MADINAH — Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Madinah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) ketat dalam proses pendorongan jemaah dari Madinah menuju Makkah. Skema ini disusun untuk memastikan pergerakan jemaah berjalan tertib, aman, dan terkoordinasi.
Kepala Daker Madinah, Khalilurrahman, menjelaskan tahapan dimulai jauh sebelum keberangkatan. Delapan jam sebelum jadwal, seluruh koper jemaah sudah harus diturunkan ke lobi hotel untuk memudahkan proses distribusi.
“Delapan jam sebelum jadwal keberangkatan, koper-koper jamaah sudah diturunkan di lobi hotel jamaah,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Selanjutnya, empat jam sebelum keberangkatan, bus mulai diberangkatkan dari pool menuju hotel. Dengan estimasi perjalanan sekitar 30 menit, bus dipastikan sudah tiba di hotel tiga jam sebelum jadwal keberangkatan jemaah.
Namun, Khalil menegaskan jemaah tidak langsung naik ke bus begitu kendaraan tiba. Proses verifikasi dilakukan terlebih dahulu oleh petugas transportasi bersama pihak syarikah.
“Jamaah jangan langsung turun menuju bus, tetapi menunggu arahan dari layanan transportasi. Setelah dipastikan, bus akan diberi stiker sesuai rombongan,” jelasnya.
Setelah penomoran bus selesai, proses pemuatan barang dilakukan oleh petugas (ummal), baik untuk koper besar maupun kecil. Jemaah kemudian diarahkan naik secara bertahap sesuai rombongan masing-masing dengan pengawasan ketua rombongan dan ketua regu.
“Di sinilah peran ketua rombongan dan ketua regu untuk memastikan jamaah masuk bus secara tertib dan sesuai jadwal,” katanya.
Untuk mengantisipasi kepadatan di titik miqat Bir Ali, PPIH telah menyiapkan delapan pos layanan. Setiap kloter akan diarahkan ke pos berbeda guna mencegah penumpukan.
“Nanti masing-masing kloter diarahkan ke pos satu, pos dua, dan seterusnya agar lebih tertib dan rapi,” ujarnya.
Ia menegaskan, Bir Ali merupakan titik miqat internasional yang digunakan jemaah dari berbagai negara. Karena itu, pengaturan yang rapi menjadi kunci agar seluruh jemaah Indonesia dapat melaksanakan miqat tanpa kendala.
Di Makkah, jemaah dijadwalkan tinggal selama 25 hingga 30 hari. Memasuki bulan Mei, suhu udara diperkirakan mencapai 35–36 derajat Celsius.
Khalil mengimbau jemaah untuk menjaga kondisi fisik selama masa transisi tersebut, termasuk menggunakan alat pelindung diri dan mencukupi kebutuhan cairan.
“Imbauan kami, jemaah tetap menjaga kesehatan, membawa pelindung diri seperti masker, topi, payung, kacamata, serta memastikan asupan makan dan minum cukup,” katanya.
Dengan SOP yang terstruktur, PPIH berharap proses pendorongan jemaah dari Madinah ke Makkah dapat berjalan lancar, sekaligus menjaga kenyamanan dan keselamatan seluruh jemaah.*
