Cinta di usia senja
Di sela-sela tugasnya sebagai petugas MCH, Dian banyak bertemu dengan jemaah dari berbagai daerah. Ia mendengar cerita tentang penantian puluhan tahun, tentang tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, tentang pasangan lansia yang akhirnya bisa berangkat bersama setelah melewati sebagian besar hidup mereka berdampingan.
Anehnya, bukan cerita yang besar-besar yang paling membekas dalam ingatannya. Justru hal-hal sederhana. Seperti melihat pasangan suami istri lanjut usia berjalan pelan di tengah keramaian.
Sang suami menggenggam tangan istrinya agar tidak terpisah. Sang istri menyesuaikan langkah agar suaminya tidak tertinggal. Tidak ada percakapan yang istimewa. Tidak ada adegan dramatis. Tetapi pemandangan itu selalu membuat Dian berhenti sejenak.
“Yang paling berkesan justru melihat jemaah yang sudah lanjut usia tapi masih saling menjaga dan saling melengkapi,” tuturnya.
Di tengah jutaan orang yang datang untuk beribadah, ia melihat bentuk cinta yang sangat sederhana: menemani sampai akhir usia.
Mungkin karena itu pula perjalanan ini perlahan mengubah banyak hal dalam dirinya. Bukan perubahan yang besar dan tiba-tiba. Bukan perubahan yang bisa langsung dilihat orang lain. Tetapi perubahan cara memandang diri sendiri. Perubahan cara mengelola emosi. Perubahan cara menghadapi keadaan yang tidak selalu sesuai harapan.
Sebelum datang ke Tanah Suci, Dian tidak pernah membayangkan dirinya bisa sekuat itu menghadapi kelelahan fisik, cuaca yang berbeda, dan ritme aktivitas yang nyaris tanpa jeda. Namun pengalaman di Arab Saudi membuatnya sadar bahwa manusia sering kali memiliki kemampuan yang lebih besar daripada yang ia kira.
“Di sini ternyata kita bisa sesabar itu,” ujarnya.
Kalimat yang sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang besar.
Sebab pada akhirnya, yang paling sering diuji selama berhaji bukanlah kaki yang harus terus berjalan atau tubuh yang harus bertahan menghadapi panas. Yang paling sering diuji justru hati: seberapa sabar seseorang menghadapi keadaan, seberapa mampu ia mengendalikan dirinya sendiri, dan seberapa tulus ia menerima segala sesuatu yang terjadi.
Versi diri yang baru
Menjelang musim haji berakhir, Dian tidak berbicara tentang oleh-oleh yang akan dibawa pulang. Ia juga tidak berbicara tentang tempat-tempat yang berhasil ia kunjungi.
Yang ingin ia bawa pulang justru sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke dalam koper: kebiasaan baik, kesabaran, kemampuan untuk lebih mengenali diri sendiri. Dan perasaan dekat dengan Allah yang ia temukan selama berada di Tanah Suci.
Sebab setelah seluruh perjalanan ini, Dian merasa bahwa haji bukan tentang menjadi manusia yang sempurna. Haji adalah kesempatan untuk jujur melihat diri sendiri, mengakui segala kekurangan yang ada, lalu pulang dengan tekad untuk menjadi sedikit lebih baik daripada sebelumnya.
Barangkali karena itulah pertanyaan yang dulu terus mengganggunya perlahan menemukan jawabannya sendiri. Bukan melalui ceramah. Bukan melalui buku. Melainkan melalui air mata yang jatuh setiap kali ia memandang Ka’bah.
Air mata yang mengingatkannya bahwa kadang-kadang Allah tidak meminta seseorang datang dalam keadaan sempurna. Allah hanya meminta seseorang datang dengan hati yang bersedia diperbaiki.*
