MADINAH — Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia sekaligus Amirul Hajj, Mochamad Irfan Yusuf, mengungkapkan dua fokus utama evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M, yakni pelayanan jemaah di Mina dan penguatan aspek kesehatan. Kedua hal tersebut akan menjadi perhatian utama dalam persiapan penyelenggaraan haji 2027.
Pernyataan itu disampaikan Menhaj saat berdialog dengan tim Media Center Haji (MCH) Daker Madinah, Kamis (4/6/2026). Menurutnya, berakhirnya fase puncak haji bukan berarti tugas pelayanan telah selesai.
“Selesainya puncak haji bukan berarti selesainya pelayanan haji. Saya minta PPIH tidak kendor,” ujar Gus Irfan.
Ia mengaku menerima banyak apresiasi atas penyelenggaraan haji tahun ini, baik dari jemaah maupun berbagai pihak. Namun, menurutnya, kualitas layanan harus tetap dijaga hingga jemaah terakhir tiba di Indonesia pada 1 Juli 2026.
“Saya minta kepada semua tim untuk tetap terus menjaga kualitas pelayanan pada jemaah sampai pada tanggal 1 Juli di mana semua jemaah sudah sampai di Indonesia,” katanya.
Mina jadi catatan utama
Dalam evaluasi awal yang dilakukan Kementerian Haji dan Umrah, layanan di Mina menjadi perhatian terbesar. Menurut Menhaj, karakteristik Mina yang lebih padat dan masa tinggal jemaah yang lebih lama membuat berbagai persoalan lebih kompleks dibandingkan Arafah.
“Dari berbagai evaluasi yang kita lakukan, kita mempunyai dua poin yang perlu peningkatan. Pertama tentang situasi di Mina, kedua tentang kesehatan,” ujarnya.
Ia mengakui belum sepenuhnya puas dengan layanan di Mina pada musim haji tahun ini dan menilai masih diperlukan pembenahan dalam pengaturan pergerakan maupun kenyamanan jemaah.
Angka kematian turun
Selain Mina, aspek kesehatan juga menjadi fokus evaluasi. Menurut Menhaj, angka kematian jemaah haji Indonesia tahun ini turun signifikan dibandingkan musim haji sebelumnya.
“Kita sudah bekerja keras tentang kesehatan, terbukti angka kematian turun jauh. Hampir 50 persen,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan capaian tersebut belum sepenuhnya memuaskan. Pemerintah masih akan memperkuat sistem kesehatan jemaah, termasuk evaluasi terhadap layanan Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).
Menhaj mengungkapkan pihaknya tengah mengkaji efektivitas keberadaan KKHI seiring perubahan regulasi Arab Saudi yang tidak lagi memperbolehkan fasilitas tersebut memberikan layanan rawat inap.
“Kalau tidak boleh rawat inap, ya ngapain kita bikin KKHI. Sehingga kita berpikiran ada klinik satelit, kemudian langsung ke rumah sakit,” ujarnya.
Apresiasi dari Arab Saudi
Gus Irfan juga mengungkapkan penyelenggaraan haji Indonesia tahun ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Arab Saudi. Sejak awal operasional haji, sejumlah pejabat tinggi Saudi disebut memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan haji Indonesia.
Menurutnya, apresiasi tersebut terlihat dari sejumlah pertemuan tingkat tinggi yang diterima delegasi Indonesia, termasuk dengan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, Menteri Dalam Negeri Arab Saudi, hingga kunjungan langsung Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi ke tenda jemaah Indonesia di Mina.
“Mereka datang ke tenda Mina khusus menyampaikan sekali lagi apresiasi kepada Indonesia yang telah istilah mereka melakukan lompatan yang luar biasa untuk tahun ini,” tuturnya.
Bersiap hadapi haji 2027
Di tengah proses pemulangan jemaah, Kementerian Haji dan Umrah juga mulai menyiapkan penyelenggaraan haji 2027. Menurut Menhaj, Pemerintah Arab Saudi telah menyampaikan sejumlah aturan baru, termasuk penggunaan platformNusuk dan sistem pembayaran berbasis e-wallet dalam seluruh kontrak layanan haji.
Selain itu, Saudi juga telah menetapkan garis waktu penyelenggaraan haji tahun depan yang mengharuskan seluruh proses persiapan dilakukan lebih awal.
“Kementerian Haji RI akan membuat timeline haji 2027 yang sesuai dengan timeline yang didapat dari Pemerintah Arab Saudi,” kata Gus Irfan.
Ia menambahkan, kuota dasar haji Indonesia untuk sementara tetap menggunakan angka tahun ini, yakni sekitar 221 ribu jemaah, sembari menunggu keputusan lebih lanjut dari otoritas Arab Saudi.
Meski mendapat banyak apresiasi, Menhaj menegaskan pihaknya tidak ingin cepat berpuas diri. Fokus utama pemerintah, kata dia, tetap pada peningkatan kualitas pelayanan dan penyempurnaan berbagai kekurangan yang masih ditemukan selama musim haji 2026.
“Target awal kami memang fokus pada perbaikan pelayanan, terutama hasil evaluasi terhadap haji tahun sebelumnya,” ia menegaskan.*
