MEDITERANIA — Misi kemanusiaan global menuju Gaza kembali diuji. Sebanyak 179 aktivis yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) dilaporkan diculik oleh pihak Israel saat berada di perairan internasional Laut Mediterania. Hingga kini, keberadaan mereka belum diketahui secara pasti.
Insiden ini terjadi di tengah upaya berbagai negara dan organisasi kemanusiaan untuk menembus blokade dan menyalurkan bantuan ke wilayah konflik di Palestina. GSF sendiri merupakan koalisi global yang menggabungkan relawan lintas negara dalam satu misi kemanusiaan laut.
Tak hanya penculikan, laporan internal menyebut gangguan serius terhadap armada. Dari total 63 kapal yang berlayar, sebanyak 21 kapal dilaporkan mengalami sabotase yang diduga dilakukan oleh angkatan laut Israel.
Aksi tersebut dinilai menghambat jalannya misi sekaligus meningkatkan risiko keselamatan para relawan di tengah laut lepas.
“Ini adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan prinsip kemanusiaan. Mereka adalah relawan sipil yang membawa bantuan, bukan pihak yang terlibat konflik,” ujar Patricia Luévano, Anggota Steering Committee GSF.
Di tengah situasi yang memanas, partisipasi Indonesia tetap berjalan. Sebanyak 20 Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam Global Peace Convoi Indonesia (GPCI) saat ini berada di Marmaris dan bersiap untuk bergabung dengan armada GSF.
Para relawan Indonesia dijadwalkan menyusul pelayaran menuju Gaza sebagai bagian dari solidaritas global terhadap krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.
Di sisi lain, kecaman internasional terus mengalir. Amnesty International dan Reporters Without Borders mendesak pembebasan para aktivis dan jurnalis yang ditahan. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Turki dan Iran menyebut insiden ini sebagai aksi pembajakan.
Hamas turut mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai kejahatan tanpa akuntabilitas.
Desakan terhadap komunitas internasional pun menguat. Berbagai pihak meminta dukungan terhadap pelayaran GSF 2026 sekaligus menuntut Israel bertanggung jawab atas keselamatan para aktivis yang hingga kini belum diketahui nasibnya.
Di tengah risiko yang meningkat, satu pesan tetap menguat: misi kemanusiaan tidak berhenti.*
