JAKARTA – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) terus mengkaji kesiapan Bandara Dhoho Kediri untuk menjadi embarkasi dan debarkasi haji baru. Kehadiran embarkasi tersebut diharapkan dapat mendukung operasional Embarkasi Surabaya sekaligus mengurangi kepadatan di Bandara Internasional Juanda.
Direktur Jenderal Pelayanan Haji Ian Heriyawan mengatakan, pengembangan embarkasi baru di Kediri merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan penyelenggaraan ibadah haji 1448 H/2027 M. Langkah itu juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf untuk terus meningkatkan layanan kepada jemaah haji Indonesia.
“Kehadiran embarkasi baru di Provinsi Jawa Timur, khususnya di Kediri, diharapkan dapat semakin meningkatkan kualitas pelayanan kepada jemaah sehingga mereka memperoleh layanan yang lebih mudah, aman, nyaman, dan efektif,” ujar Ian.
Menurut Ian, penetapan Bandara Dhoho sebagai embarkasi haji akan didasarkan pada kajian menyeluruh terhadap kesiapan infrastruktur, operasional bandara, serta ekosistem pelayanan haji yang terintegrasi.
Ia menjelaskan, pembentukan embarkasi harus memenuhi berbagai persyaratan, mulai dari fasilitas terminal, runway, apron, ruang tunggu keberangkatan dan kedatangan, ruang pelayanan jemaah, aksesibilitas, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya.
“Seluruh aspek tersebut harus dipastikan siap agar layanan kepada jemaah dapat berjalan optimal,” katanya.
Kaji layanan pendukung
Ian menegaskan, kesiapan embarkasi tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur bandara. Kemenhaj juga mengkaji kesiapan layanan pendukung, seperti fasilitas kesehatan, rumah sakit rujukan, akomodasi, serta sistem transportasi yang akan menunjang mobilitas jemaah saat keberangkatan maupun kepulangan.
“Kami memastikan layanan kesehatan bagi jemaah memiliki aksesibilitas yang baik menuju bandara maupun hotel embarkasi, termasuk kesiapan layanan kegawatdaruratan yang memenuhi standar pelayanan kesehatan,” tegasnya.
Dalam peninjauan tersebut, Ian didampingi Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Haji Abd. Haris dan Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Halis.
Sementara itu, Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Halis menilai Bandara Dhoho memiliki potensi besar untuk menjadi embarkasi haji baru. Terminal bandara seluas 25.857 meter persegi diproyeksikan mampu melayani sekitar 10.548 jemaah haji dari wilayah eks-Karesidenan Kediri serta sejumlah daerah di Jawa Timur bagian barat dan selatan.
Selain memiliki empat parking stand untuk pesawat berbadan lebar dan empat parking stand untuk pesawat berbadan sedang, Bandara Dhoho juga mampu melayani pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777-300 berkapasitas 413 penumpang maupun Airbus A330-300 berkapasitas 440 penumpang.
Halis menambahkan, Direktorat Jenderal Pelayanan Haji akan menyusun mitigasi serta peta jalan kesiapan embarkasi sebelum Bandara Dhoho dioperasikan sebagai embarkasi haji.
“Kami berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, serta seluruh pemangku kepentingan dapat mendukung terwujudnya embarkasi Dhoho,” kata Halis.
“Dukungan pembangunan akses tol menuju bandara, pelebaran jalan penghubung, serta penguatan layanan pendukung lainnya akan menjadi fondasi penting agar Embarkasi Dhoho menjadi wajah baru pelayanan haji Indonesia yang semakin berkualitas,” pungkasnya.*
