MADINAH — Kalimat itu terdengar sederhana. Diucapkan seorang pramugari sesaat sebelum pesawat mendarat di bandara Jeddah. “Selamat datang di Arab Saudi.”
Namun bagi Hasyim Arfah, kalimat tersebut terasa berbeda.
Di balik jendela pesawat, hamparan gurun mulai terlihat. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menginjakkan kaki di negeri yang selama ini hanya dikenalnya dari buku sejarah Islam.
Sebagai editor di Tribun Timur Makassar, Hasyim terbiasa menyaksikan berbagai peristiwa penting dalam kehidupan orang lain. Ia menulis cerita tentang banyak orang. Namun kali ini, ia sedang menjalani salah satu peristiwa terpenting dalam hidupnya sendiri.
Untuk pertama kalinya datang ke Arab Saudi. Untuk pertama kalinya melihat langsung tanah tempat sejarah Islam dibangun. Dan untuk pertama kalinya mengemban amanah sebagai anggota Media Center Haji (MCH) 2026 Daker Bandara dalam penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.
Saat pesawat benar-benar menyentuh landasan, ada satu perasaan yang sulit ia jelaskan. Perasaan bahwa dirinya sedang berada di tempat yang selama ini hanya hadir dalam doa.
Doa orang tua
Jika ditanya apa yang membuatnya sampai ke titik ini, Hasyim tidak menyebut kecerdasan, pengalaman jurnalistik, atau keberuntungan. Ia justru menyebut satu kalimat sederhana: berbakti kepada orang tua.
“Saya merasa yang paling berpengaruh adalah bakti kepada orang tua. Mungkin karena doa orang tua juga sehingga saya bisa sampai ke sini,” ujarnya.
Kalimat itu lahir dari perjalanan hidup yang tidak selalu mudah. Ia tidak lahir dari keluarga berada. Tidak tumbuh dalam kemewahan. Hidupnya dipenuhi perjuangan sebagaimana kebanyakan keluarga Indonesia lainnya.
“Kami bukan keluarga ningrat. Hidup kami penuh perjuangan,” tuturnya.
Meski keluarganya memiliki beberapa warisan, Hasyim mengaku tidak pernah bergantung padanya. Ia memilih bekerja, berusaha, dan menjalani hidup dengan caranya sendiri.
Dari situlah ia belajar bahwa setiap pencapaian selalu memiliki harga yang harus dibayar. Dan salah satu harga terbesar itu harus ia bayar menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci.
Meninggalkan istri yang hamil
Di rumah, seseorang sedang menunggu. Bukan hanya menunggu kepulangannya. Tetapi juga sedang menunggu kelahiran seorang anak. Saat mendapat amanah menjadi petugas haji, istri Hasyim sedang mengandung enam bulan.
Itu menjadi keputusan paling berat yang harus diambil sebelum berangkat ke Arab Saudi. Di saat banyak suami memilih mendampingi istri yang memasuki masa-masa akhir kehamilan, Hasyim justru harus berangkat ribuan kilometer meninggalkan rumah demi menjalankan amanah sebagai petugas haji.
“Keputusan terbesar sebelum berangkat adalah meninggalkan istri yang sedang hamil enam bulan,” katanya.
Beberapa minggu setelah musim haji berakhir, anak mereka diperkirakan lahir. Artinya, sebagian masa-masa penting menjelang kelahiran harus ia lewati dari kejauhan. Namun amanah tetap harus dijalankan.
Dan seperti banyak kisah pengabdian lainnya, selalu ada orang-orang yang ikut berkorban di belakang layar. Dalam kisah Hasyim, orang itu adalah istrinya. “Alhamdulillah, istri mengizinkan,” ujarnya.
Kalimat sederhana yang menyimpan banyak makna. Ada kepercayaan, keikhlasan, juga doa yang mungkin tak pernah diketahui orang lain. Selain itu, ada pula pengorbanan lain yang harus dijalani.
Sebagai peserta seleksi dari Makassar, ia harus mengeluarkan biaya sendiri untuk mengikuti berbagai tahapan tes. Waktu bekerja juga harus dikorbankan demi mempersiapkan diri menghadapi proses seleksi yang panjang. Namun semua itu terasa kecil dibanding kesempatan yang akhirnya datang.
Belajar dari para lansia
Sebagai anggota MCH Daker Bandara, Hasyim menghabiskan banyak waktunya di titik pertama kedatangan jemaah Indonesia. Di sana ia menyaksikan berbagai wajah. Ada yang tersenyum, ada yang menangis. Ada pula yang langsung mengangkat tangan berdoa begitu menjejakkan kaki di Tanah Suci.
Namun ada satu pemandangan yang selalu membuatnya berhenti sejenak. Melihat para jemaah lansia turun dari pesawat. “Momen yang paling menyentuh ketika melihat jemaah lansia tiba dan berjuang melaksanakan ibadah haji,” ungkapnya.
Di wajah-wajah yang dipenuhi keriput itu, Hasyim melihat perjalanan panjang yang tidak sederhana. Dengan pelbagai kendala yang dihadapi, mereka tetap berangkat. Tetap datang memenuhi panggilan Allah.
Pemandangan itu membuatnya berkali-kali merenung. Bahkan yang paling membuat hatinya tersentuh adalah ketika melihat para jemaah yang wafat di Tanah Suci. Bagi Hasyim, setiap jemaah membawa cerita perjuangannya sendiri. Dan setiap cerita selalu menyisakan pelajaran.
