sini jika kamu ingin salat di dalam Ka’bah, karena ini termasuk sebagian dari Ka’bah.”
Tak heran jemaah saling berebut memasuki area yang sempit itu. Aku sangat bersyukur bisa salat sunah di Hijr Ismail, di tempat penuh keberkahan dan kemuliaan. Di sini aku memperbanyak doa dan istigfar, menumpahkan segala pengharapan pada Tuhan, memohon kemudahan dalam beribadah dan menjalani hidup. Berhubung banyaknya jemaah yang berebut, bahkan ada yang saling sikut demi memburu berkah Hijr Ismail, kami tak bisa berlama-lama berdoa di dalamnya.
Aku pribadi tak mau memonopoli kesempatan mendekatkan diri pada Tuhan di saat banyak jemaah yang antre menunggu kesempatan yang sama. Keluar dari Hijr Ismail, aku melintas di depan Hajar Aswad. Jemaah terlihat saling dorong berebut kesempatan mencium batu hitam tersebut.
Sempat terpikir olehku, bahkan sudah ada niat sejak di Tanah Air untuk mencium Hajar Aswad. Apalagi kini kesempatan itu cukup terbuka. Jemaah belum terlalu padat. Walau berdesakan, aku yakin dapat membelah kerumunan orang dan berhasil mencium batu itu jika memaksakan diri. Namun aku tak mau menyakiti orang lain.
Mencium Hajar Aswad memang sunah, tapi aku tak mau mencari pahala sunah dengan perbuatan dosa. Menurut pemahamanku yang dangkal ini, alangkah tak seimbangnya pahala mencium Hajar Aswad dibanding dengan dosa yang ditimbulkan akibat menyakiti sesama Muslim. Karenanya, aku terus melangkah menuju tempat sai. Melupakan hasrat mencium Hajar Aswad.
Usai meminum air zamzam dari galon yang tersedia di berbagai sudut Masjidil Haram, kami melanjutkan prosesi tawaf dengan sai. Memulai sai dari Bukit Shafa, kami berjalan beriringan menuju Bukit Marwa. Menapaktilasi perjuangan Siti Hajar (istri Nabi Ibrahim) saat berkeliling dua bukit dalam upaya mencari air minum untuk putra terkasihnya; Ismail.
Bedanya, kami dan jemaah haji lainnya mengitari Shafa-Marwa dalam ruang tertutup yang sejuk dan dingin. Alangkah jauh perbandingannya dengan ‘sai’ yang dilakukan Hajar ribuan tahun silam. Ia harus berlarian ke sana-kemari di bawah terik matahari yang menyengat, di tengah padang tandus yang minim pepohonan dan tanaman.
Memasuki putaran ketujuh sai, kakiku terasa kaku akibat terlalu lama bersentuhan dengan lantai marmer yang begitu dingin. Tubuh terasa lemas, langkah kaki mulai goyang. Dahaga mendera akibat kerongkongan yang mengering. Beberapa meter menjelang Bukit Shafa, aku berhenti di tempat galon zamzam. Minum dua gelas, mengguyur kepala dan wajah. Dinginnya zamzam merasuk seluruh jaringan tubuh. Semangat dan tenagaku timbul lagi.
Zamzam bak bahan bakar yang memicu kembali energi dalam diri. Di Bukit Shafa, usai putaran terakhir, aku dan kawan-kawan Tim MCH mengakhiri sai dengan tahalul. Khoeron yang telah tahalul terlebih dahulu, memotong rambut kami satu per satu.
Usai tahalul yang menandakan berakhirnya rangkaian prosesi umrah, kami bergerak keluar Masjidil Haram melalui jalur yang sama saat kami masuk pertama kali.
Suasana pagi itu cerah dan bermandikan cahaya mentari. Temperatur udara masih belum seberapa panas. Kami menyempatkan diri mengambil beberapa foto dengan latar belakang pintu King Abdul Aziz, lalu berjalan menuju eskalator yang mengarah ke tempat kami turun dari mobil dini hari tadi. Tak lama menunggu di halte basement Masjidil Haram, si coaster tiba dan langsung membawa kami menuju Rehhal Mina Hotel. Kami lantas beristirahat di hotel hingga siang.
Sekitar pukul 14.00 WAS, kami diminta mempersiapkan diri untuk berangkat menuju Madinah. Bus-bus pengangkut petugas telah parkir berjejer di depan hotel. Mengenakan pakaian resmi PPIH, seluruh petugas bergegas naik bus setelah memasukkan seluruh barang bawaan di bagasi. Bus kemudian bergerak pelan, menyusuri jalanan Kota Mekkah yang lengang, di terik mentari yang menyengat kulit. Suhu pada puncak musim panas ini mencapai 45-50 derajat Celsius di siang hari.
Memasuki jalan utama menuju Kota Madinah, yang tampak di kiri-kanan adalah tanah gersang dan gunung-gunung batu. Di beberapa bagian gunung tampak berdiri gedung-gedung berbentuk kotak, seolah membentuk perkampungan nan jauh dari pusat kota. Jalanan yang lengang ini membuat perjalanan sangat lancar. Kecepatan rata-rata kendaraan yang melintas di atas 100 kilometer per jam. Jalan yang lebar ini tak ubahnya jalan tol di Indonesia, namun lebih luas. Bedanya, di sini gratis tanpa bayar sepeser pun!
Sembari menikmati perjalanan, pikiranku menerawang ke masa silam. Membayangkan bagaimana Nabi Muhammad SAW dan para sahabat harus menaklukkan alam nan ganas saat hijrah ke Madinah. Melewati gurun pasir dan pegunungan batu yang minim sumber air.
Kini orang-orang modern bergerak dari Mekkah ke Madinah hanya dalam hitungan jam. Jarak sekitar 450-an kilometer ditempuh kurang lebih empat jam saja. Tak terbayangkan bagaimana perjuangan Nabi dan sahabat dulu yang menempuh perjalanan dengan karavan unta. Bahkan mungkin ada yang berjalan kaki. Entah berapa lama mereka sampai di Madinah.
Menjelang Magrib, bus tiba di Gerbang Kota Madinah. Sebuah landmark berbentuk potongan tembok berlubang berdiri tepat di tengah persimpangan jalan, seolah menyambut kedatangan peziarah Kota Suci.
Suasana Kota Madinah masih sepi. Jemaah haji belum banyak yang datang. Jalan-jalan utama kota bersejarah ini juga tak terlalu dipadati kendaraan, lalu-lintas lancar tanpa kepadatan berarti. Tak berapa lama kemudian, bus yang membawa kami dari Kota Mekkah tiba di depan Kantor Misi Haji Indonesia yang sekaligus menjadi Kantor Daker Madinah. Pusat kegiatan operasional tugas-tugas perhajian.
Di wisma haji ini aku ditempatkan di lantai tiga kamar nomor 322, bersama empat orang kawan jurnalis dari berbagai media. Mereka adalah Triono Wahyu Sudibyo (Detik.com), Muhammad Hasits (Merdeka.com), Muhammad Iqbal Marsyaf (Koran Sindo), dan Sarmoko (Profesional Media). Selama puluhan hari ke depan, kami akan menghuni kamar ini.

