MADINAH — Pukul sebelas siang di Mina, Makkah, Arab Saudi. Matahari menggantung tepat di atas kepala ketika dua lelaki lanjut usia berjalan pelan di antara lautan manusia yang memenuhi jalur menuju Jamarat.
Wajah mereka tampak lelah. Langkah mereka pun tidak lagi tegap. Sejak malam sebelumnya, keduanya terpisah dari rombongan dan tidak tahu bagaimana cara kembali ke hotel tempat mereka menginap di kawasan Syisya.
Malam itu mereka tidur di pinggir jalan. Beruntung, banyak jemaah lain yang berbagi makanan dan minuman sehingga keduanya bisa bertahan hingga pagi. Namun ketika siang menjelang, kebingungan itu belum juga berakhir.
Di tengah situasi itulah Saibansah Dardani (Jurnalis Batam Today) dan Aditya Nugroho (Jurnalis TVOne) bertemu dengan mereka.
“Pak, ke mana arah Jamarat?” tanya salah seorang jemaah itu.
Pertanyaan sederhana. Namun bagi Junaidi dan Faizal, dua jemaah asal Sumatera Selatan dari Kloter 13 Embarkasi Palembang, jawaban atas pertanyaan tersebut adalah jalan pulang.
Saibansah dan Oho—sapaan akrab Aditya Nugroho—kemudian mengantar keduanya menuju Jamarat. Dari titik itulah kedua jemaah tersebut mengaku kembali mengenali arah menuju hotel mereka.
Peristiwa itu hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi Saibansah, di situlah ia memahami bahwa tugas petugas haji sering kali sesederhana membantu seseorang menemukan jalan pulang.
Padahal jauh sebelum mengenakan atribut PPIH, kehidupan Saibansah lebih akrab dengan ruang redaksi, rapat liputan, dan tenggat berita. Sebagai Pemimpin Redaksi Batamtoday.com dan J5newsroom.com, pria yang akrab disapa Cak Iban itu telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia jurnalistik.
Kariernya dimulai sejak menjadi wartawan Harian Pagi Riau Pos pada awal 1990-an. Sejak saat itu, puluhan tahun hidupnya dihabiskan untuk mengejar peristiwa, mencari narasumber, dan menuliskan cerita orang lain.
Namun musim haji tahun ini menghadirkan pengalaman yang berbeda. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia datang ke Tanah Suci bukan untuk memburu berita. Ia datang untuk melayani.
Jalan panjang menuju Tanah Suci
Kesempatan itu tidak datang begitu saja. Sebagai wartawan dari media lokal di Sumatera, Saibansah harus bersaing dengan lebih dari sebelas ribu pendaftar petugas haji dari seluruh Indonesia.
Mereka berasal dari berbagai profesi dan latar belakang. Ada aparatur sipil negara, tenaga kesehatan, anggota TNI dan Polri, akademisi, aktivis organisasi kemasyarakatan Islam, hingga para profesional dari berbagai bidang.
“Menjadi petugas haji bukan pekerjaan mudah. Harus bersaing dengan ribuan orang dari seluruh Indonesia dan harus melewati berbagai tahapan seleksi,” tutur Ayah dua putra dan satu putri ini.
Berbekal pengalaman panjang di dunia jurnalistik, sertifikat kompetensi wartawan utama, status sebagai asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW), serta Ahli Pers Dewan Pers, Saibansah mengikuti seluruh proses seleksi yang diselenggarakan Kementerian Haji dan Umrah RI. Ia juga mendapat rekomendasi resmi yang ditandatangani Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Muni,r dan mantan Sekjen PWI Pusat, almarhum Zulmansyah Sekedang.
Namun semua itu tidak membuat jalan menuju Tanah Suci menjadi lebih mudah. Ia tetap harus melewati seluruh tahapan seleksi yang sama seperti ribuan peserta lainnya. Mulai dari seleksi administrasi, tes CAT (Computer Assisted Test), wawancara di Asrama Haji Pondok Gede, hingga pendidikan dan pelatihan yang berlangsung selama hampir satu bulan.
Di Pondok Gede, para calon petugas tidak hanya belajar soal teknis pelayanan jemaah. Mereka juga ditempa melalui pelatihan semi militer yang melibatkan instruktur dari TNI dan Polri. Disiplin, kerja sama tim, komunikasi, hingga simulasi penanganan kondisi darurat menjadi bagian dari keseharian mereka.
“Tujuannya agar para petugas siap melayani jemaah dan mampu bekerja dalam situasi yang serba cepat serta penuh tekanan,” kata alumnus Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur ini.
Namun dari seluruh materi yang diterimanya, ada satu kalimat yang paling membekas. Kalimat itu disampaikan langsung oleh Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf. Pesannya sederhana tetapi menghentak. Tugas utama petugas haji bukanlah berhaji. Tugas utama petugas haji adalah melayani.
Jika suatu saat seorang petugas harus memilih antara menyelesaikan ibadah pribadinya atau membantu jemaah yang membutuhkan pertolongan, maka yang harus didahulukan adalah jemaah.
Pesan itulah yang terus dibawa Saibansah hingga ke Arab Saudi. “Kalimat itu mengubah cara pandang saya tentang ibadah,” ujar Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepri (Kepulauan Riau) ini.

