MADINAH – Di sisi barat Masjid Nabawi, terbentang kawasan yang hari ini dipenuhi pertokoan, pejalan kaki, dan lalu lintas jemaah dari berbagai negara. Kawasan itu dikenal sebagai Pasar al-Manakhah atau Suq al-Madinah. Di balik hiruk pikuk aktivitas ekonomi tersebut, tersimpan salah satu tonggak penting dalam sejarah peradaban Islam.
Mutowif sekaligus mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM) yang juga bertugas sebagai petugas MCH PPIH Arab Saudi 2026, Ibrohim Faddlanul Haq, menjelaskan lokasi itu merupakan pasar yang dipilih langsung oleh Rasulullah SAW sebagai pusat ekonomi umat Islam ketika pertama kali tiba di Madinah.
Menurut Ibrohim, saat itu aktivitas perdagangan di Madinah masih dikuasai oleh Yahudi Bani Qainuqa. Kondisi tersebut membuat roda perekonomian sangat bergantung kepada mereka, termasuk praktik pungutan terhadap para pedagang yang ingin membuka lapak.
“Jadi keadaan ekonomi ketika itu sangat dimonopoli oleh orang-orang Yahudi. Misalnya, stan-stan untuk jualan itu dipajakin oleh mereka. Banyak premanisme dan pungutan liar,” kata Ibrohim.
Di saat yang sama, kaum Muhajirin yang baru hijrah dari Makkah belum memiliki modal maupun jaringan usaha. Setelah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, Rasulullah SAW kemudian berkeliling mencari lokasi yang tepat untuk menjadi pasar umat Islam.
Saat mengunjungi sejumlah pasar di Madinah, Rasulullah SAW menolak beberapa lokasi karena masih berada di bawah kendali pihak lain.
“Hingga akhirnya beliau datang ke lokasi ini, kemudian beliau mengatakan, ‘Hadza suqukum’, ini adalah pasar kalian, tolong jangan dipersempit lokasinya, dan jangan pernah diambil pajak atau bayaran dari pasar ini,” kata Ibrohim, mengutip sabda Sang Rasul.
Pasar tersebut, lanjutnya, dibuka untuk siapa saja tanpa membedakan agama maupun suku. Muslim, Yahudi, maupun pedagang lainnya dapat berjualan tanpa dikenai pungutan. Dari tempat itulah Rasulullah SAW membangun fondasi ekonomi negara Islam pertama di Madinah.
Menurut Ibrohim, tata ruang kawasan di sekitar Masjid Nabawi menyimpan filosofi kehidupan yang masih relevan hingga kini. Pasar al-Manakhah menjadi simbol ikhtiar mencari rezeki, Masjid Nabawi menjadi pusat ibadah dan pemerintahan, sementara kompleks pemakaman Baqi mengingatkan manusia pada kehidupan setelah kematian.
“Jadi dunia, shalat, mati. Ini sebuah potret kehidupan yang sangat indah yang dibentuk oleh Rasulullah SAW. Semakin hidup masjidnya semakin hidup juga pasarnya,” lanjut Ibrohim.
Masjid al-Ghamamah
Tak jauh dari Pasar al-Manakhah berdiri Masjid al-Ghamamah, salah satu situs bersejarah yang berkaitan dengan berbagai peristiwa penting di masa Rasulullah SAW.
Ibrohim menjelaskan, sebelum menjadi masjid, lokasi tersebut merupakan tanah lapang tempat Rasulullah SAW memimpin Shalat Istisqa (meminta hujan) ketika Madinah dilanda kemarau panjang.
Saat beliau berdoa memohon hujan, datang awan yang menaungi lokasi tersebut hingga akhirnya turun hujan. Peristiwa itu menjadi asal-usul nama al-Ghamamah yang berarti awan. Selain Shalat Istisqa, lapangan itu juga menjadi lokasi Rasulullah SAW melaksanakan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Di tempat yang sama pula Rasulullah SAW menunaikan shalat gaib untuk Raja Habasyah atau Najasyi, pemimpin yang memberikan perlindungan kepada kaum Muslim saat hijrah pertama ke Afrika. “Inilah munculnya syariat shalat ghaib,” ujarnya.
Menurut Ibrohim, bangunan Masjid al-Ghamamah baru didirikan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai penanda lokasi-lokasi bersejarah tempat Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat.
Pada masa yang sama juga dibangun Masjid Abu Bakar ash-Shiddiq, Masjid Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah masjid lain yang berkaitan dengan sejarah para sahabat.
Kini, kawasan al-Manakhah tak hanya menjadi destinasi belanja bagi jemaah dari seluruh dunia. Di balik aktivitas perdagangan yang tak pernah berhenti, kawasan ini menyimpan jejak bagaimana Rasulullah SAW membangun sistem ekonomi yang terbuka, adil, dan berdampingan dengan pusat ibadah serta pemerintahan di Kota Madinah.*
