2 months ago
4 mins read

Kisah Petugas Haji: Pertanyaan yang Dijawab Air Mata

Dian Palupi, Anggota MCH 2026 Daker Makkah. (Foto: MCH 2026)

MAKKAH — Ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar diucapkan Dian Palupi kepada siapa pun sebelum berangkat ke Arab Saudi. Pertanyaan itu tidak tertulis dalam buku manasik, tidak dibahas dalam rapat persiapan petugas, dan tidak pula muncul dalam percakapan sehari-hari dengan teman-temannya sesama jurnalis.

Pertanyaan itu hanya berputar-putar di kepalanya sendiri. “Apakah saya pantas berada di sini?”

Ketika sebagian orang mempersiapkan perjalanan ke Tanah Suci dengan daftar perlengkapan dan rencana ibadah, jurnalis RTV yang bertugas sebagai anggota Media Center Haji (MCH) Daker Makkah itu justru sibuk bernegosiasi dengan kegelisahannya sendiri. 

Ia membayangkan haji sebagai ibadah yang besar, penuh aturan, penuh ketentuan, sementara dirinya merasa bukan orang yang memiliki bekal pengetahuan agama yang istimewa.

“Sebelum berangkat mikirnya lebih kepada pantes nggak ya, mampu nggak ya,” kenangnya.

Apakah pantas berada di sini?
Bagi Dian, kegelisahan itu bukan soal fisik. Ia tidak terlalu memikirkan cuaca Arab Saudi yang terkenal panas atau ritme kerja petugas haji yang sering kali menguras tenaga. Yang membuatnya cemas justru sesuatu yang tidak terlihat: apakah dirinya cukup layak untuk berada begitu dekat dengan tempat-tempat yang selama ini hanya dikenal melalui cerita, foto, dan siaran televisi.

Ia khawatir melakukan kesalahan. Khawatir tidak memahami aturan dengan baik. Khawatir tidak mampu menjalani semua proses sebagaimana mestinya. Namun sesampainya di Tanah Suci, sesuatu yang tidak ia duga terjadi. Alih-alih menemukan jawaban atas semua pertanyaannya, ia justru menemukan ketenangan.

Perlahan-lahan rasa takut itu seperti kehilangan bentuk. Di tengah jutaan manusia yang datang dari berbagai negara, dengan bahasa yang berbeda-beda dan latar belakang yang beragam, Dian menyadari bahwa semua orang sedang berdiri pada posisi yang sama: sebagai hamba yang datang memenuhi panggilan Tuhan. 

“Begitu sampai ke sini, lebih pasrah aja. Bismillah,” ujarnya.

Barangkali karena itulah, pengalaman yang paling membekas bagi Dian bukanlah kemegahan bangunan atau keramaian manusia yang memenuhi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Yang paling membekas justru perasaan yang muncul ketika ia berdiri di hadapan Ka’bah untuk pertama kalinya.

Air mata yang tak selesai
Ia masih mengingat momen itu dengan jelas. Tidak ada kalimat yang panjang. Tidak ada doa yang rumit. Yang ada hanya rasa tak percaya. “Ya Allah, kok bisa sampai sini,” ucapnya.

Dan seperti banyak orang yang akhirnya tiba di titik yang selama ini hanya mereka impikan, Dian menangis. Tangisan itu ternyata tidak berhenti pada hari pertama.

Sampai hari ini, setiap kali melihat Ka’bah, air mata itu masih datang. Bukan karena sedih. Bukan pula karena sedang menghadapi masalah. Melainkan karena ada rasa syukur yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

“Sekali melihat Ka’bah pasti masih nangis,” tuturnya.

Pengalaman serupa ia rasakan ketika berada di Raudhah. Tiga kali mendapat kesempatan masuk ke tempat yang disebut Rasulullah sebagai taman surga itu, tiga kali pula ia keluar dengan mata yang basah.

Begitu pula ketika pertama kali menunaikan salat di Masjid Nabawi. Ia menangis. Lagi. Dan lagi. Jika dipikir-pikir, tidak ada peristiwa besar yang terjadi saat itu. Tidak ada mukjizat yang terlihat. Tidak ada kejadian luar biasa yang bisa direkam kamera.

Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Karena sebagian pengalaman spiritual memang tidak membutuhkan penjelasan yang rumit. Ia hanya hadir, mengetuk hati seseorang, lalu mengubah cara pandangnya terhadap hidup.

“Haji buat saya lebih kepada pengalaman spiritual. Lebih dekat sama Allah. Lebih ke koneksi pribadi untuk refleksi dan perbaikan diri,” kata Dian.

Komentar

Your email address will not be published.

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Go toTop

Jangan Lewatkan

Kemenhaj Perkuat Kemitraan Rantai Pasok Haji dengan Saudi

JAKARTA – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mendorong penguatan kemitraan strategis

Kemenhaj Teguhkan Nasionalisme Lewat Doa Kebangsaan

JAKARTA – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengikuti Doa dan Zikir
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88