Gurun yang mengajarkan kesabaran
Sebelum berangkat, Hasyim tidak memiliki gambaran yang utuh tentang Arab Saudi. Ia belum pernah umrah. Belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Karena itu, ketika pertama kali merasakan panas gurun, kesan yang muncul begitu kuat. “Panas gurun seperti menembus kulit,” ujarnya.
Namun panas itu justru membawanya pada satu pemikiran lain. Ia membayangkan bagaimana beratnya perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat ketika menyebarkan Islam di tanah yang keras dan panas seperti ini.
Kesadaran itu membuatnya melihat ibadah haji dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa haji bukan hanya perjalanan fisik. Tetapi juga latihan kesabaran. Latihan menahan diri. Juga latihan mengendalikan ego.
Cara Allah memanggil
Bagi Hasyim, haji adalah perjalanan spiritual. Puncak dari perjalanan seorang Muslim dalam menyempurnakan rukun Islam. Namun tahun ini ia datang bukan sebagai jemaah. Ia datang sebagai petugas. Datang untuk bekerja, untuk melayani. Dan justru dari sanalah ia menemukan makna yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat bertugas di berbagai titik operasional haji, ketika membantu jemaah, ketika mengamati perjuangan para lansia, ketika berdiri di tengah jutaan manusia yang bergerak menuju tujuan yang sama, Hasyim merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. “Saya merasa ini mungkin cara Allah memanggil kita,” katanya.
Melalui tugas, pengabdian, dan pelayanan. Ia bersyukur karena dari amanah itu, Allah juga memberinya kesempatan untuk menyempurnakan ibadah hajinya sendiri. Kesempatan yang mungkin tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Musim haji suatu saat akan berakhir. Hasyim akan kembali ke Makassar. Kembali ke ruang redaksi. Kembali menulis berita dan menjalani rutinitas jurnalistiknya. Ia juga akan pulang menemui istri dan menyambut kelahiran anak yang sejak awal musim haji sudah dinantikannya.
Namun ada satu pelajaran yang akan terus ia bawa pulang dari Tanah Suci. Bahwa manusia sesungguhnya sangat kecil di hadapan Allah. Bahwa seluruh pencapaian hidup tidak pernah lepas dari campur tangan-Nya.
Dan bahwa menjadi pelayan tamu Allah adalah nikmat yang tidak semua orang memperoleh kesempatan untuk merasakannya. “Sekarang saya merasa harus lebih banyak bersyukur.”
Sebab di antara jutaan manusia yang datang memenuhi panggilan Allah, ada sebagian kecil orang yang dipilih untuk membantu perjalanan mereka. Dan Hasyim Arfah merasa menjadi salah satu orang yang beruntung itu.
Seorang jurnalis dari Makassar yang datang ke Tanah Suci untuk bertugas, lalu pulang dengan keyakinan bahwa setiap langkah hidup—sejauh apa pun perjalanannya—selalu berada dalam genggaman Allah.*
