MAKKAH — Program pemotongan hewan kurban dan dam melalui Adahi terus diperkuat oleh Pemerintah Arab Saudi dengan sistem pengelolaan modern, pengawasan ketat, serta distribusi yang menjangkau puluhan negara, termasuk Palestina. Pada musim haji 1447 H/2026 M, sekitar 150 ribu jemaah haji Indonesia tercatat menunaikan dam melalui saluran resmi tersebut.
Humas Adahi, Talal Abdullah al-Harbi, menjelaskan program Adahi dibentuk untuk mengatasi persoalan pemotongan hewan yang sebelumnya tidak terkelola dengan baik. Sebelum program itu berjalan, pemotongan hewan dilakukan tanpa pengawasan terpusat sehingga banyak daging yang tidak dapat dimanfaatkan dan berakhir membusuk.
Menurut Talal, program Adahi mulai dijalankan pada 1403 Hijriah (1982 Masehi) pada masa Raja Fahd. Seiring waktu, sistem pengelolaannya terus berkembang hingga terintegrasi dengan platform digital Nusuk yang memungkinkan jemaah melakukan transaksi dan pemantauan melalui telepon genggam.
Setiap hewan yang akan disembelih, kata Talal, terlebih dahulu menjalani pemeriksaan fisik dan kesehatan oleh dokter hewan untuk memastikan kelayakannya sesuai standar kesehatan dan syariat. Setelah proses penyembelihan, pemeriksaan kembali dilakukan guna memastikan daging aman untuk dikonsumsi.
“Adahi saat ini mengoperasikan tujuh lokasi pemotongan yang berdiri di atas lahan hampir satu juta meter persegi. Dengan dukungan teknologi dan sistem produksi modern, proses penyembelihan dapat dilakukan dalam waktu sekitar tujuh detik per ekor kambing,” jelasnya, Senin (1/6/2026).
Talal menyebut pada jam pertama setelah Shalat Idul Adha tahun lalu, sebanyak 27 ribu ekor kambing berhasil diproses. Sepanjang musim haji tahun lalu, jumlah hewan yang diproses mencapai satu juta ekor, sementara tahun ini ditargetkan meningkat menjadi 1,2 juta ekor.
Sejak berdiri, program Adahi telah menyalurkan daging ke 27 negara dan menghasilkan sekitar 300 ribu ton daging yang memberikan manfaat bagi lebih dari 30 juta orang. Negara penerima antara lain Palestina, Yaman, dan sejumlah negara di Afrika.
“Sebanyak 60 persen daging didistribusikan di dalam Arab Saudi, sedangkan 40 persen lainnya disalurkan ke berbagai negara penerima manfaat di luar negeri,” ungkap Talal.
Untuk memastikan seluruh hasil pemotongan termanfaatkan secara maksimal, Adahi menerapkan sistem pengolahan terpadu. Seluruh limbah organik, termasuk jeroan yang tidak digunakan, diolah menjadi pupuk melalui teknologi khusus. Sementara itu, tidak ada daging yang dibuang karena seluruh hasil pemotongan masuk ke rantai distribusi.
Dalam proses penyimpanan, Adahi menggunakan teknologi pembekuan cepat dengan suhu hingga minus 80 derajat Celsius yang mampu membekukan daging dalam waktu 30 hingga 40 menit. Produk daging kemudian dikemas dalam bentuk beku seberat tiga kilogram menggunakan nitrogen agar tetap segar dan dapat bertahan hingga satu tahun.
“Selain daging beku, Adahi juga memproduksi daging siap saji dalam kemasan kaleng seberat 400 gram yang ditujukan untuk wilayah terpencil maupun negara yang sedang mengalami konflik,” lanjut Talal.
Ia menambahkan, sebagian besar hewan kurban didatangkan dari negara-negara Afrika. Sebelum dikirim ke Arab Saudi, hewan menjalani pemeriksaan kesehatan dan syariat oleh dokter hewan di negara asal. Setelah tiba di Jeddah, pemeriksaan ulang dilakukan sebelum hewan ditempatkan di kandang karantina selama dua bulan menjelang penyembelihan.
Dam jemaah haji Indonesia
Sementara itu, Koordinator Bidang Bimbingan Ibadah dan Dam PPIH Arab Saudi, M. Afief Mundzir, mengatakan pelaksanaan dam jemaah haji Indonesia tahun ini berjalan baik melalui saluran resmi yang ditetapkan otoritas Arab Saudi.
“Pada tahun ini jemaah haji kita itu bisa menyalurkan damnya melalui saluran resmi yang ditetapkan oleh otoritas Kerajaan Arab Saudi melalui Adahi. Jumlahnya tentu sangat besar dan ini menjadi pembuktian pada saat pelaksanaan ibadah haji dikelola oleh Kementerian Haji dan Umrah,” ujarnya.
Afief menambahkan, hingga saat ini jumlah jemaah Indonesia yang menunaikan dam melalui Adahi mendekati 150 ribu orang.
“Jadi bisa kami himpun kurang lebih di angka 150 ribu sekian, jemaah haji kita yang melaksanakan damnya melalui Adahi. Dan itu jumlah yang sangat luar biasa banyaknya,” katanya.
Menurut Afief, pengelolaan dam melalui mekanisme resmi menjadi bagian dari upaya meningkatkan akuntabilitas, kenyamanan, dan keamanan layanan bagi jemaah haji Indonesia.
Ia juga mengungkapkan bahwa daging dam dari jemaah Indonesia diprioritaskan untuk disalurkan kepada masyarakat Palestina sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.
“Daging dam dari jemaah haji Indonesia untuk ada prioritas ke kawan-kawan kita, saudara-saudara kita yang ada di Palestina. Tadi kawan-kawan media juga sudah ikut bersama menyaksikan bagaimana komitmen Adahi. Bagaimana daging dam ini bisa diserahkan dan disalurkan untuk saudara-saudara kita yang ada di Palestina,” ujar Afief.
Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi nilai tambah bagi pelaksanaan ibadah haji Indonesia karena tidak hanya memenuhi kewajiban syariat, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat yang membutuhkan.*
