14 hours ago
9 mins read

Ketika Korupsi Menjadi Ekosistem

Ilustrasi (Foto: Laksamana Sukardi)

Ketika Makelar Lebih Berkuasa daripada Institusi: Sebuah Peringatan kepada Elite Indonesia

JAKARTA – Belakangan ini masyarakat Indonesia seperti disuguhi berita yang sama berulang-ulang. Hanya panggung dan pemainnya yang berganti.

Uang tunai ditemukan. Emas batangan disita. Rumah dan kantor digeledah. Pejabat ditetapkan sebagai tersangka.
Beberapa hari kemudian datang berita berikutnya. Dan berikutnya lagi.

Kasus-kasus itu muncul di tempat yang seharusnya tidak mempunyai hubungan satu sama lain: penegakan hukum, imigrasi, pertanahan, pemerintah daerah, penyelenggaraan haji, program sosial, bahkan perguruan tinggi.

Pada tahun 2025, publik mengikuti perkara mantan pejabat Mahkamah Agung Zarof Ricar.
Jaksa mendakwanya menerima gratifikasi sekitar Rp. 915 miliar dan 51 kilogram emas selama sekitar satu dekade dari pihak-pihak yang mempunyai perkara di pengadilan.

Pada 2026, publik kembali dikejutkan perkara yang menyentuh lingkungan penegakan hukum.
Dalam rangkaian penggeledahan perkara mantan Jampidsus Febrie Adriansyah, diberitakan penyitaan 74 kilogram emas dan uang tunai dalam berbagai mata uang. Kepemilikan, asal-usul aset, dan keterkaitannya dengan dugaan tindak pidana tentu harus dinilai berdasarkan pembuktian hukum.

Lalu Badan Gizi Nasional.
Lembaga yang baru dibentuk untuk menjalankan program Makan Bergizi Gratis dengan alokasi anggaran yang sangat besar itu sudah menghadapi penyidikan dugaan korupsi tata kelola programnya. Pada Juni 2026, Kejaksaan Agung menetapkan mantan Kepala BGN dan dua mantan wakil kepala sebagai tersangka, dengan dugaan antara lain terkait penunjukan yayasan dan proses pengadaan.

Kemudian Imigrasi.
KPK menyatakan perkara dugaan pemerasan dalam pengurusan izin tinggal warga negara asing berlangsung selama 2022–2026. Dalam OTT Juni 2026, KPK menangkap pejabat dan pihak swasta; sejumlah pihak swasta disebut berperan sebagai perantara pengurusan dokumen keimigrasian.

Penyelenggaraan haji pun terseret perkara hukum. Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan sejumlah pihak lain menghadapi perkara dugaan korupsi kuota haji. Seluruh tuduhan harus dinilai berdasarkan pembuktian di pengadilan.

Kemudian universitas.
Pada Agustus 2026, KPK melakukan OTT di Universitas Jenderal Soedirman dan menetapkan rektor serta sejumlah pihak lainnya sebagai tersangka perkara dugaan korupsi penerimaan mahasiswa baru. Di antara tersangka terdapat pihak yang disebut sebagai perantara.

Lalu ATR/BPN.
Dalam OTT terkait pengurusan hak guna bangunan, KPK menyita barang bukti sekitar Rp. 106,3 miliar, salah satu jumlah terbesar dalam sejarah OTT KPK. KPK juga menguraikan dugaan permintaan imbalan dan penggunaan perantara dalam rangkaian pengurusan tersebut.

Dan seolah daftar itu belum cukup panjang, dalam satu pekan pada September 2026 dua kepala daerah kembali menjadi tersangka dalam perkara berbeda.

Dalam perkara Bupati Bolaang Mongondow Utara, KPK menduga adanya imbalan proyek dan pengaturan calon penyedia sebelum proses lelang. Dalam perkara Bupati Gowa, penyidik Polri menduga adanya permintaan uang atau manfaat dalam proses perizinan melalui pihak lain; dalam salah satu transaksi, penyidik menyebut sopir pribadi sebagai perantara.

Belum selesai tulisan ini disusun, datang lagi berita berikutnya.

Kali ini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Pada Oktober 2026, KPK mengungkap dugaan korupsi terkait penggunaan dana siap pakai untuk penanganan bencana. Lima orang ditetapkan sebagai tersangka, terdiri atas tiga orang dari unsur internal BNPB dan dua pihak swasta.

Ironinya sulit diabaikan.

