MADINAH — Layanan kargo haji yang disediakan Pos Indonesia mulai menjadi solusi bagi jemaah haji Indonesia yang ingin mengirim barang ke tanah air tanpa harus membawanya langsung saat kepulangan.
Petugas Kargo Haji Pos Indonesia, Abdul Ghani, menjelaskan layanan ini telah berjalan sejak 2024 dan kini memasuki tahun ketiga operasional. Respons jemaah pun disebut sangat positif.
“Kargo Haji ini diselenggarakan oleh Pos Indonesia untuk warga negara Indonesia, seluruh warga Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dengan tarif rata-rata 23 riyal. Untuk waktu tempuhnya sekitar 7 sampai 14 hari,” kata Ghani di Madinah, Senin (27/4/2026).
Ia menjelaskan, layanan kargo haji ini sejak tahun 2024, dan mendapatkan respons positif dari masyarakat Indonesia maupun jemaah haji. Untuk menjamin keamanan barang, proses pengemasan dilakukan secara terbuka dan disaksikan langsung oleh jemaah. Selain itu, layanan ini juga dilengkapi dengan asuransi.
“Waktu packing, jemaah haji langsung melihat sendiri. Kemudian ada asuransinya. Insya Allah, barang ini cocok, sesuai dengan yang diserahkan ke kami,” ujar Ghani.
Terkait tarif, Ghani menyebut ada penyesuaian untuk wilayah tertentu, terutama yang membutuhkan pengiriman lanjutan.
“Penentuan tarif 23 riyal itu untuk hampir semua wilayah di Indonesia. Kecuali yang double flight. Jadi dua kali penerbangan itu kan ada biaya untuk penerbangan berikutnya. Nah, rata-rata 23 riyal itu menjadi 25 riyal atau 30, tergantung dari daerah jemaah haji yang bertalian,” katanya.
Barang yang dikirim melalui layanan ini akan diantarkan langsung ke alamat tujuan di Indonesia. Dengan skema ini, layanan kargo haji dinilai menjadi alternatif praktis bagi jemaah untuk mengirim oleh-oleh tanpa harus terbebani bagasi saat perjalanan pulang ke tanah air.
Pilih kargo fokus ibadah
Layanan kargo haji yang disediakan Pos Indonesia tak hanya diminati, tetapi juga langsung dimanfaatkan jemaah untuk mengirim oleh-oleh lebih awal. Alasannya sederhana: mengurangi beban saat pulang dan memberi ruang lebih untuk fokus beribadah.
Sejumlah jemaah terlihat mulai mengemas barang kiriman mereka, mulai dari tas, makanan ringan, hingga perlengkapan ibadah.
Salah satunya, Jumarni, yang mengaku mengirim berbagai oleh-oleh untuk keluarga di tanah air. “Banyak-banyak, macam ini,” ujar Jumarni.
Saat ditanya lebih detail, ia menyebut barang yang dikirim berupa tas untuk keluarga. “Ini tas buat oleh-oleh untuk keluarga,” ujarnya.
Total barang yang dikirimnya mencapai sekitar 10 kilogram. Ia memilih mengirim lebih awal agar tidak terbebani saat kepulangan dan bisa fokus menjalankan ibadah. “Karena cepat sampai. Jadi habis ini nanti fokus ibadah,” tandasnya.
Hal serupa disampaikan jemaah lain, Megawati. Ia mengirim berbagai barang seperti sajadah, tasbih, hingga makanan ringan khas untuk oleh-oleh.
Menurutnya, layanan kargo membantu meringankan barang bawaan saat kembali ke Indonesia. Megawati mengaku mengetahui layanan ini dari ketua rombongan. Dengan total kiriman sekitar 10 kilogram, ia optimistis barangnya akan sampai dengan aman.
Sementara itu, jemaah asal Bone, Sulawesi Selatan, M Darwis, menilai layanan kargo memberikan jaminan kepercayaan bagi jemaah.
“Pertama tentu responsibility-nya, tanggung jawab yang sangat tinggi, sehingga ada kepercayaan dari jemaah bahwa apa yang dikirim akan sampai ke tanah air dengan baik,” kata Darwis.
Ia juga menyoroti faktor kepraktisan sebagai alasan utama jemaah memilih layanan ini. Bagaimana mereka bisa menyesuaikan barang bawaan yang berat, sehingga ketika nanti pulang ke tanah air tidak terbebani dengan barang yang ada.
Barang yang dikirim Darwis pun beragam, termasuk kurma dan pakaian khas Madinah yang tidak ditemukan di daerah asalnya. Total barang yang ia kirimkan juga berkisar 10 kilogram.
Fenomena ini menunjukkan layanan kargo haji bukan sekadar fasilitas tambahan, tetapi telah menjadi bagian dari strategi jemaah untuk menjalani ibadah dengan lebih ringan dan fokus di Tanah Suci.*
