2 years ago
32 mins read

Bersimpuh di Raudah, Sudut Sunyi Taman Surga

Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. (Foto: Chairul Akhmad)

Bus berjalan pelan meninggalkan bandara setelah semua penumpang naik. Puja-puji dan ungkapan syukur tak putus kuucapkan dalam hati. Alhamdulillah, kini aku benar-benar telah berada di Tanah Suci. Kadang muncul perasaan tak percaya. 

“Ya Allah, begitu besar nikmat yang telah Kau limpahkan padaku. Pada hamba yang daif dan berlumur dosa ini. Aku merasa belum layak menerima karunia-Mu. Masih banyak hamba-Mu yang lebih berhak menerima berkah ini,” kataku dalam hati, saat menatap suasana Kota Jeddah yang berhias lampu dari jendela bus.

Perjalanan ke Mekkah ditempuh dalam waktu satu jam lebih. Sebagian penumpang mulai menguap, bahkan ada yang sudah pulas terbuai mimpi. Jam biologisku memang masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan kota ini. Perbedaan waktu Indonesia dan Arab Saudi  sekitar empat jam. 

Tubuhku terasa letih, kantung mataku terasa berat, namun tak jua bisa memejam. Pikiranku berkelana ke antah berantah, membentuk kilasan-kilasan acak. Bagai fragmen mimpi yang abstrak. Berkali-kali kumenarik napas panjang, mencoba memampetkan aktivitas otak agar tertidur walau sekejap. Entah mengapa, semakin kuat kuberusaha mematikan semua indra agar terlelap, semakin banyak pula kilasan acak yang berkelebat di otakku.

Perjalanan yang begitu nyaman di dalam bus ini seolah tak mampu menggoda tubuhku untuk melepas penat. Padahal biasanya, jika menikmati perjalanan di kereta api atau pesawat, aku cukup mudah tertidur. Tak sampai lima menit memejamkan mata, aku pasti sudah terempas ke alam ketaksadaran. Tertidur pulas. Namun entah mengapa begitu sulit memejamkan mata di bus yang adem ini. Suhu pendingin ruangan bus ini terasa nyaman di tubuhku. Balutan kain ihram nan tebal ini yang mungkin membantu menjaga kehangatan badan. Kupaksa pejamkan mata, membiarkan pikiran mengembara ke mana ia suka.

Sebuah hentakan kecil mengguncang bus yang kami tumpangi, seperti hentakan yang muncul karena roda melindas polisi tidur. Aku terkejut dan seketika menggosok kedua kelopak mata. Bus sepertinya memasuki sebuah tempat yang mirip terminal. Aku melongok keluar melalui jendela kaca, bus berjalan pelan dan berhenti tiba-tiba. 

Mencoba memulihkan fokus pandanganku yang masih samar akibat terbangun dari tidur, sekilas kulihat papan nama bangunan tempat ini. Semacam tempat pemberhentian sementara bus-bus yang membawa jemaah haji. Akhirnya bisa tidur. Kesadaranku pun pulih kembali. Dua orang lelaki Arab tiba-tiba masuk ke bus dan langsung membagi camilan dan air mineral. Setelah semua penumpang dipastikan mendapat jatah masing-masing, bus kembali melanjutkan perjalanan.

Tak sampai sepeminuman teh, bus berhenti di depan sebuah hotel. Rehhal Mina Hotel, demikian papan nama yang terpampang di atas pintu masuk menuju lobi. Di hotel yang terletak di Distrik Syisya, Mekkah itu kami akan menginap semalam saja. Hanya untuk menunaikan umrah qudum, lalu bertolak ke Madinah. Seluruh penumpang turun dari bus, beberapa orang membuka pintu bagasi dan menurunkan koper.

Setelah mendapat kunci kamar sesuai dengan daftar yang telah ditetapkan, kami rehat sejenak di hotel. Menjelang pukul 02.00 WAS, seluruh anggota Tim MCH berangkat menuju Masjidil Haram menggunakan mobil coaster. Mobil bergerak dalam kecepatan sedang, membelah jalanan yang sepi. Kota ini tampak bercahaya. 

Kombinasi antara gunung batu dan gedung-gedung tinggi model kotak begitu dominan membentuk wajah kota. Terowongan yang menembus gunung di sejumlah tempat kian mempertegas status kota ini sebagai kota modern. Walau dini hari, jangan berharap suhu udara akan sejuk atau dingin seperti di Tanah Air. Arab Saudi tengah menghadapi puncak musim panas, tak heran jika suhu udara di pagi itu masih di kisaran 30 derajat Celsius.

