Tanpa menunggu perintah
Bagi Sukarjo, membantu orang lain tidak selalu harus menunggu instruksi. Prinsip itu ia pegang selama bertahun-tahun menjadi tenaga pendukung haji.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika ia bertugas di bandara Jeddah pada musim haji 2016. Saat itu ia menemukan seorang jemaah lansia pengguna kursi roda yang tertinggal sendirian. Rombongannya sudah pergi dan tidak ada seorang pun yang mendampinginya.
Kondisi jemaah tersebut memprihatinkan. Ia tidak mampu mengurus dirinya sendiri dan membutuhkan bantuan segera. Tanpa menunggu arahan, Karjo langsung mengambil inisiatif.
Ia membawa jemaah tersebut ke toilet, membantu membersihkan tubuhnya, memandikannya, dan memastikan kondisinya kembali nyaman. Seragam yang dikenakannya ikut kotor saat membantu jemaah tersebut.
Namun ia tidak mempermasalahkan hal itu. “Kalau baju kotor tinggal dicuci. Yang penting jemaahnya terurus,” ujarnya.
Peristiwa itu masih diingatnya hingga sekarang karena meninggalkan kesan mendalam. Ia mengaku terharu melihat seorang lansia yang seharusnya mendapatkan pendampingan justru tertinggal seorang diri di tengah kesibukan operasional haji.
Jemaah yang kehilangan arah
Pengalaman serupa kembali ia rasakan pada musim haji tahun ini. Saat bertugas di Mina, Karjo beberapa kali membantu jemaah yang kebingungan mencari tenda. Awalnya ia hanya hendak menuju toilet setelah menyelesaikan pekerjaan. Namun langkahnya terhenti ketika ada seorang jemaah yang meminta bantuan menunjukkan lokasi tenda.
Setelah jemaah pertama selesai diantar, muncul jemaah lain yang mengalami kebingungan serupa. Kemudian datang lagi jemaah berikutnya. Begitu terus berulang. “Sampai mau ke toilet saja tidak jadi-jadi karena terus mengantar jemaah,” katanya sambil tertawa.
Sebagian besar merupakan jemaah lanjut usia yang kesulitan mengingat nomor maktab atau mengenali lokasi tendanya di tengah padatnya kawasan Mina. Bagi Karjo, membantu mereka adalah sesuatu yang wajar. Ia merasa keberadaannya di sana memang untuk membantu siapa saja yang membutuhkan.
Bekerja dengan tenang dan ikhlas
Setelah lebih dari tiga puluh tahun hidup di Arab Saudi dan hampir dua puluh tahun menjadi bagian dari penyelenggaraan haji Indonesia, Karjo memiliki pandangan sederhana tentang pekerjaan.
Menurutnya, pekerjaan akan terasa lebih ringan jika dijalani dengan tenang. Karena itu, ia selalu berusaha menghindari emosi ketika menghadapi tekanan pekerjaan.
“Kerjaan sebanyak apa pun harus tenang. Kalau emosi, pekerjaan tidak akan selesai dengan baik,” katanya.
Prinsip lain yang selalu ia pegang adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, baik ada atasan yang melihat maupun tidak. Baginya, ukuran keberhasilan bukanlah pujian atau penghargaan, melainkan keberkahan dari pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas.
“Kalau ada bos atau tidak ada bos, saya tetap kerja. Yang penting pekerjaan selesai dan rezeki yang kita dapat menjadi berkah,” ujarnya.
Prinsip itu pula yang membuatnya terus bertahan hingga hari ini.
Ketika ditanya apakah masih ingin kembali bertugas pada musim haji mendatang, jawabannya datang tanpa ragu. “Insya Allah, kalau masih diberi kesempatan dan masih kuat.”
Bagi Sukarjo Kardi Yasin, menjadi tenaga pendukung haji bukan sekadar pekerjaan musiman. Setelah puluhan tahun hidup di Tanah Suci, ia memahami bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk jabatan besar atau posisi yang terlihat publik.
Terkadang pengabdian justru hadir dalam pekerjaan-pekerjaan sederhana yang jarang mendapat perhatian, tetapi sangat dibutuhkan agar pelayanan kepada jemaah tetap berjalan dengan baik.
Dan selama tenaga itu masih ada, ia akan terus melakukan hal yang sama seperti yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun: bekerja dengan tenang, membantu tanpa banyak bicara, dan memastikan ada seseorang yang selalu hadir ketika bantuan dibutuhkan.*
