Karena itulah, ketika seluruh proses pengurusan paspor selesai, perasaan di dalam dirinya belum juga berubah. Ia tetap merasa berat menerima keputusan tersebut.
“Saya sempat nangis.”
Tangis itu bukan karena takut menjalankan tugas ataupun khawatir menghadapi perjalanan ke Arab Saudi. Sulthon mengatakan yang paling berat justru menerima kenyataan bahwa kesempatan itu berpindah kepadanya, sementara ada orang-orang yang menurutnya lebih pantas.
“Saya enggak mau berangkat. Berat hati.”
Ia mengaku berkali-kali mencoba meyakinkan dirinya sendiri agar kesempatan itu diberikan kepada orang lain. Namun setiap kali keinginan tersebut muncul, orang-orang terdekat justru mengingatkannya agar tidak menyia-nyiakan amanah yang sudah datang.
Ibunya termasuk orang yang paling mendorongnya untuk menerima keputusan tersebut. Menurut Sulthon, sang ibu tidak memahami mengapa anaknya justru ingin menolak kesempatan yang selama ini diimpikan banyak orang.
“Ibu saya bilang, kok ada kesempatan malah enggak mau berangkat.”
Di tengah kebimbangan itu, Sulthon akhirnya memilih berhenti melawan keadaan. “Ya sudah, saya nurut.”
Keputusan itu tidak langsung membuat hatinya tenang. Bahkan setelah paspor selesai dibuat dan seluruh berkas dikirim kepada pihak kementerian, ia masih merasa semua yang terjadi berjalan terlalu cepat.
Belum lama kemudian telepon kembali datang. Kali ini ia diminta segera berangkat ke Jakarta.
“Paspornya sudah jadi? Kalau sudah, langsung ke Jakarta sekarang.”
Sulthon kembali terkejut. Ia berharap masih memiliki waktu setidaknya satu hari untuk mempersiapkan keberangkatan. Namun yang diterimanya justru perintah agar segera berangkat supaya dapat menyusul pendidikan dan pelatihan yang sudah lebih dulu dimulai.
“Semisal berangkat besok boleh, kan? Biar bisa langsung ikut diklat.”
Harapan itu tidak menjadi kenyataan. Ia tetap diminta berangkat secepatnya karena sudah tertinggal dari peserta lain.
Semua berlangsung begitu cepat sehingga ia merasa seperti tidak memiliki kesempatan untuk benar-benar memikirkan keputusan yang baru saja diambilnya.
Dengan membawa seluruh kebimbangan itu, Sulthon akhirnya berangkat menuju Jakarta. Perjalanan menuju Pondok Gede menjadi perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bahkan ketika kereta yang ditumpanginya mulai meninggalkan Surabaya, perasaan berat itu masih belum sepenuhnya hilang. “Saya sampai nangis.”
Menurut Sulthon, saat itu ia terus mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa seandainya masih mungkin, ia lebih memilih orang lain saja yang berangkat menggantikannya.
Namun ketika akhirnya tiba di Asrama Haji Pondok Gede, ia menyadari bahwa seluruh proses itu sudah tidak mungkin diputar kembali.
Amanah itu kini berada di pundaknya. Dan untuk pertama kalinya sejak menerima telepon beberapa hari sebelumnya, Sulthon mulai belajar menerima bahwa kesempatan yang berkali-kali ingin ia tolak itu akhirnya benar-benar menjadi jalan yang harus ia jalani.
Belajar menerima amanah
Sesampainya di Asrama Haji Pondok Gede, Sulthon masih membawa perasaan yang sama. Ia memang sudah memutuskan berangkat, tetapi jauh di dalam dirinya masih tersisa pertanyaan mengapa kesempatan itu justru datang kepadanya.
Perasaan sungkan kepada kakaknya dan kepada wartawan-wartawan yang lebih senior belum benar-benar hilang. Namun, hari-hari yang ia jalani selama mengikuti pendidikan dan pelatihan perlahan mengubah cara pandangnya.
Di sana, ia mulai memahami bahwa menjadi petugas haji bukan sekadar soal berangkat ke Tanah Suci. Amanah itu menuntut kesiapan fisik, mental, dan kemampuan bekerja dalam tim.
Seluruh peserta harus mengikuti rangkaian kegiatan yang padat, mulai dari latihan fisik hingga pembekalan sesuai tugas dan fungsi masing-masing.
Bagi Sulthon, pengalaman itu menjadi proses untuk menerima amanah yang sebelumnya berusaha ia hindari.
Sedikit demi sedikit, ia mulai menyadari bahwa kesempatan tersebut bukan lagi tentang siapa yang paling senior atau siapa yang paling lama menjadi wartawan. Yang lebih penting adalah bagaimana amanah itu dijalankan dengan sebaik-baiknya ketika sudah diberikan.
Beberapa hari kemudian, rombongan petugas Media Center Haji akhirnya berangkat menuju Arab Saudi. Ia ditempatkan di Daerah Kerja Bandara.
Bagi Sultan, itu merupakan perjalanan pertamanya ke Tanah Suci. Sesampainya di Madinah, ada satu pengalaman sederhana yang hingga kini masih diingatnya.
Ia ingin berziarah ke makam Rasulullah SAW. Namun, sesederhana keinginan itu terdengar, Sultan justru tidak mengetahui letak makam Nabi. Ia mengaku sempat kebingungan karena mengira lokasi makam berada di tempat lain.
“Saya benar-benar tidak tahu makam Rasulullah itu di mana.”
Ia kemudian bertanya kepada orang lain untuk memastikan arah menuju Raudhah dan makam Rasulullah. Setelah mendapat penjelasan, barulah ia memahami bahwa tempat yang selama ini hanya ia lihat melalui buku, televisi, atau media sosial ternyata berada di dalam kompleks Masjid Nabawi.
Pengalaman itu membuatnya tersenyum ketika mengingatnya kembali. Ia merasa menjadi orang yang benar-benar baru pertama kali datang ke Tanah Suci, yang belum mengetahui banyak hal dan harus belajar dari awal.
Menurut Sultan, justru pengalaman-pengalaman sederhana seperti itulah yang membuat perjalanan hajinya terasa begitu berkesan.
Ia tidak datang sebagai orang yang sudah mengetahui segala sesuatu, melainkan sebagai seseorang yang belajar sedikit demi sedikit memahami tempat-tempat yang selama ini hanya dikenalnya dari cerita.
Ketika akhirnya bisa menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW, seluruh kebingungan yang sempat dirasakannya seolah terbayar. Bagi Sultan Neagara, momen itu menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas selama berada di Madinah.*
