MADINAH – Di tengah kesibukan operasional haji Indonesia di Arab Saudi, ada banyak orang yang bekerja jauh dari sorotan. Mereka tidak berdiri di depan kamera, tidak memberikan keterangan pers, dan tidak pula dikenal oleh sebagian besar jemaah. Namun, pekerjaan mereka menjadi bagian penting yang membuat seluruh pelayanan berjalan sebagaimana mestinya.
Salah satu di antaranya adalah Sukarjo Kardi Yasin. Pria asal Madura, Jawa Timur, itu tahun ini kembali dipercaya menjadi tenaga pendukung PPIH Arab Saudi di Daerah Kerja Madinah. Tugasnya berada di bagian pramusaji dan kebersihan, sebuah pekerjaan yang sering kali dianggap sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki peran penting dalam mendukung operasional sehari-hari.
Setiap pagi, sebelum sebagian besar petugas memulai aktivitasnya, Karjo—demikian panggilan akrabnya—sudah lebih dahulu bekerja. Ia memastikan ruangan kantor dalam kondisi bersih, menyiapkan kebutuhan konsumsi, memeriksa kamar-kamar yang akan digunakan tamu, hingga membantu berbagai kebutuhan lain yang muncul sepanjang hari.
“Tugas saya membersihkan kamar, membersihkan kantor, menyapu, mengepel, membersihkan meja. Kalau ada tugas lain, ya mengantar makanan dan camilan ke sektor-sekotr,” tuturnya.
Bersama lima rekannya, Karjo bekerja dalam sistem shift selama 12 jam. Ia mendapat giliran pagi, mulai pukul 07.00 hingga 19.00 waktu Arab Saudi. Dalam praktiknya, jam kerja itu sering kali lebih panjang, terutama ketika jadwal rapat padat atau distribusi makanan mengalami keterlambatan.
Baginya, situasi seperti itu sudah menjadi bagian dari rutinitas. Ketika ada rapat, ia harus memastikan seluruh kebutuhan peserta tersedia sebelum acara dimulai. Ruangan harus bersih, air minum harus tersedia, dan makanan ringan sudah tersusun rapi di meja. Ketika rapat selesai, ia kembali bertugas membersihkan ruangan dan menyiapkannya untuk agenda berikutnya.
Di luar itu, ada pula pekerjaan lain yang tidak kalah penting. Jika ada kamar yang baru ditinggalkan penghuninya, Karjo dan tim harus segera membersihkannya karena tidak lama kemudian kamar tersebut akan ditempati tamu berikutnya.
Pekerjaan itu mungkin tidak terlihat besar. Namun bagi Karjo, semua harus dilakukan dengan cepat dan tepat karena menyangkut kenyamanan banyak orang yang sedang menjalankan tugas pelayanan haji.
18 tahun jadi petugas haji
Musim haji tahun ini bukanlah pengalaman pertama bagi Karjo. Ia sudah terlibat dalam penyelenggaraan haji Indonesia di Tanah Suci sejak 2008. Selama hampir dua dekade, ia pernah bertugas di berbagai lokasi, mulai dari Makkah, Madinah, hingga bandara.
Setiap tahun ia harus mengikuti proses seleksi dan tes seperti calon tenaga pendukung lainnya. Namun berkat pengalaman yang dimiliki, ia terus mendapat kepercayaan untuk kembali bertugas.
Banyak hal yang telah ia lihat selama bertahun-tahun mengikuti operasional haji. Ia menyaksikan perubahan sistem pelayanan, pergantian petugas, hingga berbagai dinamika yang selalu muncul setiap musim haji.
Karena itulah, ketika ditanya mengenai kesibukan selama musim haji, Karjo hanya tersenyum. “Kalau saya sudah biasa. Sesibuk apa pun ya tetap dikerjakan karena memang tugas,” ujarnya.
Menurutnya, masa paling sibuk biasanya terjadi menjelang fase Armuzna. Saat itu berbagai kebutuhan petugas dan jemaah meningkat dalam waktu yang hampir bersamaan. Distribusi makanan menjadi lebih padat, koordinasi semakin intensif, dan ritme kerja meningkat tajam dibanding hari-hari biasa.
Meski demikian, ia mengaku tidak pernah terlalu memikirkan berat atau ringannya pekerjaan. “Kalau kerja ya kerja. Mau ramai atau tidak ramai tetap harus selesai.”
Perjalanan panjang seorang perantau
Jauh sebelum menjadi tenaga pendukung haji, Karjo adalah seorang perantau yang datang ke Arab Saudi pada 1995. Saat itu usianya masih muda dan harapannya sederhana: mencari penghidupan yang lebih baik untuk keluarga di kampung halaman.
Namun kehidupan tidak langsung berpihak kepadanya. Sesampainya di Arab Saudi, ia justru mengalami masa-masa yang sangat berat. Selama delapan bulan, ia tidak memiliki pekerjaan tetap. Tidak ada penghasilan, tidak ada kepastian. Hari-harinya diisi dengan mencari peluang kerja sambil berusaha bertahan hidup.
Kondisi ekonomi yang sulit membuatnya sering kali tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan. Ia mengaku sering berpuasa karena memang tidak ada yang bisa dimakan.
Bagi sebagian orang, mungkin situasi itu terasa mustahil. Namun itulah kenyataan yang harus ia hadapi ketika pertama kali merantau ke Tanah Suci. Dalam masa-masa sulit tersebut, ia banyak menghabiskan waktu untuk berdoa. Ia meminta agar Allah memberikan jalan keluar dan membuka pintu rezeki yang belum terlihat. Doa itu akhirnya terjawab.
Merawat orang lumpuh
Kesempatan itu datang ketika seseorang menawarkan pekerjaan untuk merawat seorang pria Arab yang mengalami kelumpuhan. Pekerjaan tersebut tidak mudah. Setiap hari Karjo harus membantu seluruh kebutuhan orang tersebut, mulai dari memandikan, membersihkan tubuh, membantu berpindah tempat, hingga mendampingi aktivitas sehari-hari.
Ia mengaku beberapa kali menangis ketika menjalani pekerjaan tersebut. Bukan karena merasa terbebani. Melainkan karena melihat kondisi orang yang harus menjalani hidup dalam keterbatasan fisik.
Namun dari pekerjaan itulah kehidupannya mulai berubah. Pria Arab yang dirawatnya ternyata mempercayainya sepenuh hati. Kepercayaan itu kemudian meluas kepada keluarga besar sang majikan. Karjo diberi tanggung jawab yang semakin besar, termasuk membantu mengurus hotel milik keluarga tersebut.
Lambat laun, ia mulai memahami dunia usaha, belajar mengelola pekerjaan, dan memperoleh pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia bahkan sempat membuka usaha sendiri dan mempekerjakan beberapa orang.
Meski usaha itu pada akhirnya mengalami pasang surut, pengalaman tersebut menjadi bekal berharga yang membentuk karakter dan cara pandangnya hingga hari ini.

