MADINAH – Tidak semua petugas haji memiliki cerita tentang bagaimana mereka berjuang agar bisa berangkat ke Tanah Suci. Sulthon Neagara justru mengalami hal yang sebaliknya. Ketika kesempatan itu datang, ia berkali-kali berusaha menolaknya.
Bukan karena tidak ingin menjadi petugas haji, melainkan karena merasa ada orang lain yang jauh lebih pantas menerima amanah tersebut.
“Saya ini bisa dibilang satu-satunya petugas yang berkali-kali menolak berangkat,” ujarnya.
Kalimat itu ia ucapkan di awal perbincangan. Kalimat yang terdengar tidak lazim jika dibandingkan dengan cerita sebagian besar petugas haji lainnya.
Sulthon memang tidak pernah mengikuti seluruh proses seleksi sejak awal. Ia juga bukan orang yang mendaftarkan diri untuk menjadi petugas haji. Kesempatan itu justru datang ketika kursi yang semula diperuntukkan bagi orang lain tiba-tiba kosong.
Awalnya, yang dipersiapkan berangkat adalah kakaknya sendiri yang menjabat sebagai pemimpin perusahaan di media tempat Sulthon bekerja. Kakaknya bahkan sudah mengikuti pendidikan dan pelatihan di Asrama Haji Pondok Gede selama sehari.
Namun di tengah pelaksanaan diklat, ia harus kembali pulang karena tidak memperoleh izin dari instansi tempatnya bekerja sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kementerian Sosial.
“Baru diangkat, kok tiba-tiba harus izin tidak kerja dua puluh hari, lalu nanti izin lagi hampir tiga bulan. Ya tidak bisa,” kata Sulton menuturkan posisi kakaknya.
Keputusan itu membuat kesempatan menjadi petugas haji harus dilepaskan. Menurut Sulthon, ayahnya sangat terpukul. Saat itu sang ayah sedang menjalankan ibadah umrah bersama salah seorang kiai. Dari Tanah Suci, ayahnya berkali-kali menghubungi keluarga karena merasa sayang jika kesempatan tersebut akhirnya hilang begitu saja.
Bahkan, ayahnya sempat menawarkan untuk mengganti selisih penghasilan kakaknya apabila alasan bertahan di pekerjaan lamanya berkaitan dengan persoalan ekonomi.
Namun keputusan kakaknya tidak berubah. Ia tetap memilih mempertahankan pekerjaannya. Kesempatan itu pun kembali kosong.
Kesempatan yang selalu kembali
Beberapa waktu kemudian, pihak Kementerian Haji dan Umrah kembali menanyakan apakah masih ada nama lain yang dapat diajukan sebagai pengganti. Ayah Sulthon kemudian menyebut seorang wartawan lain yang pernah mengikuti seleksi petugas haji meski tidak lolos.
Namun nama itu juga tidak jadi diajukan. Menurut Sulthon, pertimbangannya bukan soal kemampuan jurnalistik, melainkan kemampuan menggunakan perangkat digital yang menjadi bagian penting dari tugas Media Center Haji.
“Waktu tes itu beliau masih tanya-tanya, ini gimana, ini gimana. Orangnya memang gaptek,” tutur Sulthon.
Sampai di titik itu, ia merasa persoalan tersebut sama sekali tidak lagi berkaitan dengan dirinya. Bahkan ketika kakaknya sempat berangkat mengikuti diklat, ia mengaku hanya menjadi penonton dari jauh.
Ia sama sekali tidak membayangkan bahwa beberapa hari kemudian namanya justru akan disebut sebagai calon pengganti. Padahal, ketika itu pengalaman Sulthon di dunia jurnalistik bahkan belum genap dua tahun.
“Terus terang saya di dunia media, di dunia jurnalistik belum genap dua tahun.”
Ia masih menganggap dirinya sebagai wartawan yang sangat muda. “Junior banget saya.”
Kesehariannya pun lebih banyak mengerjakan konten-konten ringan untuk media tempatnya bekerja: Harian Bangsa. Ia menulis berita harian seperti harga emas, harga sembako, hingga berbagai artikel mengenai pendakian gunung dan lingkungan, dua bidang yang memang menjadi kegemarannya.
Karena itu, ketika pada suatu pagi ayahnya mengatakan bahwa ada telepon dari pihak kementerian yang berkali-kali mencoba menghubunginya, Sulthon sama sekali tidak memiliki bayangan apa yang sedang terjadi.
Ayahnya hanya meminta Sulthon segera menghubungi nomor tersebut. Awalnya ia bahkan masih bertanya kepada istrinya apakah perlu menelepon kembali. Setelah merasa tidak ada salahnya menghubungi nomor itu, Sulthon akhirnya menelepon.
Percakapan yang terjadi justru membuatnya semakin bingung. Belum sempat ia mengatakan apa pun, suara di seberang telepon langsung menanyakan apakah ia sudah memiliki paspor.
“Sudah punya paspor?”
Sulthon menjawab belum. Jawaban itu langsung disambut dengan instruksi berikutnya.
“Kalau begitu sekarang bikin paspor. Yang satu hari jadi.”
Ia diminta segera mengirim foto KTP, mengurus paspor kilat, lalu mengirimkan hasilnya secepat mungkin.
Semuanya berlangsung begitu cepat. Sulthon bahkan mengaku tidak diberi ruang untuk mengatakan apakah dirinya bersedia atau tidak menerima tawaran tersebut.
“Seandainya beliau tanya dulu, ‘Kamu mau tidak jadi petugas haji?’ mungkin saya bisa menjawab. Tapi ini tidak. Langsung disuruh bikin paspor.”
Merasa belum pantas
Telepon itu berakhir, tetapi kebingungan Sulthon justru semakin besar. Ia langsung menemui ibunya untuk menanyakan bagaimana cara mengurus paspor kilat. Semua berlangsung serba mendadak. Sementara di dalam dirinya, belum ada keyakinan bahwa ia memang harus berangkat.
“Saya beberapa kali nolak. Tapi pada akhirnya ya sudah, saya nurut,” ujarnya.
Keputusan itu bukan lahir karena ia sejak awal menginginkan kesempatan tersebut. Justru sebaliknya, Sulthon mengaku berusaha mencari alasan agar orang lain saja yang berangkat menggantikannya.
Ada beberapa hal yang membuatnya sulit menerima amanah itu. Pertama, ia merasa tidak enak kepada kakaknya sendiri. Menurutnya, kakaknya sudah melalui proses yang jauh lebih panjang. Sudah mengikuti pendidikan dan pelatihan di Pondok Gede, tetapi akhirnya harus pulang karena persoalan izin kerja.
Di sisi lain, ia juga teringat kepada wartawan lain yang telah mengikuti seleksi petugas haji sejak awal.
“Kenapa bukan mereka? Kenapa malah saya?”
Pertanyaan itu terus muncul di dalam pikirannya.
“Saya enggak enak sama kakak. Ada wartawan yang sudah berusaha ikut tes, tapi enggak masuk. Terus ada kakak saya yang sudah berangkat, sudah ikut diklat, bahkan kemudian harus pulang. Kok malah saya dulu,” tuturnya.
Perasaan sungkan itu semakin besar karena Sulthon menganggap dirinya masih sangat baru di dunia jurnalistik. Pengalamannya belum genap dua tahun. Ia merasa masih banyak wartawan yang lebih senior, lebih berpengalaman, dan lebih layak memperoleh kesempatan menjadi petugas haji.
