Anehnya, peristiwa serupa terjadi lagi saat ia menjalani sa’i. Di tengah arus jemaah yang bergerak antara Shafa dan Marwah, seorang perempuan berwajah khas India yang duduk di kursi roda mengangkat tumblr plastik ke arah Saibansah. Ia tidak banyak bicara. Hanya memberi isyarat sederhana yang segera dipahami. Ia kehausan dan meminta dibawakan air zamzam.
Sekali lagi, pertemuan itu berlangsung singkat. Namun ketika ketiga peristiwa itu diingat kembali, Saibansah merasa ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika biasa. Mengapa berulang kali ia dipertemukan dengan orang-orang yang membutuhkan air? Mengapa bukan orang lain? Mengapa selalu air minum? Sampai hari ini ia tidak memiliki jawabannya.
Mungkin itu hanya kebetulan. Mungkin juga sebuah pelajaran yang sedang diajarkan Allah dengan cara yang sangat sederhana. Bahwa di Tanah Suci, berbagi tidak selalu berarti memberi sesuatu yang besar. Kadang hanya seteguk air. Kadang hanya sisa air di dalam botol plastik. Namun bagi orang yang membutuhkan, seteguk air itu bisa menjadi bentuk pertolongan yang tidak ternilai.
Seorang perempuan tua di pelataran Masjid Nabawi yang meminta sisa air minumnya. Seorang lelaki berwajah India yang meminta setengah botol air zamzam saat Tawaf Wada. Dan seorang perempuan di kursi roda yang meminta dibawakan air zamzam ketika sa’i. Tiga orang yang berbeda. Tiga tempat yang berbeda. Tiga peristiwa yang tidak saling berkaitan. Tetapi semuanya memiliki satu benang merah yang sama: air.
Saibansah tidak pernah benar-benar tahu apa makna dari rangkaian peristiwa tersebut. Apakah itu sekadar kebetulan? Ataukah ada pesan yang sedang Allah titipkan melalui cara-cara yang sangat sederhana? Ia tidak berani menyimpulkannya.
Kadang-kadang, pikirnya, Allah tidak selalu mengajarkan sesuatu melalui peristiwa besar. Tidak selalu melalui ceramah panjang atau nasihat yang menggetarkan hati. Ada kalanya pelajaran datang melalui hal-hal kecil yang nyaris luput dari perhatian. Melalui seteguk air. Melalui sebotol zamzam. Melalui seseorang yang membutuhkan pertolongan sederhana.
“Entah apa arti dari pengalaman-pengalaman tersebut,” ujarnya. “Apakah itu isyarat dari Allah SWT bahwa saya harus lebih banyak lagi berbagi sumber kehidupan? Entahlah. Wallahua’lam bishawwab.”
Kalimat itu tidak lahir sebagai kesimpulan, melainkan sebagai perenungan. Selama bertugas di Tanah Suci, Saibansah belajar bahwa tidak semua hal harus dijawab. Ada pengalaman yang memang dibiarkan tinggal di dalam hati, menjadi pengingat bahwa kebaikan terkadang hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Sesederhana memberikan air kepada orang yang sedang membutuhkan.
Ibadah yang bernama pelayanan
Musim haji akan berakhir. Pada 2 Juli 2026, Saibansah akan kembali ke Indonesia setelah hampir tiga bulan menjalankan tugas di Tanah Suci. Ia akan pulang dengan ribuan foto, ratusan catatan, dan puluhan cerita yang mungkin tidak akan pernah selesai diceritakan.
Namun lebih dari itu, ia akan pulang dengan pemahaman baru tentang makna pelayanan. Bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji bukan hanya ditentukan oleh sistem yang baik, melainkan oleh ketulusan orang-orang yang bekerja di balik layar. Bahwa melayani jemaah bukan sekadar tugas administratif. Bahwa membantu orang lain beribadah juga merupakan ibadah itu sendiri.
Di antara jutaan manusia yang datang memenuhi panggilan Allah, ada sebagian kecil orang yang dipilih untuk menjadi pelayan bagi para tamu-Nya. Dan bagi Cak Iban, kesempatan menjadi bagian dari kelompok kecil itu adalah anugerah yang sulit diukur dengan apa pun.
“Alhamdulillah, saya bisa menjalankan tugas melayani jemaah haji selama dua bulan lebih dan menerima bonus menunaikan ibadah haji,” tuturnya. “Sungguh ini nikmat yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Ini adalah pencapaian tertinggi saya sebagai wartawan.”
Pria yang puluhan tahun menghabiskan hidupnya menuliskan kisah orang lain itu akhirnya membawa pulang satu cerita yang sangat personal. Sebagai wartawan, Saibansah Dardani terbiasa menuliskan kisah orang lain. Namun musim haji tahun ini memberinya satu cerita yang sangat personal.
Bahwa di antara jutaan manusia yang datang memenuhi panggilan Allah, ada sebagian kecil orang yang dipilih untuk melayani mereka. Dan sering kali, pengabdian itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: menunjukkan arah kepada yang tersesat, menemani yang kebingungan, atau sekadar berbagi seteguk air kepada orang yang membutuhkan.*
