Pada 2021, Emirates National Oil Company (ENOC) milik UEA memenangkan tender swap 84 ribu ton minyak bakar Irak dengan 30 ribu ton minyak bakar Grade B dan 33 ribu ton gas oil untuk Lebanon. Pada 2024, Oman LNG melakukan sekitar dua tender swap per bulan, dengan kargo Atlantik asal AS dikirim ke Spanyol sementara Oman mengirim LNG-nya ke pelanggan Asia.
Semua contoh itu menunjukkan bahwa negara-negara Teluk dan perusahaan energi nasional mereka memiliki keahlian untuk menjalankan swap intra-GCC.
Cara paling praktis menerapkan skema ini adalah membentuk fasilitas swap energi melalui mekanisme kliring terkoordinasi antara perusahaan minyak nasional, kilang regional utama, trader terpilih, perusahaan asuransi, bank, serta pembeli utama di Asia dan Eropa. Fungsinya adalah mencocokkan kewajiban pengiriman yang terhambat dengan alternatif pengiriman, lalu menyelesaikan nilai transaksinya di kemudian hari.
Asuransi untuk Masa Depan
Penerapan mekanisme swap membutuhkan upaya besar untuk operasionalisasi, belum lagi tingkat kemauan politik, kepercayaan, dan tekad bersama yang tinggi. Selain itu, secara fisik infrastruktur GCC saat ini belum mampu sepenuhnya mengalihkan volume ekspor yang biasanya melewati Selat Hormuz.
Dalam jangka pendek, skema swap berarti Saudi, Oman, dan UEA harus mengorbankan sebagian pendapatan serta pangsa pasar demi membantu Qatar, Bahrain, dan Kuwait dengan menyediakan kapasitas ekspor, penyimpanan, atau transportasi. Namun dalam jangka panjang, semua pihak akan diuntungkan.
Panggilan paling penting tertuju kepada Arab Saudi yang memiliki opsi terbesar untuk menghindari Hormuz sekaligus menyediakan pasokan minyak terbesar. Kredibilitas Saudi di mata pelanggan, pengenalan global terhadap jenis minyak Saudi, infrastruktur ekspor Laut Merah, dan kapasitas perdagangan Aramco menjadikannya pilar utama sistem swap masa depan.
Dengan melengkapi perannya sebagai pengatur pasar dalam OPEC/OPEC+ melalui kepemimpinan di GCC, Riyadh dapat membantu menstabilkan pasar dengan menanggung pengiriman prioritas bagi pembeli strategis.
UEA juga bisa memainkan peran penting melalui kapasitas ekspornya di Fujairah. Oman pun demikian, dengan kapasitas penyimpanan minyak di Ras Markaz, kapasitas kilang di Duqm, pengalaman LNG, serta pelabuhan yang dapat menerima dan mengirim kargo tanpa harus melintasi Selat Hormuz.
Jika skema swap diterapkan, hal itu dapat memperkuat persatuan GCC dan membantu anggota menghindari rivalitas ekonomi internal di masa depan. Lebih penting lagi, langkah ini bisa mendorong pembangunan infrastruktur regional yang lebih besar untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz sekaligus menurunkan nilainya sebagai alat geopolitik yang dapat digunakan melawan negara-negara Teluk.
Jika tersedia mekanisme swap dan infrastruktur yang berfungsi baik setiap kali ancaman penutupan muncul, pelanggan akan lebih percaya diri melanjutkan hubungan dengan seluruh pemasok Teluk. Dalam jangka panjang, ini dapat menjadi “asuransi” GCC terhadap gejolak baru di kawasan.*
Nikolay Kozhanov, Profesor asosiasi riset di Gulf Studies Center, Qatar University.
Dr. Şaban Kardaş, Profesor riset sekaligus koordinator program di Gulf Studies Center, Qatar University.
