MADINAH – Di tengah hiruk-pikuk persiapan kepulangan jemaah haji Indonesia di bandara Madinah, Siti Sunarti tampak sibuk memastikan barang bawaannya lengkap. Perempuan asal Kebumen yang tergabung dalam Kloter KJT 21 itu mengaku tidak banyak yang dipersiapkan menjelang pulang ke Tanah Air.
“Yang disiapkan apa ya? Paling ini, oleh-oleh untuk orang-orang. Persiapan doa sudah,” katanya sambil tersenyum, saat ditemui di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Azis (AMAA) Madinah, Selasa (16/6/2026).
Bagi Siti, musim haji tahun ini menjadi pengalaman yang tak akan mudah dilupakan. Ini adalah kali pertama dirinya menunaikan rukun Islam kelima setelah menunggu selama tujuh tahun.
Penantian itu sebenarnya tidak ia jalani sendirian. Ia berangkat bersama sang ibu yang lebih dulu mendaftar haji pada 2012. Melalui mekanisme penggabungan mahram, Siti yang baru mendaftar pada 2017 akhirnya bisa berangkat lebih cepat mendampingi ibunya.
“Saya kebetulan saya kan penggabungan sama ibu. Jadi saya nunggu tujuh tahun. Bisanya sama ibu. Jadi ibu saya nunggunya 12 tahun,” tuturnya.
Di balik keberangkatan itu, tersimpan kisah lain yang membuat perjalanan hajinya terasa lebih bermakna. Awalnya, sang ibu mendaftar bersama suaminya. Namun kondisi kesehatan sang ayah membuat rencana itu harus berubah.
“Bapak sakit, sebetulnya daftarnya sama bapak. Tapi belum bisa berangkat tahun ini,” ungkapnya.
Tangis di depan Kakbah
Seperti jutaan muslim lainnya, Siti menyimpan kerinduan besar untuk bisa berdiri di hadapan Kakbah. Ketika momen itu akhirnya datang, air mata tak lagi bisa dibendung.
“Saya terharu dan menangis,” katanya singkat, sementara bulir air mata tiba-tiba jatuh di wajahnya.
Di depan bangunan berbentuk kubus itu, Siti memanjatkan banyak doa. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.
“Saya minta ampunan atas segala dosa. Untuk keluarga, untuk orang tua, dan anak-anak,” ujarnya.
Dua suasana berbeda
Selama berada di Tanah Suci, Siti juga merasakan perbedaan suasana antara dua kota suci umat Islam. Baginya, Makkah adalah kota yang penuh dinamika dan kesibukan. Sementara Madinah menghadirkan ketenangan yang berbeda.
“Kalau Makkah itu kan sibuk. Kalau Madinah itu lebih tenang, kalau menurut saya,” katanya.
Ketenangan itu pula yang membuatnya merasa lebih nyaman saat beribadah di Kota Nabi.
Petugas yang memudahkan
Siti mengaku cukup terkesan dengan pelayanan haji yang diterimanya selama di Arab Saudi. Menurutnya, keberadaan petugas yang siaga membuat berbagai urusan jemaah menjadi lebih mudah.
“Kalau sekarang kan petugas haji udah banyak, jadi apa-apa jadi mudah,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti respons cepat petugas kesehatan ketika ada jemaah yang mengalami gangguan kesehatan. “Kalau ada yang sakit, dokter langsung menanggapi.”
Kini, setelah seluruh rangkaian ibadah selesai, Siti bersiap meninggalkan Madinah menuju Tanah Air. Bersama koper yang berisi oleh-oleh dan kenangan, ia membawa pulang satu harapan sederhana.
“Semoga menjadi haji yang mabrur. Ke depannya bisa lebih baik lagi,” ucapnya.
Sebuah doa yang mungkin juga diaminkan oleh ribuan jemaah lain yang sedang bersiap pulang dari Tanah Suci.*
