MADINAH – Mahmud Ikhsan Fauzi tidak pernah membayangkan penyelenggaraan ibadah haji memiliki tingkat kompleksitas setinggi yang ia saksikan sendiri di Tanah Suci. Wartawan Metro TV yang bertugas sebagai anggota Media Center Haji (MCH) 2026 Daerah Kerja Madinah itu semula menganggap penyelenggaraan haji merupakan pekerjaan yang relatif sederhana.
Baginya, ibadah haji adalah kegiatan rutin yang telah berlangsung puluhan tahun sehingga pola pelayanannya pasti sudah terbentuk dengan baik dan nyaris tidak berubah dari satu musim ke musim berikutnya.
Pandangan itu berubah sejak ia terlibat langsung dalam operasional haji 1447 H/2026 M. Mahmud baru menyadari bahwa penyelenggaraan ibadah haji Indonesia merupakan salah satu operasi pelayanan publik dengan kompleksitas yang sangat tinggi.
Setiap tahun, lebih dari 221 ribu jemaah diberangkatkan dalam 527 kelompok terbang yang berasal dari 38 provinsi. Sebanyak 98,75 persen di antaranya baru pertama kali menunaikan ibadah haji, bahkan bagi sebagian jemaah, perjalanan tersebut juga menjadi pengalaman pertama mereka ke luar negeri.
Di balik angka itu, ada keragaman yang membuat pelayanan tidak pernah sesederhana yang dibayangkannya.
“Sebagian besar jemaah memiliki tingkat pendidikan menengah ke bawah sehingga informasi harus disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan berulang,” kata Mahmud.
Lebih dari 45 ribu jemaah merupakan kelompok lanjut usia dan berkebutuhan khusus yang membutuhkan pendampingan selama menjalankan ibadah. Tidak sedikit pula jemaah yang sehari-hari menggunakan bahasa daerah sehingga petugas kerap harus mencari cara agar informasi benar-benar dapat dipahami.
Pengalaman itu membuat Mahmud melihat penyelenggaraan haji dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Menurutnya, koordinasi, edukasi, hingga mengatur pergerakan jemaah tidak bisa disamakan dengan mengelola komunitas yang homogen.
“Perbedaan usia, kondisi kesehatan, kemampuan fisik, bahasa, budaya, hingga tingkat literasi digital membuat setiap pelayanan membutuhkan pendekatan yang berbeda,” ujarnya.
Ia kemudian memberikan contoh yang paling sederhana. Dalam komunitas yang homogen, proses naik dan turun bus mungkin dapat diselesaikan dalam waktu 10 hingga 20 menit.
Namun pada penyelenggaraan haji, proses tersebut memerlukan waktu lebih panjang karena di setiap bus hampir selalu terdapat jemaah lansia atau jemaah yang membutuhkan bantuan, baik untuk naik dan turun kendaraan maupun menggunakan kursi roda. Kondisi yang sama juga terjadi saat proses naik dan turun pesawat.
Namun, seluruh pemahaman itu baru benar-benar ia rasakan ketika memasuki fase Armuzna, terutama saat mabit dan lontar jumrah di Mina.
Sebelumnya, Mahmud mengira fase paling berat dalam penyelenggaraan ibadah haji adalah wukuf di Arafah atau mabit di Muzdalifah. Anggapan itu berubah setelah ia melihat langsung bagaimana pelayanan di Mina harus dilakukan di tengah jutaan orang yang bergerak hampir bersamaan.
Selama berada di Mina, jemaah harus berjalan kaki lebih dari 30 kilometer dalam rangkaian mabit dan lontar jumrah yang berlangsung selama empat hingga lima hari.
Seluruh rangkaian ibadah itu dijalani di tengah suhu yang dapat mencapai 42 hingga 43 derajat Celsius, sementara jutaan jemaah dari berbagai negara bergerak menuju lokasi yang sama.
Bagi Mahmud, yang paling membekas justru bukan panasnya cuaca ataupun jauhnya jarak yang harus ditempuh. Yang terus ia ingat adalah banyaknya jemaah Indonesia yang kelelahan hingga tidak sanggup melanjutkan perjalanan.
Sebagian lainnya terpisah dari rombongan setelah selesai melempar jumrah karena padatnya arus manusia. Mayoritas yang ia temui merupakan jemaah lanjut usia atau mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
Dalam situasi seperti itu, menurut Mahmud, petugas tidak cukup hanya memberikan arahan. Mereka harus turun langsung mendampingi, menenangkan jemaah yang kebingungan, mengantar mereka yang terpisah dari rombongan, hingga memastikan seluruhnya dapat kembali ke tenda masing-masing dengan selamat.