Memasuki jalur bawah tanah, bus mulai berjalan pelan dan berhenti di sebuah tempat mirip halte. Kami pun turun dan berjalan menuju eskalator yang mengarah ke lantai dasar Masjid Nabawi. Detak jantungku mulai meningkat melebihi skala normal. Gugup, haru, bahagia bercampur-aduk. Tak lama lagi aku akan tiba di Masjidil Haram, melihat Ka’bah. Sembari berjalan mengikuti rombongan di depan, bibirku tiada henti mengucap talbiah, istigfar dan shalawat kepada Nabi Muhammad.

Begitu tiba di lantai dasar, di ujung eskalator, yang tampak di depanku adalah Zamzam Tower. Menara jam laksana Big Ben di London, Inggris, namun jauh lebih tinggi dan lebih besar. Menara itu memang sangat mencolok, menjadi bangunan tertinggi kedua di dunia, setelah Burj Khalifa di Dubai. Abraj Al-Bait—sebutan lain Zamzam Tower—dengan ketinggian 601 meter ini menghadap Masjidil Haram. Berdiri tegak bak penjaga kawasan yang menjadi pusat kiblat umat Islam tersebut.

Halaman luar Masjidil Haram tampak ramai walau tak terlalu padat. Para jemaah duduk berkelompok di seputar halaman masjid. Sebagian ada yang tiduran sambil menatap langit nun jauh di sana. Kami terus melangkah menuju pintu King Abdul Aziz. Jantungku berdetak kian cepat kala berjalan mendekati pintu utama masjid. Beragam perasaan saling tumpang tindih dalam hatiku. “Allahummaftah li abwaba rahmatika. Ya Allah, bukalah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu,” doaku ketika memasuki masjid.

Hembusan angin dingin tiba-tiba menerpa wajahku ketika melewati pintu dan berjalan ke arah Ka’bah. Subhanallah, alangkah megah dan agungnya masjid ini. Suasana di dalam masjid ini begitu kudus, seolah membetot hasrat sang hamba untuk terus tenggelam dalam kekhusyukan dan ketertundukan. Beberapa ratus langkah ke depan, dari kejauhan terlihat kotak hitam; Ka’bah.

Dan tanpa kusengaja sedikit pun, kedua mataku tiba-tiba menitikkan butiran air hingga membasahi pipi. Entah kekuatan apa yang memaksaku menangis melihat bangunan kubus berwarna hitam itu? Tubuhku bergetar saat melangkah mendekati area tawaf, mengikuti rombongan yang dipimpin Khoeron, salah satu pejabat Humas Kemenag. Begitu tiba di area tawaf dan menatap Ka’bah dari dekat, air mata kian deras bercucuran. “Bismillah, Allahu Akbar.”

Kami pun memulai tawaf setelah berada pada posisi sejajar dengan Hajar Aswad. Melangkah perlahan di antara kerumunan jemaah yang belum terlalu padat. Sebagian besar jemaah yang tawaf saat itu adalah warga lokal dan beberapa jemaah dari India, Pakistan, Turki dan negara-negara Afrika. Kami bergerak dalam satu barisan yang rapat agar tak terpisahkan. Tetap berjalan sembari mengikuti bacaan doa yang dirapalkan Khoeron.

Putaran demi putaran berlalu. Dan dalam tiap putaran itu aku sama sekali tak berani lagi menatap Ka’bah. Entah mengapa? Tiap menatap kotak hitam itu tiba-tiba jantungku berdebar tak karuan, cucuran air mata tak terbendung. Yang jelas aku adalah hamba yang berlumur berdosa. Jangankan untuk bersimpuh dan bersujud di depan Ka’bah, bahkan untuk melihatnya saja aku merasa tak layak. Aku yang kotor dan hina ini tak seyogianya berada di tempat sesuci Baitullah. Belum pantas, belum waktunya. Karena itulah, di tiap putaran tawaf itu aku lebih banyak menunduk. Kadang berpegangan pada bahu Niko, wartawan RCTI yang bertubuh tinggi besar, dan selalu berada di depanku.

Masjidil Haram di Kota Mekkah, Arab Saudi. (Foto: Chairul Akhmad)
Go toTop

Jangan Lewatkan

Kemenhaj Kedepankan Mediasi Berkeadilan dalam Penanganan Aduan Jemaah

JAKARTA — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan komitmennya dalam

Upacara Penutupan Diklat PPIH Tak Dihadiri Presiden

JAKARTA — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) secara resmi menutup
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88