MADINAH – Musim haji sudah lama menjadi bagian dari pekerjaan Pratiwi Kusuma. Sebagai jurnalis Indosiar, setiap tahun ia mengolah berbagai pemberitaan tentang penyelenggaraan ibadah haji dari balik meja redaksi.
Sejak 2018, segmen haji selalu menjadi salah satu liputan yang paling menarik perhatiannya karena menghadirkan banyak perspektif, mulai dari persoalan yang berulang setiap tahun, kabar jemaah yang wafat, hingga kisah-kisah personal sejak sebelum keberangkatan menuju Tanah Suci.
Meski akrab dengan pemberitaan haji, saat itu ia belum pernah merasa terpanggil untuk ikut menjadi bagian dari penyelenggaraan ibadah haji. Selama bertahun-tahun, ia cukup menjadi orang yang menyampaikan cerita tentang para jemaah dan para petugas kepada masyarakat.
Perasaan itu berubah ketika pendaftaran petugas haji dibuka pada akhir 2025. Tanpa banyak pertimbangan, ia memutuskan mengikuti seleksi. Bahkan, menurut pengakuannya, ia menjadi orang pertama yang menyatakan siap bertugas.
“Allah tidak pernah terlambat, tidak pula terburu-buru. Saat panggilan tes itu datang, aku sadar ini adalah waktu terbaik yang sudah disiapkan,” tuturnya.
Keputusan mengikuti seleksi bukan datang begitu saja. Selama bertahun-tahun mengolah berita haji, ada satu bayangan yang selalu muncul setiap kali melihat petugas membantu para jemaah.
Pratiwi membayangkan kedua orang tuanya. Dalam pikirannya, suatu saat nanti ayah dan ibunya juga akan memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci.
Ketika waktu itu tiba, mereka mungkin membutuhkan bantuan para petugas sebagaimana para jemaah yang selama ini ia lihat dalam berbagai liputan.
“Dari bertahun-tahun aku selalu melihat visual jemaah yang ditolong petugas. Dan aku ingin berada di posisi itu, menolong tamu Allah sebagai bekalku agar kelak kebaikan datang dalam hidupku,” kata Pratiwi.
Keinginan itu akhirnya membawanya ke Arab Saudi sebagai anggota Media Center Haji 2026 di Daerah Kerja Madinah.
Melayani dengan hati
Pada fase puncak haji, Pratiwi mendapat penugasan menjaga Pos 1 Jamarat bersama Putri Anggia. Hari itu, 28 Mei 2026, ia kembali teringat pada kedua orang tuanya.
“Bagaimana nasibnya jika tak ada petugas.”
Pertanyaan itu membuat setiap kesempatan melayani jemaah memiliki arti tersendiri baginya. Ia mengaku mungkin tidak bisa memberikan pertolongan yang besar.
Namun, menurutnya, menenangkan jemaah yang membutuhkan atau menyuapi sedikit camilan agar mereka kembali memiliki tenaga juga merupakan bagian dari pelayanan.
“Mungkin tak banyak pertolongan yang bisa kuberikan, tapi sejenak menenangkan mereka yang butuh, menyuapi sedikit camilan agar berenergi adalah caraku mencari bekal kehidupan. Tugasku sebagai MCH nyatanya bisa beriringan dengan nuraniku sebagai seorang hamba,” ujarnya.
Hari itu menjadi awal dari rangkaian pengalaman yang kemudian ia kenang sebagai bagian penting dari perjalanannya selama bertugas di Tanah Suci.
Keesokan harinya, 29 Mei 2026, Pratiwi kembali bertugas di Pos 1 Jamarat. Baru tiba di pos jaga, ia sudah mendapati seorang jemaah terjatuh hingga dahinya berdarah.
Saat itu ia bertugas bersama Putri Anggia dari Garuda TV. Menurut Pratiwi, selama beberapa hari bertugas di pos yang sama, mereka sudah menjalin kedekatan dengan askar dan tim medis yang berjaga di lokasi tersebut.
“Kami sudah punya kedekatan dengan askar dan tim medis di pos kami berjaga. Karena tujuan kami satu, agar ketika jemaah haji Indonesia butuh bantuan, mereka cepat bergerak.”
Kedekatan itu membantu proses penanganan jemaah yang mengalami perdarahan. Tim medis Arab Saudi segera datang dan bersama-sama membantu membawa jemaah tersebut ke medical center.
Namun, pengalaman yang paling membekas baginya justru terjadi pada hari yang sama di tenda Mina. Saat hendak berangkat menuju pos jaga, seorang jemaah lansia menggenggam tangannya dan meminta diantar ke kamar mandi.
Pratiwi mengaku tidak mungkin menolak permintaan itu meski tugas sudah menunggunya. Ia kemudian mendampingi jemaah tersebut masuk ke bilik kamar mandi yang, menurutnya, tidak seberapa luas untuk ditempati dua orang dewasa.
Pratiwi memperkirakan jemaah itu berasal dari Lombok dari logat bicaranya. Di dalam kamar mandi, jemaah lansia tersebut harus mengejan cukup keras karena pencernaannya tidak lancar. Setelah selesai, Pratiwi membantu membersihkan najisnya.
“Setelah itu kubasuh agar najisnya hilang,” tuturnya.
Selesai membantu jemaah itu, Pratiwi memanjatkan doa. “Aku seraya berdoa, jadilah ini rahmat bagiku kelak di kemudian hari.”
Pengalaman-pengalaman itu menjadi bagian dari hari-harinya selama bertugas di Tanah Suci. Ada yang terekam kamera, ada pula yang tidak pernah terdokumentasikan. Namun, bagi Pratiwi, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang ia jalani sebagai petugas haji.
Sesungguhnya, perjalanan itu telah dimulai beberapa tahun sebelum Pratiwi mengenakan seragam petugas haji.
