2 years ago
32 mins read

Bersimpuh di Raudah, Sudut Sunyi Taman Surga

Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. (Foto: Chairul Akhmad)

‘Lubang Hitam’ Pondok Gede
Kamis pagi, 18 Mei 2017, sekitar pukul 05.30 WIB, kupacu sepeda motorku dari kantor AJI Jakarta menuju Asrama Haji Pondok Gede. Sesuai pemberitahuan dari Kemenag, tes tertulis bakal digelar sejak pukul 07.00 WIB. Tak sampai setengah jam, aku sudah memasuki gerbang kompleks Asrama Haji. Kenangan setahun silam tiba-tiba berkelebat di kepalaku saat memacu motor menuju tempat parkir. Tahun lalu aku pernah ke sini, mengikuti tes yang sama, dan berbuah kegagalan. Kali ini aku berharap keberuntungan berpihak padaku.

Memasuki ruangan Gedung Serba Guna (SG) 2 yang telah dipadati kursi berjejer rapi, aku bak tersedot di lubang cacing, terseret arus menuju ruang kenangan setahun lalu. Mengalami peristiwa yang sama, di tempat yang sama, dalam suasana yang sama. Yang berbeda adalah peserta yang kutemui. Sebagian besar orang baru, hanya satu-dua orang peserta lama. Saat panitia telah membagi semua kertas soal, aku langsung kebut mencontreng lembar jawaban. Hampir satu jam, 100 soal ujian itu pun kelar kujawab. Tinggal menunggu tes wawancara yang bakal digelar usai Zuhur, sekitar pukul 13.30 WIB.

Ternyata aku mendapat kesempatan mengikuti tes wawancara usai Magrib. Masuk ke ruang ‘interogasi’, aku berhadapan dengan Mastuki dan Rosidin, para pejabat Humas Kemenag. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan ternyata jauh berbeda dengan pertanyaan setahun silam. Kedua penguji ini lebih banyak menggali ide dan program yang ditawarkan peserta. Tak ada sama sekali pertanyaan tentang doa-doa manasik haji. Aku pun jadi kian percaya diri.

Berdasarkan pengalamanku selama di Republika saat memegang Jurnal Haji, aku membeberkan sejumlah program yang perlu digarap MCH ke depan. “Seyogianya MCH punya situs sendiri yang berisi segala sesuatu tentang haji dan umrah, dari A hingga Z. Dengan demikian, pembaca atau calon jemaah dapat memperolah informasi yang komprehensif tentang seluk-beluk perhajian dari sumber resmi,” kata-kata pamungkas  yang keluar dari mulutku menutup sesi wawancara.

Aku tak bisa menebak makna ekspresi wajah kedua lelaki di depanku ini. Tersenyum tidak, cemberut tidak. Biasa saja. Usai wawancara, aku keluar ruangan. Semua beban pikiran yang mengendap di otakku seharian ini tiba-tiba lenyap tak berbekas, saat kakiku menginjak halaman samping Gedung SG 2. Sekilas menengadah ke atas, yang ada hanya kegelapan langit tanpa gemintang. Tapi entah mengapa mata hatiku melihat sebaliknya; keluasan angkasa tanpa batas nan penuh cahaya.

PPIH Arab Saudi
Pesawat Garuda dengan Nomor Penerbangan GA 980 yang mengangkut para petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1438 H/2017 M, tinggal landas dari Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa 25 Juli 2017 pukul 11.50 WIB. Pesawat yang mengangkut 299 orang petugas haji ini akan menempuh perjalanan selama lebih kurang sembilan jam, dan akan mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi.

Petugas PPIH memang diberangkatkan lebih awal untuk menyiapkan segala keperluan penyambutan jemaah di Tanah Suci. Petugas PPIH terdiri dari tim kesehatan, TNI-Polri, pembimbing ibadah, pejabat Kementerian Agama, dan wartawan. Mereka akan bertugas di Daker Madinah dan Daker Bandara. Terdapat 12 jurnalis yang ikut dalam penerbangan ini. Mereka tergabung dalam Tim MCH yang akan meliput pelaksanaan haji tahun 1438 H/2017 M. Sekitar pukul 21.30 WIB atau pukul 17.30 WAS pesawat mendarat di Terminal Haji Bandar Udara King Abdul Aziz, Jeddah. 

Keluar dari pintu pesawat, kami berjalan beriringan melalui garbarata menuju gedung terminal dan pintu imigrasi. Pemeriksaan imigrasi di bandara ini lumayan lama. Memakan waktu hingga tiga jam lebih untuk memeriksa 299 paspor anggota PPIH. Petugas imigrasi yang sebagian besar orang-orang muda itu kurang sigap melayani pengunjung Kota Suci. Mereka malah asyik ngobrol dengan sesamanya, tanpa memedulikan antrean yang mengular. Pemeriksaan satu penumpang kadang memakan waktu hingga 15 menit.

