TUNIS — Indonesia memanfaatkan momentum Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40 untuk menegaskan identitas ideologinya di panggung global. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tunis menggelar diskusi bertajuk “Pancasila Falsafah Indonesia”, menghadirkan Duta Besar RI, Zuhairi Misrawi, bersama dua jurnalis senior Tunisia, Ziyad Krisyan dari Harian al-Maghrib dan Fadhil Thayyasyi dari Harian al-Syuruq.
Dalam forum tersebut, Pancasila diposisikan bukan sekadar konsep, melainkan fondasi yang terbukti menjaga keberagaman Indonesia sekaligus mendorong pembangunan peradaban bangsa.
“Pancasila merupakan falsafah dan ideologi bangsa Indonesia, yang telah terbukti mempersatukan semua elemen bangsa yang beragam, baik dari segi agama, bahasa, maupun suku. Pancasila menjadikan Indonesia mampu membangun peradaban bangsa,” papar Zuhairi, Jumat (1/5/2026).
“Sebab inti dari Pancasila, sebagaimana disampaikan Bapak Proklamator Bangsa, Sukarno, adalah gotong-royong. Kami percaya, selama gotong-royong masih hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka Indonesia mempunyai kesempatan untuk berperan besar dalam membangun peradaban dunia,” lanjut Duta Besar lulusan Universitas Kairo, Mesir itu.
Lebih jauh, Zuhairi menekankan bahwa Pancasila juga menjadi landasan dalam praktik diplomasi Indonesia, yang mengedepankan persahabatan dan kerja sama antarnegara.
“Kami percaya, bahwa Pancasila dapat menjadi fondasi dalam membangun peradaban diplomasi. Di dalam Pancasila ada spirit persahabatan dan kerja sama,” ujarnya..
Sebab itu, lanjut Zuhairi, Pancasila dalam tindakan menjadi kata kunci dalam membangun peradaban Indonesia dalam konteks global. Falsafah Indonesia-Tunisia sahabat merupakan Pancasila dalam tindakan, yang akan membangun harapan untuk mewujudkan kemaslahan bersama bagi kedua negara.
Diskusi ini juga diperkuat oleh perspektif dari kalangan media Tunisia. Ziyad Krisyan dan Fadhil Thayyasyi membagikan pengalaman langsung mereka saat berkunjung ke Indonesia, menilai bahwa nilai-nilai Pancasila tidak berhenti pada tataran wacana.
Keduanya menegaskan, Pancasila hadir sebagai praktik nyata dalam kehidupan masyarakat Indonesia—sebuah pendekatan yang dinilai relevan dalam membangun harmoni sosial di tengah keberagaman.
Sebagai tamu Kehormatan dalam pameran tersebut, Indonesia memanfaatkan ruang ini untuk memperluas pengaruh budaya dan gagasan, sekaligus memperkuat hubungan bilateral dengan Tunisia melalui jalur intelektual dan diplomasi nilai.*
