Ketika kamera diletakkan
Selama bertugas sebagai Petugas Media Center Haji, Oho tetap menjalankan profesinya sebagai jurnalis. Setiap hari ada konferensi pers yang harus diliput, perkembangan operasional yang harus diberitakan, aktivitas jemaah yang harus didokumentasikan, serta laporan yang harus segera dikirim kepada masyarakat Indonesia.
Naluri jurnalistik yang selama bertahun-tahun menemaninya tidak pernah berubah. Setiap peristiwa adalah berita. Setiap momen layak direkam. Setiap perkembangan harus didokumentasikan secara akurat.
Namun, seragam petugas yang ia kenakan setiap hari terus mengingatkannya bahwa ada amanah lain yang melekat pada dirinya. Ia bukan hanya seorang jurnalis. Ia juga petugas haji.
Dan sebagai petugas haji, menurutnya, tanggung jawab yang dipikul jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan berita.
“Saya adalah petugas haji dan petugas haji mempunyai kewajiban yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan berita,” tegas Oho.
Pelajaran itu tidak datang melalui sebuah peristiwa besar. Ia justru hadir dalam kejadian-kejadian yang berulang hampir setiap hari. Di tengah perjalanan menuju lokasi liputan, ia menjumpai jemaah yang kebingungan mencari hotel.
Di pelataran Masjid Nabawi, ia bertemu jemaah yang kehilangan arah setelah terpisah dari rombongannya. Di sekitar Masjidil Haram, ia melihat seorang lansia yang kelelahan setelah berjalan cukup jauh.
Dalam situasi seperti itu, pilihan yang harus diambil sering kali datang begitu cepat. Ia dapat meneruskan perjalanan agar tidak terlambat menuju lokasi liputan. Atau berhenti sejenak untuk membantu.
Menurut Oho, setiap kali berhadapan dengan situasi semacam itu, pikirannya tidak lagi dipenuhi pertanyaan mengenai sudut pengambilan gambar atau bagaimana menyusun laporan.
Yang muncul justru satu hal. “Orang ini harus segera dibantu.”
Kalimat sederhana itu, menurutnya, menjadi pelajaran terbesar selama menjalankan amanah di Tanah Suci. Ia mulai memahami bahwa berita terbaik tidak selalu berakhir menjadi tayangan di layar televisi.
“Barangkali itulah pelajaran terbesar yang Allah ajarkan kepada saya. Bahwa ada kalanya berita terbaik bukanlah berita yang berhasil ditayangkan. Melainkan pertolongan yang tidak pernah diketahui siapa pun,” ungkapnya.
Pemahaman itu mencapai puncaknya ketika rangkaian puncak ibadah haji berlangsung di Mina. Bagi Oho, Mina bukan hanya menjadi lokasi liputan. Tempat itu juga menjadi ruang yang mengajarkannya arti memilih.
Ribuan tenda berdiri hampir tanpa perbedaan. Lorong-lorong panjang tampak seragam sehingga mudah membuat orang kehilangan orientasi. Di tempat seperti itulah ia baru saja menyelesaikan tugas peliputan ketika melihat dua orang jemaah lansia duduk di pinggir jalan.
Keduanya tampak kelelahan dan kebingungan. Oho bersama petugas haji lainnya menghampiri mereka. Ia bertanya dari mana mereka berasal dan hendak menuju ke mana.
Jawaban yang diterimanya membuat ia memahami situasi yang sedang dihadapi kedua jemaah tersebut. Mereka baru selesai melempar jumrah pada malam hari dan hendak kembali ke hotel di Makkah.
Namun, hingga siang mereka masih berada di Mina karena tersesat dan tidak lagi mengenali jalan pulang.
“Kami ingin pulang.”
Kalimat itu diucapkan dengan suara pelan. Menurut Oho, kedua jemaah tersebut mengaku telah berjalan cukup lama sejak malam. Mereka belum sempat makan, belum sempat minum, dan semakin berjalan justru semakin tidak mengenali tujuan yang hendak mereka capai.
Di hadapannya saat itu ada dua pilihan. Ia dapat segera melanjutkan pekerjaan jurnalistik yang masih menunggu. Atau berhenti untuk mendampingi dua jemaah yang tidak lagi mengetahui arah pulang. Pilihan itu akhirnya tidak membutuhkan waktu lama.
Saat itu ia tidak lagi memikirkan berita yang harus segera dikirim ke Indonesia. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana kedua jemaah tersebut dapat kembali melanjutkan perjalanan dengan aman.
Ia mengajak keduanya berteduh. Memberikan makanan. Menyodorkan air minum yang dibawanya. Lalu menunggu hingga napas keduanya mulai kembali tenang sebelum melanjutkan perjalanan.
Dari situlah perjalanan lain dimulai. Bukan perjalanan untuk mencari berita. Melainkan perjalanan mengantar dua tamu Allah menemukan jalan pulang.
Dua lansia di Mina
Perjalanan itu tidak berhenti setelah kedua jemaah tersebut menerima makanan dan minuman. Setelah merasa kondisi mereka mulai membaik, Oho bersama petugas haji lainnya mengajak keduanya melanjutkan perjalanan. Langkah demi langkah mereka menyusuri lorong-lorong Mina untuk mencari jalan menuju Makkah.
Bagi siapa pun yang pernah berada di Mina, menurut Oho, kawasan itu memang mudah membuat orang kehilangan orientasi. Ribuan tenda berdiri dengan bentuk yang hampir sama. Lorong-lorong panjang tampak seragam. Dalam kondisi lelah setelah menjalani rangkaian ibadah, sangat mungkin seseorang tidak lagi mengenali arah yang harus ditempuh.
Karena itu, perjalanan yang mereka lakukan siang itu tidak pernah terasa sederhana. Beberapa kilometer mereka tempuh di bawah terik matahari. Sesekali salah seorang jemaah berhenti karena kelelahan. Mereka kembali beristirahat.
Setelah tenaga dirasa cukup, perjalanan kembali dilanjutkan. Begitu seterusnya hingga mereka perlahan meninggalkan kawasan Mina menuju jalan yang mengarah ke Makkah.
Bagi Oho, perjalanan tersebut bukan lagi tentang seberapa jauh jarak yang harus ditempuh. Perjalanan itu berubah menjadi pengingat bahwa setiap langkah harus disesuaikan dengan kemampuan dua orang yang sedang didampinginya.
Tidak ada yang perlu diburu. Yang terpenting, keduanya dapat kembali menemukan jalan pulang. Hingga akhirnya mereka tiba di ujung kawasan Jamarat, menuju jalan yang mengarah ke Makkah.
Di situlah Oho melihat perubahan pada wajah kedua jemaah tersebut. “Ada senyum yang perlahan muncul,” ujarnya.
Mereka saling berpandangan. Setelah berjam-jam kebingungan dan kehilangan arah, mereka akhirnya kembali menemukan jalan yang harus ditempuh.
Salah seorang di antara mereka kemudian menggenggam tangan Aditya dengan erat. Tidak banyak kata yang diucapkan. “Terima kasih, Mas, semoga Allah membalas semua kebaikanmu.”
Ucapan itu menjadi kalimat yang paling diingatnya dari seluruh perjalanan di Mina. Ia mengaku tidak mampu segera menjawab. “Entah mengapa tenggorokan terasa tercekat.”
Menurut Oho, justru pada saat itu ia merasa malu. Apa yang ia lakukan, menurutnya, sangat kecil dibandingkan perjuangan kedua jemaah tersebut yang telah menunggu puluhan tahun untuk memenuhi panggilan Allah.

