Belajar menerima pertolongan
Ketika rangkaian puncak ibadah haji berakhir dan rombongan kembali ke Madinah, Jihan mengira fase paling berat dari penugasannya telah selesai. Hari-hari yang padat di Arafah, Muzdalifah, dan Mina telah dilewati. Ia membayangkan ritme pekerjaan akan mulai berkurang sehingga tubuh yang selama beberapa hari dipaksa terus bergerak memiliki kesempatan untuk memulihkan tenaga.
Perkiraan itu tidak berlangsung lama. Beberapa hari setelah kembali ke Madinah, tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Demam datang tanpa diduga. Mual tidak kunjung berhenti. Kepala terasa berputar, sementara setiap makanan dan minuman yang masuk seolah ditolak oleh tubuhnya. Energi yang selama ini menopang seluruh aktivitas perlahan menghilang hingga akhirnya ia hanya mampu terbaring di atas kasur.
“Hari berganti hari. Saya hanya bisa memandangi langit-langit kamar, mendengarkan langkah kaki teman-teman yang masih sibuk menjalankan tugas, sementara saya tak mampu melakukan apa-apa selain berdoa agar segera diberi kekuatan,” tuturnya.
Selama lebih dari sepekan kondisinya tidak kunjung membaik. Infus beberapa kali terpasang. Suntikan diberikan. Berbagai jenis obat dikonsumsi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Hasil pemeriksaan laboratorium kemudian menunjukkan adanya infeksi bakteri yang membuat kondisinya menurun drastis.
Di tengah sakit yang berkepanjangan itu, kerinduan kepada rumah dan keluarga menjadi ujian yang tidak ringan.
“Ada malam-malam ketika saya menarik selimut hingga menutupi wajah, bukan karena udara Madinah terasa dingin, melainkan karena saya tidak ingin seorang pun melihat air mata yang jatuh tanpa mampu saya bendung.”
Ia memilih menyimpan kesedihannya sendiri. Bukan karena merasa harus menghadapi semuanya sendirian, tetapi karena tidak ingin menjadi beban bagi rekan-rekannya yang masih harus berangkat meliput dan melayani jemaah setiap hari.
Ketika mereka bertanya mengenai kondisinya, jawaban yang selalu ia berikan tetap sama. “Insya Allah, besok sudah lebih baik.”
Padahal, di dalam dirinya sendiri, ia belum mengetahui kapan benar-benar dapat kembali menjalankan tugas.
Di tengah kebimbangan itu, ia teringat kepada dokter spesialis penyakit dalam yang selama ini menanganinya di Jakarta. Ia kemudian meminta keluarganya mengirimkan obat yang biasa dikonsumsinya ketika mengalami kondisi serupa.
Kiriman itu menjadi sesuatu yang sangat ia tunggu. Ketika obat tersebut akhirnya tiba di Madinah, ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. “Rasanya seperti menerima pelukan dari rumah.”
Perlahan tubuhnya mulai memberikan respons. Demam berangsur turun. Rasa mual mulai menghilang. Ia kembali mampu makan, kembali memiliki tenaga, dan akhirnya kembali mengenakan tanda pengenal petugas.
Yang paling ia syukuri bukan sekadar karena rasa sakit itu mulai meninggalkan tubuhnya. Ia dapat kembali menjalankan amanah yang sempat terhenti. Pengalaman itu memberinya pelajaran lain yang tidak kalah penting dibanding hari-hari ketika ia membantu jemaah di lapangan.
Saat sehat, ia terbiasa menjadi orang yang memberikan pertolongan. Saat sakit, ia belajar menerima pertolongan. Perhatian dari tenaga kesehatan, dukungan rekan-rekan, serta usaha keluarga mengirimkan obat dari Indonesia menjadi bagian dari perjalanan yang membantunya kembali berdiri.
“Saat itu saya memahami satu hal. Kadang Allah tidak menyembuhkan kita seketika karena Dia ingin mengajarkan bahwa di balik setiap rasa sakit, ada ruang untuk belajar bersabar,” kata Jihan.
Pelajaran itu melengkapi seluruh pengalaman yang ia peroleh selama 77 hari bertugas di Tanah Suci. Ia datang sebagai seorang jurnalis yang bertugas mengabarkan perjalanan ibadah haji kepada masyarakat Indonesia.
Di Madinah, ia belajar bahwa menyapa jemaah yang kebingungan juga merupakan bagian dari amanah. Di Mina, ia belajar bahwa mengalahkan ego sendiri dapat menjadi bentuk pelayanan yang paling membekas. Ketika sakit, ia belajar bahwa seorang petugas pun memiliki saat untuk menerima pertolongan dari orang lain.
Dan selama seluruh perjalanan itu, Jihan menemukan orang-orang yang saling menguatkan dalam menyelesaikan amanah bersama.
“Saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang tidak pernah berhitung ketika harus membantu. Tidak ada yang merasa pekerjaannya paling berat. Tidak ada yang sibuk mencari siapa yang paling berjasa. Yang ada hanyalah keinginan agar seluruh amanah dapat dituntaskan dengan sebaik-baiknya,” ungkapnya.
Pulang membawa cara pandang baru
Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa penyelenggaraan ibadah haji tidak pernah dijalankan oleh satu orang.Ada banyak tangan yang saling menopang. Ada banyak langkah yang berjalan beriringan. Ada banyak orang yang memilih mendahulukan amanah di atas kepentingan dirinya sendiri.
Ketika pesawat membawanya kembali ke Indonesia, ia memang pulang dengan membawa kumpulan liputan yang telah disiarkan kepada masyarakat. Namun, ada bekal lain yang menurutnya jauh lebih berharga. Ia pulang dengan hati yang belajar melihat profesinya dari sudut pandang yang berbeda.
Selama ini ia mengira tugas seorang jurnalis berhenti ketika berita selesai ditulis atau tayangan berhasil mengudara. Tanah Suci memperlihatkan kepadanya bahwa di sela-sela pekerjaan itu selalu ada ruang untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Ruang itu tidak selalu lahir melalui liputan besar atau peristiwa yang menjadi berita utama. Sering kali, ia hadir dalam tindakan-tindakan sederhana yang nyaris tidak pernah terekam kamera. Menawarkan bantuan kepada jemaah yang tersesat. Mendampingi lansia yang membutuhkan pertolongan. Atau memilih mengalahkan ego sendiri agar seorang tamu Allah dapat beristirahat dengan tenang.
Itulah pelajaran yang paling lama bersemayam dalam ingatan Jihan Novitasari setelah hampir tiga bulan berada di Tanah Suci.
Ia datang untuk meliput. Namun, ketika perjalanan itu berakhir, ia pulang dengan keyakinan bahwa selama menjalankan amanah haji, meliput dan melayani bukanlah dua jalan yang berbeda. Keduanya berjalan berdampingan, saling melengkapi, dan bersama-sama membentuk makna dari penugasan paling berharga yang pernah ia jalani.*