“Biasa nih, pemeriksaan imigrasi sini lumayan lama,” keluh seorang anggota PPIH. “Tahun lalu bahkan sampai empat jam lebih. Entah kenapa layanan imigrasi bandara ini tak jua berubah?”

Jengkel juga melihat cara petugas imigrasi di bandara ini. Terlalu lambat. Tak punya kepekaan. Mereka santai saja melihat wajah-wajah kuyu pengunjung Kota Suci setelah menempuh perjalanan jauh, dan dipaksa berdiri hingga berjam-jam lamanya. Usai pemeriksaan paspor, pemotretan dan pengambilan sidik jari, aku beranjak ke tempat pengambilan bagasi. Beruntung aku tidak capek mengantre pengambilan bagasi, karena sudah diambil oleh rekan-rekan Tim MCH yang terlebih dulu lolos pemeriksaan imigrasi. Ketika hendak keluar gedung terminal, semua barang bawaan atau bagasi penumpang harus melewati pemeriksaan sinar X (x-ray).

Pemeriksaan di sini lumayan ketat. Walau petugas imigrasi terlihat acuh sembari mengobrol dengan rekannya saat memelototi layar monitor, namun mata mereka cukup awas mengendus barang-barang mencurigakan. Bagasiku termasuk yang jadi ‘korban’. Walau tak membawa barang-barang haram ke Tanah Suci, entah mengapa tiba-tiba seorang petugas menghentikanku usai mengangkat barang yang baru keluar dari lubang x-ray.

“Ya Hajj (wahai Haji).. sini dulu!” teriaknya, berdiri dari tempat duduknya dan langsung menghampiriku. Ya Hajj (wahai haji) adalah panggilan khas dari petugas atau warga Saudi pada calon jemaah haji. 

Tas yang baru saja hendak kucangklong di pundak, otomatis kuturunkan kembali. Tanpa permisi, sang petugas berwajah gagah dengan kumis dan brewok yang cukup lebat itu langsung membongkar ranselku dan mengambil sesuatu dari dalam. Hatiku deg-degan, “Wah, ada apa nih?”

Saat mengeluarkan kresek yang membungkus bawaanku itu si petugas bertanya, “Apa ini?” lalu membuka ikatannya.

Aku sempat khawatir dan agak lupa apa isi bungkusan itu. Setelah ia mengeluarkan satu kotak bertuliskan dodol, aku pun teringat dodol durian kiriman saudaraku di Mataram. Hati pun agak tenang. “Oh, itu adalah makanan khas Indonesia. Namanya, dodol. Enak kok. Ambil saja kalau ente mau,” aku mencoba menawarinya.

Setelah mengendus-endus kotak dodol dengan hidungnya, ia langsung mengembalikannya padaku disertai ucapan, “Tidak. Terima kasih.”

“Coba saja, biar ente tahu rasanya dodol. Ini makanan enak khas Indonesia!” Aku mencoba memaksa.

“Tidak, terima kasih. Bawa saja…” sahutnya. 

Aku lantas bergegas menyusul kawan-kawan MCH yang telah keluar gedung terminal terlebih dulu.

Selain menjadi terminal haji, Bandara King Abdul Aziz juga merupakan tempat miqat dan ihram. Karenanya, petugas PPIH pun melakukan miqat dan ihram di sini. Setelah mandi, berihram, dan salat sunah, kami menunggu bus yang akan membawa kami ke Kota Mekkah di area yang disebut plaza. Plaza adalah ruang tunggu yang didesain sedemikian rupa agar jemaah haji dan umrah dapat rehat dengan nyaman. Tiap plaza dilengkapi kamar mandi, musala dan bangku-bangku. 

Di seputar plaza ini juga terdapat sejumlah warung atau kios yang menjual aneka makanan dan minuman. Jangan khawatir tak bisa berkomunikasi dalam bahasa Arab di sini, sebab hampir tiap penjaga warung bisa berbicara bahasa Indonesia. Usai menikmati makan malam sembari menunggu proses pengangkutan bagasi dari terminal ke dalam bus, kami pun siap-siap berangkat ke Mekkah untuk umrah wajib.

Jemaah haji mengenakan pakaian ihram di Bandara King Abdul Azis, Jeddah, Arab Saudi. (Foto: Chairul Akhmad)
Go toTop

Jangan Lewatkan

Kemenhaj Kedepankan Mediasi Berkeadilan dalam Penanganan Aduan Jemaah

JAKARTA — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan komitmennya dalam

Upacara Penutupan Diklat PPIH Tak Dihadiri Presiden

JAKARTA — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) secara resmi menutup
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88