Ketika masyarakat menghadapi bencana dan membutuhkan pertolongan segera, dana yang seharusnya membantu menyelamatkan manusia justru diduga menjadi sasaran korupsi.
Bahkan penderitaan manusia dapat menjadi kesempatan mencari rente.

Dan hanya sehari kemudian, pada 15 Oktober 2026, KPK kembali melakukan OTT.
Kali ini Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, bersama sejumlah aparatur pemerintah, pihak swasta, dan unsur BPK diamankan. KPK menemukan uang tunai yang dalam penghitungan awal bernilai sekitar Rp1 miliar.

Dugaan perkaranya tidak hanya menyangkut pengadaan barang dan jasa serta perizinan, tetapi juga pemberian uang kepada pihak di lingkungan BPK terkait pemeriksaan keuangan.

Jika dugaan tersebut terbukti, persoalannya menjadi semakin serius. Bukan hanya penggunaan uang negara yang dipersoalkan. Mekanisme yang seharusnya mengawasinya pun diduga menjadi sasaran transaksi.

Ilustrasi deretan kasus korupsi yang melibatkan para pejabat publik (Foto: Berbagai Sumber// Total Politik)

Seluruh perkara tersebut tentu harus melalui proses hukum yang adil. Orang yang diamankan dalam OTT tidak otomatis bersalah, dan status hukumnya harus dibedakan dari orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka atau diputus bersalah oleh pengadilan.

Tetapi rangkaian peristiwa ini mengundang pertanyaan yang semakin sulit dihindari.
Nama institusinya berbeda. Modusnya berbeda. Orangnya berbeda. Namun terdapat pola yang patut diperiksa.

Dan mungkin hal yang paling mengkhawatirkan bukan lagi bahwa masyarakat terus mendengar berita korupsi. Yang paling mengkhawatirkan adalah kita mulai tidak terkejut mendengarnya.

Bukan Lagi Sekadar Oknum.

Dan tidak adil menyimpulkan bahwa seluruh pejabat dalam sebuah institusi korup hanya karena sebagian orang di dalamnya terjerat perkara.

Tetapi kehati-hatian hukum tidak berarti kita harus menutup mata terhadap sebuah pola.
Selama bertahun-tahun kita mempunyai sebuah kata yang sangat nyaman: Oknum.
Kalau seorang pejabat tertangkap, ia disebut oknum.
Kalau sepuluh pejabat tertangkap, mereka tetap oknum.

Tetapi ketika pola serupa terus muncul pada institusi yang berbeda, kita harus berani mengajukan pertanyaan yang berbeda.

Bukan lagi hanya: Siapa yang korup?
Tetapi: Mengapa sistem terus menyediakan kesempatan untuk korupsi?
Kalau masalahnya semata-mata orang jahat, solusinya adalah menangkap orang jahat.

Tetapi kalau sistem membuat korupsi mudah dilakukan, menguntungkan, dapat diulang, dan melibatkan jaringan, menangkap seorang pelaku hanya memotong satu cabang. Cabang lain akan tumbuh.

Karena itu kita harus mempertimbangkan kemungkinan yang lebih serius: Yang kita hadapi bukan lagi sekadar kumpulan kasus korupsi, tetapi sebuah ekosistem yang kondusif bagi korupsi.

Dalam ekosistem seperti itu, dapat terbentuk kepentingan bersama, pembagian keuntungan, bahkan mekanisme perlindungan yang membuat praktik tersebut terus berulang.

Berburu di Kebun Binatang

Saya menggunakan analogi yang mungkin terdengar keras: Memberantas korupsi di Indonesia kadang-kadang terasa seperti berburu di kebun binatang.
Pemburu tidak perlu masuk jauh ke hutan. Tidak perlu mencari jejak berhari-hari. Hewannya sudah tersedia.

Hari ini pejabat kementerian. Besok kepala daerah. Lusa pengusaha. Kemudian pejabat kampus. Kemudian makelar. Kemudian aparat penegak hukum.

Setelah satu tertangkap, muncul yang lain.

Keberhasilan KPK, kepolisian, dan kejaksaan dalam mengungkap perkara tentu harus dihargai. Tetapi banyaknya tangkapan juga harus dibaca sebagai alarm. Ukuran keberhasilan pemberantasan korupsi bukan semakin banyak orang yang ditangkap.

