Menulis, mendokumentasikan, dan melayani
Pada 17 April 2026, Saibansah berangkat ke Arab Saudi bersama tim Media Center Haji (MCH) Daker Madinah. Secara formal, tugasnya adalah melakukan peliputan, dokumentasi, publikasi, dan menyebarluaskan informasi terkait penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.
Ia menulis berita, membuat laporan lapangan, mendokumentasikan aktivitas jemaah, dan menjembatani informasi antara Tanah Suci dan masyarakat Indonesia. Namun kenyataan di lapangan jauh lebih luas daripada uraian tugas di atas kertas.
Dalam operasional haji, seluruh petugas pada akhirnya adalah pelayan jemaah. Ketika ada jemaah yang kebingungan, mereka membantu. Ketika ada yang tersesat, mereka mengarahkan. Ketika ada yang membutuhkan informasi, mereka menjelaskan.
“Yang terpenting adalah memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji Indonesia,” tegasnya.
Peran itu semakin terasa ketika fase puncak haji dimulai. Di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), hampir seluruh petugas dikerahkan untuk mendukung pelayanan jemaah. Aktivitas jurnalistik praktis berhenti. Yang tersisa hanyalah tugas kemanusiaan.
Saibansah masih mengingat bagaimana dirinya dan Oho baru beberapa langkah keluar dari tenda di Mina sebelum dihentikan oleh jemaah yang meminta petunjuk arah menuju Jamarat.
Lalu ada lagi yang menanyakan arah kembali ke hotel. Ada yang terpisah dari rombongan. Ada yang kebingungan mencari tenda. Ada yang hanya membutuhkan teman bicara karena panik.
Dalam satu hari, langkah mereka bisa mencapai lebih dari 31 ribu langkah atau lebih dari 20 kilometer. Namun tak satu pun langkah itu terasa sia-sia. Karena setiap langkah membawa mereka kepada satu hal yang sama: membantu jemaah.
Pelajaran dari sebotol air minum
Di antara begitu banyak pengalaman selama 77 hari bertugas, ada satu hal yang terus dikenang Saibansah hingga hari ini. Bukan rapat, bukan liputan, bukan pula dinamika operasional haji, melainkan sebotol air minum.
Malam itu, selepas shalat Isya di Masjid Nabawi, suasana pelataran masjid masih ramai oleh jemaah dari berbagai negara. Sebagian berjalan menuju hotel, sebagian lagi memilih duduk menikmati malam Madinah yang mulai terasa sejuk setelah seharian diselimuti panas matahari.
Saibansah saat itu berjalan bersama Brata Manggala, sesama petugas MCH Daker Madinah. Di tangannya tergenggam sebuah botol plastik berisi air minum yang tinggal tersisa sebagian.
Tiba-tiba seorang perempuan tua menghampirinya. Perempuan itu datang seorang diri. Wajahnya terlihat lelah. Tidak banyak bicara. Tatapannya justru tertuju pada botol yang sedang dipegang Saibansah.
Awalnya Saibansah mengira perempuan itu ingin menanyakan sesuatu. Namun ternyata tidak. Perempuan itu hanya menunjuk botol air minum di tangannya.
“Saya ambilkan air di Masjid Nabawi ya, Bu?” tawar Saibansah.
Di sekitar mereka, gentong air zamzam tersedia di banyak titik. Mengambilkan air baru tentu bukan perkara sulit. Tetapi perempuan itu menggeleng pelan.
“Tidak usah. Itu saja, Pak,” jawabnya sambil tetap menunjuk sisa air minum di tangan Saibansah.
Saibansah sempat terdiam. Permintaan itu terasa ganjil. Mengapa perempuan itu memilih meminta sisa air minum miliknya, bukan mengambil air yang tersedia begitu banyak di sekitar Masjid Nabawi?
Namun ia tidak banyak bertanya. Perlahan ia menuangkan sisa air tersebut ke dalam botol plastik yang dibawa perempuan itu. Belum sempat percakapan lain terjadi, perempuan tersebut langsung meminum air itu hingga habis. Selesai. Sesederhana itu. Bahkan Saibansah tidak sempat menanyakan nama perempuan tersebut. Namun entah mengapa, peristiwa singkat itu terus tinggal di dalam ingatannya.
Pengalaman serupa kembali terjadi. Kali ini di Masjidil Haram. Saat menjalani Tawaf Wada, di antara putaran-putaran yang kini bahkan sudah tidak lagi ia ingat jumlahnya, seorang pria berwajah khas India tiba-tiba memerhatikan botol air zamzam yang berada di tangannya.
Botol itu tidak penuh. Isinya tinggal sekitar setengah. Pria tersebut tidak berbicara banyak. Ia hanya menunjuk botol itu dengan pandangan yang seolah meminta izin.
“Saya berikan saja sisa air minum saya itu,” kenang Saibansah.
Lelaki itu menerimanya dengan wajah yang sulit dilupakan. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada perkenalan. Tidak ada foto bersama. Hanya perjumpaan singkat antara dua orang asing yang dipertemukan oleh setengah botol air zamzam.

