MADINAH – Ribuan jemaah haji setiap hari melintasi kawasan di sekitar Masjid Nabawi. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa di salah satu sudut kawasan itu berdiri sebuah lokasi bersejarah yang menjadi saksi lahirnya kepemimpinan pertama umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Tempat itu adalah Saqifah Bani Saidah. Dalam bahasa Arab, saqifah berarti pendopo atau balai pertemuan. Pada masa Rasulullah SAW, bangunan sederhana itu menjadi tempat berkumpul kaum Anshar, penduduk asli Madinah, untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan masyarakat dan pemerintahan.
Mutowif sekaligus mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM) yang juga bertugas sebagai petugas MCH PPIH Arab Saudi 2026, Ibrohim Faddlanul Haq, menjelaskan Saqifah Bani Saidah memiliki posisi penting dalam sejarah Islam karena menjadi lokasi musyawarah yang menentukan khalifah pertama sepeninggal Rasulullah SAW.
Menurut Ibrohim, kisah itu bermula ketika Rasulullah SAW mengalami sakit yang semakin berat hingga akhirnya tidak lagi mampu memimpin shalat berjamaah di Masjid Nabawi. Dalam kondisi tersebut, Rasulullah SAW memerintahkan Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi imam shalat menggantikan beliau.
Saat Abu Bakar memimpin shalat, Rasulullah SAW sempat sadar dan membuka tirai rumahnya yang berdampingan dengan Masjid Nabawi. Beliau melihat umat Islam tetap bersatu dalam saf shalat di bawah kepemimpinan Abu Bakar.
“Beliau memberikan isyarat, lanjutkan shalat kalian. Karena beliau sudah nggak mampu lagi untuk menjadi imam,” tutur Ibrohim.
Keesokan harinya, Rasulullah SAW wafat di pangkuan istrinya, Aisyah RA. Kabar duka itu mengguncang Madinah. Banyak sahabat tidak percaya Rasulullah telah wafat, termasuk Umar bin Khattab yang sempat menolak kabar tersebut.
Situasi berubah ketika Abu Bakar ash-Shiddiq datang dan menyampaikan pidato yang kemudian menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan umat Islam.
Ia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang rasul yang juga akan meninggal sebagaimana para nabi sebelumnya, sementara Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.
Mendengar uraian Abu Bakar tersebut, Umar bin Khattab tersadar dan menerima kenyataan bahwa Rasulullah SAW telah wafat.
Meski demikian, jenazah Rasulullah SAW belum langsung dimakamkan. Menurut Ibrohim, saat itu umat Islam menghadapi persoalan yang jauh lebih mendesak, yakni menentukan siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan umat.
Kaum Anshar kemudian berkumpul di Saqifah Bani Saidah untuk bermusyawarah memilih pengganti Rasulullah SAW. Mereka sempat mengusulkan Sa’ad bin Ubadah sebagai pemimpin dari kalangan Anshar.
Mendengar kabar itu, Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab segera mendatangi Saqifah Bani Saidah. Dalam musyawarah tersebut, Abu Bakar mengingatkan sabda Rasulullah SAW bahwa kepemimpinan umat berada di tangan kaum Quraisy.
Alih-alih mengajukan dirinya sendiri, Abu Bakar justru menawarkan Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai calon pemimpin. Namun Umar menolak dan menilai Abu Bakar adalah sosok yang paling layak memimpin umat karena menjadi orang pertama yang membenarkan dakwah Rasulullah SAW, menemani hijrah ke Madinah, serta dipercaya menjadi imam shalat ketika Rasulullah sakit.
Di lokasi itulah Umar bin Khattab kemudian membaiat Abu Bakar ash-Shiddiq. Baiat tersebut diikuti kaum Muhajirin dan Anshar hingga akhirnya keesokan harinya Abu Bakar secara resmi ditetapkan sebagai khalifah pertama dalam sejarah Islam.
Baru setelah kepemimpinan umat dipastikan, Rasulullah SAW dimakamkan di rumah Aisyah RA, yang kini berada di kawasan Raudhah, Masjid Nabawi.
Bagi Ibrohim, Saqifah Bani Saidah bukan sekadar bangunan bersejarah di sekitar Masjid Nabawi. Tempat itu menjadi simbol bahwa pergantian kepemimpinan dalam Islam ditempuh melalui musyawarah, dialog, dan kesepakatan bersama di tengah situasi paling genting yang pernah dihadapi umat Islam.*