Justru keberhasilan sesungguhnya terjadi ketika semakin sedikit orang dapat melakukan korupsi karena sistem membuatnya sulit, mahal, mudah terdeteksi, tidak menguntungkan, dan mempunyai konsekuensi hukum yang nyata.

Dalam sebuah kebun binatang, persoalannya bukan sekadar membutuhkan pemburu yang semakin hebat. Kita harus membongkar kebun binatangnya.

Bahkan pertanyaannya sekarang harus diperluas: Siapa yang terus memelihara kebun binatang itu?

Makelar: Institusi yang Tidak Pernah Dibentuk Negara

Di sinilah sebuah pola menarik muncul dari berbagai perkara.
Perantara.

Dalam perkara ATR/BPN, KPK menguraikan dugaan imbalan bagi penghubung dan penyerahan uang melalui perantara.
Dalam perkara Imigrasi, pihak swasta disebut berperan sebagai perantara pengurusan dokumen.
Dalam perkara penerimaan mahasiswa Unsoed, terdapat tersangka yang disebut sebagai perantara.
Dalam perkara Gowa, penyidik juga menguraikan penggunaan pihak lain dalam dugaan permintaan dan penerimaan uang.

Tentu tidak setiap perantara adalah makelar korup.

Perantara mempunyai fungsi ekonomi yang sah. Agen properti, konsultan, penasihat hukum, distributor, dan berbagai profesi lain dapat mempertemukan pihak-pihak yang bertransaksi dan menciptakan nilai.

Yang saya maksud dengan makelar dalam tulisan ini berbeda.

Makelar adalah pihak yang memperoleh keuntungan ekonomi terutama karena mampu membuka, mengatur, atau memengaruhi akses kepada kewenangan publik untuk memperoleh keuntungan istimewa atau rente.

Dengan demikian, akses menjadi aset tak berwujud yang sangat mahal. Tetapi akses saja belum menjelaskan seluruh persoalan. Korupsi menjadi jauh lebih berbahaya ketika akses bertemu kolusi.

Makelar dapat membangun hubungan saling menguntungkan dengan pemegang kewenangan publik. Ada keputusan yang dapat dipengaruhi. Ada rente yang dapat diciptakan. Dan ada kepentingan bersama untuk membaginya.

Terbentuk sebuah rantai: Uang → akses → keputusan → rente → pembagian rente.

Di sinilah makelar berubah dari sekadar individu menjadi semacam institusi informal.
Ia mempunyai peranan penting dalam transaksi ekonomi karena mengetahui siapa yang memegang kewenangan, bagaimana keputusan dibuat, dan dalam jaringan koruptif, bahkan berapa harga yang harus dibayar untuk memengaruhinya.

Dalam keadaan demikian, orang yang membutuhkan keputusan dapat merasa harus menggunakan jasanya.

Ketika Negara Harus “Diurus”

Kita dapat mengetahui kekuatan makelar melalui bahasa sehari-hari.

Orang tidak lagi hanya bertanya: “Apakah permohonan saya memenuhi syarat?” “
Apakah produk saya paling kompetitif?”
“Bagaimana hukumnya?”
Tetapi muncul pertanyaan lain: “Siapa yang bisa membantu mengurus?”

Kalimat sederhana itu menyimpan persoalan besar.

Kalau hak yang seharusnya diberikan oleh institusi hanya terasa aman setelah ada seseorang yang “mengurus”, kewenangan publik mulai bergeser dari institusi formal menuju jaringan informal.

Ketika Institusi Resmi Menjadi Tidak Relevan

Institusi tidak perlu dibubarkan untuk menjadi lemah. Cukup dibuat tidak relevan.

Perencanaan masih dilakukan, tetapi keputusan utama sudah dibuat sebelumnya. Tender tetap dibuka, tetapi pemenangnya dapat saja sudah diarahkan. Seleksi tetap berlangsung, tetapi akses menentukan siapa yang mempunyai peluang.

Pengawasan tetap ada, tetapi dapat kehilangan daya ketika berhadapan dengan jaringan yang lebih kuat. Prosedur akhirnya menjadi panggung formal. Sementara keputusan substantif berlangsung di belakang panggung.

Dalam dugaan perkara Bolaang Mongondow Utara, misalnya, KPK menyatakan calon penyedia diduga telah diarahkan sebelum proses lelang. Jika tuduhan itu terbukti, perkara tersebut memperlihatkan bagaimana prosedur formal dapat tetap berlangsung sementara hasilnya telah ditentukan sebelumnya.

