1 year ago
1 min read

Menguak Mitos: Mengapa Stereotype ‘Orang Aceh Malas’ Tidak Berdasar

Tradisi minum kopi di Aceh. (Foto: Serambi)

JAKARTA – Mengatakan bahwa orang Aceh malas bukanlah sebuah opini berdasar dan adil, melainkan label negatif yang diberikan dengan tuduhan tidak berdasar. Sebenarnya, apa yang memunculkan stereotype bahwa orang Aceh pemalas?

Ditinjau dari kebudayaan Aceh, dapat dilihat bahwasanya masyarakat Aceh sangat suka minum kopi, terlepas dari kopi Gayo-nya yang terkenal.

Dilihat dari aspek sosial dan budaya masyarakat Aceh, budaya minum kopi di warung kopi sangat akrab sekali dengan masyarakat aceh. Warung kopi di Aceh buka dari setelah waktu Subuh hingga dini hari dan tak jarang ada yang buka hingga 24 jam.

Dengan warung kopi yang tidak pernah sepi inilah kemudian muncul steroetipe bahwa masyarakat Aceh cenderung malas. Dalam faktanya, warung kopi di Aceh tidak hanya dijadikan sebagai tempat hiburan atau sekedar minum kopi saja. Akan tetapi, acap kali dijadikan sebagai tempat untuk berdiskusi, merencanakan pekerjaan, berbincang seputar sosial dan politik. bukan barang baru yang terjadi di warung kopi yang ada di Aceh.

Dalam sejara Aceh, budaya dan sistem sosial aceh sangat sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama yang kuat. Pada masa Kepemimpinan Sultan Iskandar Muda lahir satu Undang-undang Tata Pemerintahan yang diberi nama “Makuta Alam”.

Makuta Alam sendiri sering dikatakan sebagai kedaulatan yang mencerminkan keharmonisan dalam kehidupan manusia, yang meyakini bahwasannya ketenangan, gotong-royong, serta rasa kekeluargaan sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Aceh.

Nilai-nilai yang demikian, kemudian melahirkan pandangan masyarakat Aceh bahwa pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan sosial.

Selain itu, nilai-nilai keagamaan yang dianut oleh masyarakat Aceh dapat digambarkan dengan pada bulan puasa warung yang menjual makanan dan minuman tutup dan boleh bukan dari pukul tiga sore hingga sebelum berbuka puasa, dan segala tempat pada saat jam Tarawih juga tutup.

Pada hari lain selain bulan Ramadhan, peraturan di Aceh juga mewajibkan untuk setiap kedai ataupun toko tutup pada saat waktu pelaksanaan ibadah Salat Magrib dan pada saat Jam Salat Jumat.

Aspek religius yang tinggi juga turut membentuk pandangan masyarakat terhadap keseimbangan bekerja dan waktu luang. Praktik keagamaan yang cenderung diprioritaskan dalam menjalani kehidupan yang menyebabkan waktu kerja disesuaikan dengan ibadah. Kekentalan nilai inilah yang kemudian memunculkan stereotype dari sebagian orang mungkin terlihat sebagai malas atau kurang ambisius.

Penting untuk dipahami bahwa “Orang Aceh Pemalas” merupakan stereotype, banyak dari masyarakat Aceh yang berprestasi, produktif, dan bekerja keras, dan hidup sejalan dengan syariat yang ada di Aceh.

Malas atau tidaknya seseorang tidak dipengaruhi oleh aspek geografi dan demografi. Hal tersebut sangat bergantung pada bagaimana cara pribadi atau individu menyikapi sifat alamiah manusia tersebut.*

Zuratun Nafisa, Peserta Pelatihan Menulis Energi Harapan.

Refrensi:

Poesponegoro, Marwati Djoened. dkk. (2008). Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Komentar

Your email address will not be published.

Go toTop

Jangan Lewatkan

Wapres Gibran Bertolak ke Aceh

JAKARTA – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bertolak menuju Provinsi

Nasir Djamil: Jurnalis yang Berubah Haluan

JAKARTA – Ketertarikan Nasir Djamil ke dunia politik bermula saat
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88