MAKKAH — Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 menggelar Konsolidasi Akbar jelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Konsolidasi yang digelar di Makkah itu dihadiri jajaran pimpinan Kementerian Haji dan Umrah RI, petugas sektor, ketua kloter, hingga unsur pelayanan haji lainnya.
Ketua PPIH Arab Saudi 2026, Ian Heryawan, mengatakan konsolidasi dilakukan untuk memastikan kesiapan seluruh petugas dalam menghadapi fase paling krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji.
“Kami mengharapkan solidaritas dan loyalitas dari rekan-rekan sekalian yang bekerja. Dan kami mengapresiasi apa yang sudah dikerjakan oleh bapak dan ibu sekalian untuk memberikan yang terbaik bagi jemaah haji kita,” kata Ian Heryawan, Minggu malam (24/5/2026).
Ia menyebut sebanyak 552 petugas yang terdiri dari ketua kloter, ketua sektor, dan kepala daerah kerja hadir dalam konsolidasi tersebut. Sementara sebagian petugas lainnya telah berada di Arafah untuk melakukan pengecekan akhir kesiapan tenda dan fasilitas jemaah.
“Alhamdulillah rekan-rekan kita sebagian sudah menempati pos, khususnya di Arafah. Dan sekarang sedang checkingterakhir kesiapan tenda untuk saudara-saudara kita yang akan menempati tenda baik di Arafah maupun Muzdalifah,” ujarnya.
Ian menegaskan pihaknya ingin memastikan seluruh jemaah mendapatkan hak pelayanan dengan baik selama berada di Armuzna.
“Kami ingin memastikan bahwa seluruh jemaah haji mendapatkan haknya masuk ke dalam tenda dan bisa beribadah dengan khusyuk, aman, dan nyaman,” katanya.
Ia mengingatkan seluruh petugas agar tidak patah semangat menghadapi berbagai tantangan pelayanan di lapangan, termasuk persoalan konsumsi, transportasi, dan kesehatan jemaah.
“Ketidaksempurnaan itu adalah bagian dari kesempurnaan kita sebagai hamba. Jangan berkecil hati, jangan sampai patah semangat,” pesan Ian.
Menurut dia, kritik dan evaluasi dari berbagai pihak harus dijadikan bahan penyempurnaan layanan selama fase puncak haji berlangsung.
“Apa yang kita terima, koreksi, kritikan, saran, itu adalah bagian penyempurnaan ibadah,” katanya.
Patuhi komando
Ian juga menekankan pentingnya kepatuhan petugas terhadap sistem komando dan pengendalian pergerakan jemaah. Ia menyebut seluruh pergerakan jemaah menuju Arafah akan dimulai sejak pukul 07.00 waktu Arab Saudi.
“Pergerakan jemaah akan sangat tergantung kepada pengendalian, khususnya para ketua kelompok dan ketua rombongan,” ujar Ian.
Sementara itu, Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Abdul Aziz Ahmad, menyebut penyelenggaraan ibadah haji setiap tahun selalu menghadapi tantangan. Namun ia menilai pelaksanaan haji tahun ini menunjukkan banyak perbaikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Kami menganggap bahwa setiap tahun penyelenggaraan haji itu selalu saja ada masalahnya. Saya kira tidak pernah ada penyelenggaraan ini yang tanpa masalah,” kata Aziz.
Meski demikian, ia menilai sejumlah persoalan besar yang sebelumnya kerap muncul berhasil ditekan pada penyelenggaraan haji tahun ini. “Sekarang, alhamdulillah itu tidak ada masalah. Jadi itu juga prestasi,” ujarnya.
Aziz juga meminta seluruh unsur PPIH menjaga koordinasi dan tidak berjalan sendiri-sendiri dalam melayani jemaah.
Apresiasi terhadap PPIH
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Haji dan Umrah RI sekaligus Amirulhaj, Mochamad Irfan Yusuf, meminta seluruh petugas mempertahankan kualitas pelayanan yang selama ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak.
“Banyak apresiasi. Tak hanya orang Indonesia tapi teman-teman dari luar Indonesia juga mengapresiasi. Pertahankan,” kata Gus Irfan.
Ia mengibaratkan fase Armuzna sebagai injury time yang menentukan keberhasilan pelayanan haji Indonesia tahun ini. Menhaj juga menegaskan seluruh petugas harus bekerja dalam satu komando dan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
“Semua harus masuk dalam satu komando, satu data, satu instruksi, dan satu pintu kerja. Tidak boleh ada tumpang tindih petugas. Tidak boleh ada layanan yang tidak jelas penanggung jawabnya,” tegas Menhaj.
Menurut dia, fokus utama pelayanan selama Armuzna adalah memastikan kebutuhan dasar jemaah terpenuhi, mulai dari konsumsi, distribusi air minum, layanan kesehatan, hingga pengendalian mobilitas jemaah.
“Pastikan air minum cukup. Bila keterlambatan terjadi, jangan sampai jemaah mengalami dehidrasi,” pesannya.
Ia juga meminta petugas tetap tenang dalam menghadapi situasi di lapangan agar tidak memicu kepanikan di kalangan jemaah.
“Dalam situasi apa pun, petugas tidak boleh panik. Kepanikan petugas akan membuat jemaah lebih panik,” ujarnya.
Di akhir arahannya, Amirulhaj meminta seluruh petugas menjaga semangat pelayanan hingga seluruh rangkaian ibadah haji selesai.
“Sukses layanan haji ditentukan melalui pelayanan ramah dan kerja sama seluruh petugas,” tandas Menhaj.*
