MADINAH — Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Dahnil Anzar Simanjuntak meminta seluruh petugas haji tetap siaga dalam melayani jemaah gelombang kedua yang mulai tiba di Madinah setelah menyelesaikan rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Menurut Dahnil, fase Armuzna merupakan rangkaian ibadah yang paling menguras tenaga jemaah. Bahkan, banyak kasus kematian jemaah haji terjadi setelah fase tersebut akibat kondisi fisik yang terus menurun.
“Muzdalifah, kemudian Mina itu menguras energi luar biasa. Bahkan tingkat kematian banyak terjadi itu justru setelah fase Armuzna,” kata Dahnil usai lari pagi di Masjid Quba, Madinah (6/6/2026).
Ia menjelaskan, berbeda dengan jemaah gelombang pertama yang lebih dahulu beristirahat di Madinah sebelum menuju Makkah, jemaah gelombang kedua justru datang ke Madinah setelah menjalani seluruh tahapan puncak haji. Jumlah jemaah gelombang kedua yang akan tiba di Madinah diperkirakan mencapai sekitar 100 ribu orang.
Setibanya di Kota Nabi, sebagian besar jemaah Indonesia juga memiliki tradisi menjalankan ibadah Arbain, yakni melaksanakan salat wajib berjamaah di Masjid Nabawi selama delapan hari berturut-turut.
“Nah, itu akan memunculkan kelelahan. Makanya saya menyampaikan kepada petugas agar tetap jangan kendor istilahnya,” pesannya.
Faktor kesehatan
Dahnil juga menekankan sektor kesehatan menjadi perhatian utama. Ia memperkirakan kunjungan jemaah ke klinik sektor maupun Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) akan meningkat seiring menurunnya kondisi fisik jemaah.
“Karena pasti kunjungan di klinik sektor di hotel, dan klinik di KKHI itu pasti tinggi,” katanya.
Ia meminta para dokter dan tenaga kesehatan haji meningkatkan kesiapsiagaan. “Dokter-dokter haji yang menjadi petugas itu harus standby 25 jam. Istilah saya itu 25 jam.”
Menurut Dahnil, gejala seperti pilek, flu, dan demam mulai banyak dialami jemaah akibat kelelahan dan cuaca panas ekstrem.
Selain layanan kesehatan, ia juga meminta kualitas konsumsi jemaah tetap dijaga agar kebutuhan gizi terpenuhi secara optimal selama berada di Madinah.*