Kasus Klaten menambah pertanyaan yang tidak kalah penting.

Apa yang terjadi apabila mekanisme pemeriksaan keuangan yang seharusnya mengawasi penggunaan uang negara juga dapat dipengaruhi oleh pihak yang diperiksa?

Dalam desain institusi yang sehat, pelaksana dan pengawas harus menjalankan fungsi yang berbeda dan independen.
Apabila batas tersebut dilanggar, persoalannya bukan lagi hanya satu transaksi. Sistem pengendaliannya sendiri terancam kehilangan fungsi.

Ketika masyarakat melihat bahwa jalur informal lebih efektif daripada jalur resmi, perilaku mereka ikut berubah.
Orang rasional akan mencari jalur yang bekerja.

Semakin banyak orang menggunakan makelar, semakin kuat makelar. Semakin kuat makelar, semakin tidak relevan institusi formal. Terbentuk lingkaran yang memperkuat dirinya sendiri.

Power Is Money

Pada akhirnya kita sampai kepada persoalan yang lebih mendasar: Bagaimana kekuasaan dipahami?

Dalam negara demokrasi, kekuasaan seharusnya berarti tanggung jawab. Jabatan adalah amanah sementara. Pejabat hanya memegang kewenangan yang dipinjamkan masyarakat.

Tetapi dalam ekosistem rente, kewenangan memberikan izin, konsesi, kuota, persetujuan, dan tanda tangan dapat mempunyai nilai ekonomi. Kedekatan dengan orang yang dapat membuat keputusan juga mempunyai nilai.

Makna kekuasaan pun berubah secara harfiah: Power is money. Kekuasaan adalah uang.
Ketika kekuasaan dapat dikonversikan menjadi rente, makelar menjadi jembatan yang mempertemukan kepentingan ekonomi dengan kewenangan publik.

Namun hubungan itu tidak selalu berupa transaksi sederhana antara satu pemberi dan satu penerima.

Ekosistem dapat melibatkan jaringan. Ada yang membuka pintu. Ada yang membawa pesan. Ada yang mengatur pertemuan. Ada yang membuat keputusan. Ada yang menerima. Ada yang membagi. Ada yang memastikan semuanya tetap berjalan. Dan mungkin ada pula yang melindungi.

Inilah sebabnya korupsi sistemik jauh lebih sulit diberantas daripada korupsi individual.
Kita tidak hanya menghadapi seseorang. Kita menghadapi sebuah ekosistem.

Pengusaha Pun Terperangkap

Karena itu kita harus berhati-hati dengan cerita sederhana bahwa semua korupsi terjadi karena pengusaha serakah datang menyuap pejabat.

Ada pengusaha yang memang aktif mencari rente.
Tetapi dalam sistem yang buruk, ada pula pengusaha yang akhirnya merasa dipaksa ikut bermain agar usahanya dapat berjalan.

Bayar atau izin tertunda. Bayar atau proyek tidak diperoleh. Bayar atau barang tidak bergerak. Bayar atau pesaing yang mempunyai akses mendahului.

Kalau keadaan semacam itu menjadi luas, perusahaan yang ingin sepenuhnya bersih dapat menghadapi kerugian kompetitif.
Korupsi kemudian berubah menjadi bagian dari biaya menjalankan usaha.
Ketika biaya korupsi masuk ke dalam kalkulasi bisnis, ia mulai menyebar ke seluruh ekonomi. Harga naik. Kompetisi rusak.

Modal tidak selalu mengalir kepada perusahaan paling produktif. Pengusaha mulai menginvestasikan waktu dan uang untuk membangun koneksi, bukan meningkatkan produktivitas. Kewirausahaan perlahan dapat bergeser menjadi perburuan rente.

Dan masyarakat akhirnya membayar melalui harga yang lebih mahal, pelayanan yang lebih buruk, dan kesempatan ekonomi yang lebih sempit.

Salah Asuh

Dalam buku saya Panca Salah, salah satu persoalan yang saya kemukakan adalah Salah Asuh. Korupsi yang telah menjadi ekosistem pada akhirnya bukan hanya persoalan uang.

Ia menjadi persoalan pendidikan. Bukan hanya pendidikan di ruang kelas. Tetapi pendidikan melalui contoh.
Anak muda melihat siapa yang cepat kaya. Mereka melihat siapa yang memperoleh proyek. Mereka melihat siapa yang mendapatkan jabatan. Mereka melihat hubungan antara kekuasaan dan kekayaan.