Untuk membantu jemaah yang sudah tidak mampu berjalan, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) juga mengerahkan belasan golf car yang beroperasi di kawasan Mina. Kendaraan itu digunakan untuk mengangkut jemaah lansia, jemaah yang kelelahan, maupun mereka yang tersesat agar dapat kembali ke tendanya dengan aman.
Tatapan yang sulit dilupakan
Bagi Mahmud, fase Armuzna memperlihatkan wajah lain dari penyelenggaraan ibadah haji. Di balik rangkaian ibadah yang dijalani lebih dari 221 ribu jemaah Indonesia, ada ribuan petugas yang terus bergerak memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal, kehilangan arah, atau tidak mampu melanjutkan perjalanan karena kelelahan.
Selama bertugas di Mina, ia berkali-kali menjumpai jemaah yang kehabisan tenaga setelah menempuh perjalanan panjang menuju dan dari lokasi lontar jumrah. Ada pula jemaah yang terpisah dari rombongannya sehingga tidak mengetahui jalan kembali ke tenda.
Dalam kondisi seperti itu, petugas harus segera mengambil tindakan, baik dengan mendampingi mereka berjalan kaki maupun memanfaatkan golf car yang disiagakan untuk membantu jemaah yang sudah tidak sanggup berjalan.
Pengalaman tersebut mengubah cara Mahmud memandang tugas seorang petugas haji. Baginya, pekerjaan itu bukan sekadar menjalankan fungsi operasional atau memastikan seluruh tahapan ibadah berlangsung sesuai jadwal, melainkan hadir ketika jemaah benar-benar membutuhkan pertolongan.
“Menjadi petugas haji bukan hanya tentang menjalankan tugas administratif atau operasional. Menjadi petugas haji adalah tentang hadir ketika jemaah membutuhkan pertolongan, memberikan rasa aman di tengah jutaan manusia, dan memastikan setiap langkah yang mereka tempuh menuju kesempurnaan ibadah selalu didampingi dengan pelayanan yang tulus,” ujarnya.
Mahmud mengaku bukan pribadi yang mudah mengekspresikan perasaan. Namun selama bertugas di Mina, ada banyak momen yang membuatnya tidak mampu menyembunyikan rasa haru ketika melihat jemaah yang kelelahan ataupun terpisah dari rombongannya.
“Saya bukan orang yang ekspresif, namun tak terhitung berapa kali mata berkaca-kaca saat melihat jemaah haji kelelahan dan terpisah dengan rombongan, apalagi saat jemaah lansia berterima kasih dengan tulus setelah kita berikan bantuan. Tatapan dan senyum tulus penuh terima kasih jemaah terasa hangat di mata,” tuturnya.
Bagi Mahmud, ucapan terima kasih dari para jemaah bukanlah tujuan utama dalam menjalankan tugas. Namun pengalaman mendampingi mereka hingga dapat kembali melanjutkan ibadah menjadi pelajaran yang paling membekas selama bertugas di Tanah Suci.
“Di Mina, saya belajar bahwa pelayanan terbaik tidak selalu diukur dari seberapa besar pekerjaan yang diselesaikan, tetapi dari seberapa banyak jemaah yang dapat dibantu untuk kembali tersenyum dan melanjutkan ibadahnya dengan tenang.”
Pengalaman itu pula yang membuatnya melihat Mina bukan hanya sebagai tempat bermalam dan melontar jumrah. Di tengah keterbatasan ruang, padatnya jutaan manusia, dan beratnya tantangan fisik, ia menyaksikan seluruh jemaah menjalani ibadah dalam kedudukan yang sama.
Menurut Mahmud Ikhsan Fauzi, semua mengenakan pakaian ihram yang sama, berjalan di jalan yang sama, merasakan panas yang sama, serta menjalani ujian yang sama.
Di sanalah ia melihat pejabat, pengusaha, akademisi, petani, pedagang, hingga masyarakat biasa saling berbagi air minum, saling membantu membawa barang, dan saling menguatkan ketika kelelahan.
“Bagi saya, Mina adalah tempat belajar tentang kesetaraan, kerendahan hati, dan makna kemanusiaan,” ujarnya.
“Di sanalah saya benar-benar memahami bahwa pada akhirnya kita semua hanyalah seorang hamba yang datang menghadap Allah dengan harapan yang sama, memperoleh ampunan, rahmat, dan menjadi haji yang mabrur,” tandasnya.*
