Pelayan tamu Allah
Bagi Faqihu, pengalaman paling berkesan selama berada di Tanah Suci bukanlah ketika menunaikan ibadah untuk dirinya sendiri. Melainkan ketika bisa membantu jemaah.
Ia pernah mengantar jemaah yang lupa arah menuju terminal. Menjelaskan fungsi kartu kendali. Menenangkan jemaah yang takut menggunakan kursi roda karena didorong orang asing. Membantu memperbaiki masalah AC. Membantu membuka pintu kamar hotel. Dan berbagai persoalan lain yang mungkin terdengar sepele.
Namun justru hal-hal kecil itulah yang sering kali paling dibutuhkan jemaah. Yang membuatnya tersentuh adalah ketulusan para jemaah itu sendiri. Banyak dari mereka menunggu belasan bahkan puluhan tahun untuk berhaji.
“Ada yang berjalan tertatih-tatih, ada yang menggunakan kursi roda, tetapi tetap semangat beribadah,” katanya.
Berkali-kali ia melihat pemandangan itu. Dan berkali-kali pula matanya terasa basah. Karena di wajah para lansia itu ia melihat sesuatu yang sangat jarang ditemukan di tempat lain: keteguhan.
Yang membuat Faqihu semakin menghormati para jemaah justru bukan semata perjuangan fisik mereka, melainkan kedisiplinan yang ditunjukkan selama menjalani ibadah.
Di lapangan, ia menyaksikan sendiri bagaimana sebagian besar jemaah Indonesia berusaha mematuhi arahan petugas, mengikuti aturan yang telah ditetapkan, dan menjaga ketertiban di tengah situasi yang sering kali padat dan melelahkan. Bagi petugas, sikap seperti itu sangat membantu.
“Saya secara pribadi mengapresiasi seluruh jemaah haji Indonesia yang telah mematuhi arahan pemerintah dan petugas. Berkat kedisiplinan mereka, kami lebih mudah mengarahkan jemaah sehingga pelayanan bisa berjalan maksimal,” katanya.
Menurut Faqihu, para jemaah tahun ini telah menunjukkan contoh yang baik bagi penyelenggaraan haji Indonesia di masa mendatang. Meski demikian, ia menyadari bahwa pelayanan haji tidak pernah berlangsung tanpa kekurangan.
Di tengah jutaan manusia yang bergerak dalam waktu hampir bersamaan, selalu ada situasi yang tidak berjalan sempurna. Karena itulah, di akhir masa tugasnya, Faqihu justru memilih menyampaikan permohonan maaf.
“Saya pribadi memohon maaf kepada seluruh jemaah haji Indonesia apabila dalam pelayanan kami kurang maksimal, kurang lembut dalam bertutur kata, atau ada perilaku yang menyinggung jemaah, baik disengaja maupun tidak disengaja,” ucapnya.
Kalimat itu lahir bukan karena ia merasa gagal menjalankan tugas. Sebaliknya. Kalimat itu lahir dari kesadaran bahwa melayani manusia selalu menyisakan kekurangan. Bahwa sekeras apa pun petugas berusaha, selalu ada ruang yang bisa diperbaiki.
Tentu, ia tidak menutup mata bahwa di lapangan ada sebagian kecil jemaah yang merasa sudah berpengalaman sehingga kurang mematuhi aturan atau arahan petugas. Namun jumlahnya sangat kecil dibanding mayoritas jemaah yang kooperatif dan disiplin.
“Secara umum mereka mudah diatur dan diarahkan.”
Karena itu, ketika mengenang musim haji tahun ini, yang paling sering ia ingat bukanlah persoalan-persoalan kecil yang muncul di lapangan, melainkan semangat para jemaah untuk tetap beribadah di tengah segala keterbatasan.
Kemabruran yang sesungguhnya
Sebelum datang ke Tanah Suci, Faqihu Sholih memahami kemabruran sebagaimana diajarkan dalam berbagai kitab fikih. Bahwa haji yang mabrur dapat menghapus dosa-dosa seorang hamba. Namun setelah melihat langsung perjuangan para jemaah, pemahamannya berubah.
Ia mulai menyadari bahwa kemabruran bukan sekadar selesainya rangkaian ibadah. Kemabruran adalah perubahan setelahnya. Perubahan cara berpikir. Perubahan cara memandang hidup. Perubahan cara memperlakukan sesama manusia.
Di hadapan Ka’bah, ia menyaksikan bagaimana jabatan, kekayaan, dan status sosial kehilangan maknanya. Semua orang mengenakan pakaian yang sama. Berjalan menuju tujuan yang sama. Dan memohon kepada Tuhan yang sama.
“Yang paling penting adalah hati yang tunduk dan amal yang diterima Allah,” ujarnya.
Karena itu, ketika ditanya apa yang sebenarnya ia cari di Tanah Suci, jawabannya sederhana. Bukan penghargaan, bukan pengakuan, bukan pula kebanggaan karena pernah menjadi petugas haji.
“Saya datang ke Tanah Suci untuk mencari ridha Allah melalui pelayanan kepada para tamu-Nya.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi seorang anak petani yang pernah menggembala sapi demi membantu ibunya menghidupi tiga adik, perjalanan dari pematang sawah menuju pelataran Masjidil Haram adalah bukti bahwa takdir sering kali bekerja dengan cara yang tidak pernah bisa ditebak manusia.
Dan mungkin benar seperti yang diyakininya selama ini. Bahwa ada doa-doa lama yang tidak pernah hilang. Hanya menunggu waktu terbaik untuk dikabulkan.*