Lalu mereka belajar.

Kalau bekerja keras kalah oleh akses, mereka belajar bahwa akses lebih penting daripada kerja keras.
Kalau kompetensi kalah oleh kedekatan, mereka belajar bahwa kedekatan lebih penting daripada kompetensi.
Kalau inovasi kalah oleh koneksi, mereka belajar bahwa koneksi lebih penting daripada inovasi.
Dan kalau jabatan publik menghasilkan kekayaan, mereka dapat mulai melihat kekuasaan bukan sebagai amanah, tetapi sebagai investasi.

Itulah Salah Asuh dalam bentuk yang sangat berbahaya.
Bangsa mengajarkan satu hal melalui buku pelajaran. Tetapi kehidupan sehari-hari mengajarkan hal yang berbeda.

Ketika Salah Asuh Masuk ke Universitas

Karena itu perkara dugaan korupsi di universitas mempunyai makna simbolis yang sangat serius. Universitas seharusnya menjadi benteng meritokrasi.

Di sanalah generasi muda belajar bahwa prestasi mempunyai arti.

Bahwa belajar mempunyai arti. Bahwa kompetensi menentukan kesempatan. Ketika dugaan korupsi justru menyentuh penerimaan mahasiswa, kerusakan yang dipertaruhkan bukan hanya uang. Yang dipertaruhkan adalah pesan moral.

Bagaimana kita menjelaskan kepada seorang anak bahwa ia harus belajar keras untuk masuk universitas jika ia melihat kemungkinan bahwa akses dapat diperjualbelikan?
Bagaimana kita meminta generasi muda percaya kepada meritokrasi kalau institusi yang seharusnya menjaganya sendiri dapat terseret perkara?

Sekali lagi, orang-orang yang menjadi tersangka berhak atas proses hukum yang adil. Tetapi sebagai masyarakat, kita tetap harus membaca peringatannya.

Kalau pintu menuju ilmu pun dapat dimakelarkan, Salah Asuh telah masuk sangat jauh.

Kerusakan yang Tidak Masuk Barang Bukti

Kerusakan akibat ekosistem koruptif bukan hanya uang yang hilang. Yang lebih mengkhawatirkan adalah masa depan anak bangsa yang dapat ikut digadaikan.

Bayangkan akibatnya: Pabrik yang tidak pernah dibangun. Pekerjaan yang tidak pernah tercipta. Teknologi yang tidak pernah dikembangkan.

Pengusaha produktif yang kalah bukan karena produknya buruk, tetapi karena tidak mempunyai akses.
Anak muda cerdas yang memilih mengejar koneksi daripada menciptakan inovasi.
Perusahaan yang seharusnya tumbuh tetapi justru mati karena mengganggu aliran rente.
Semua itu sulit difoto. Sulit disita. Dan sering kali tidak pernah dihitung sebagai kerugian negara.

Tetapi secara ekonomi, kerugiannya bisa jauh lebih besar daripada uang yang ditemukan dalam sebuah penggeledahan.
Yang hilang bukan hanya kekayaan yang sudah kita miliki. Yang hilang adalah sebagian kekayaan yang seharusnya dapat kita ciptakan.

Di sinilah pembicaraan tentang korupsi harus bergerak dari ruang pengadilan menuju ruang ekonomi.

Sebuah Pertanyaan yang Belum Terjawab

Seberapa besar sebenarnya dampak ekosistem korupsi terhadap kemampuan sebuah bangsa untuk menjadi makmur?

Untuk menjawabnya, mari kita bayangkan dua tokoh alegoris: Pupuk dan Benalu.
Setelah sepuluh tahun, keduanya sama-sama berhasil mengumpulkan kekayaan US$1 juta.
Dalam rekening bank, nilainya sama.

Tetapi: Apakah US$1 juta Pupuk dan US$1 juta Benalu mempunyai arti yang sama bagi perekonomian?

Apakah keduanya menciptakan masa depan yang sama? Jawabannya ada pada perjalanan mereka.

Laksamana Sukardi. Politisi dan Ekonom

Komentar

Your email address will not be published.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

IKLIM BISNIS MEMBURUK, PASAR GLOBAL MENJAUH

JAKARTA – The Economist edisi terbaru menerbitkan dua laporan tentang

Bertahan

Sikap defensif pejabat publik, yang cenderung menyalahkan pihak lain, menghambat
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88