5 months ago
2 mins read

Dari PKI ke Korupsi

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Pada masa Orde Baru kekuasaan tidak membutuhkan pembuktian, hanya membutuhkan label. Begitu seseorang dicap terkait Partai Komunis Indonesia, hidupnya selesai. Tidak ada pengadilan yang sungguh-sungguh, tidak ada pembelaan yang berarti. Yang terjadi adalah eksekusi sosial total: kematian perdata. Itulah era di mana hukum bukan alat keadilan, melainkan alat eliminasi.

Lalu datang Reformasi 1998, yang menjanjikan pemutusan total dari praktik otoritarian tersebut. Kita membangun institusi, memperkuat konstitusi, dan mengklaim bahwa supremasi hukum telah menggantikan supremasi kekuasaan. Namun pertanyaannya: apakah benar demikian?

Jawabannya tidak nyaman: yang berubah hanyalah wajahnya, bukan wataknya. Jika dulu label “PKI” adalah peluru politik, kini tuduhan korupsi adalah amunisi baru. Ia lebih modern, lebih legal, dan jauh lebih “terhormat”, karena dibungkus dalam proses peradilan. Tetapi substansinya sering kali identik: menghancurkan lawan tanpa benar-benar memberi ruang pembelaan yang adil.

Perbedaannya hanya satu: dulu orang dipenjara tanpa pengadilan, sekarang dipenjara melalui pengadilan yang hasilnya sudah bisa ditebak.

Dalam ekosistem seperti ini, keberanian hakim menjadi barang langka. Membebaskan terdakwa korupsi bukan lagi soal fakta atau hukum, tetapi soal risiko—risiko diserang opini publik, risiko dicurigai, bahkan risiko kriminalisasi balik. Selain itu, memutuskan bebas harus bekerja lebih berat; menganalisa data dan bukti di persidangan. Maka pilihan paling aman adalah satu: menghukum.

Akibatnya, proses peradilan berubah menjadi ritual formal untuk mengesahkan keputusan yang secara politik sudah diambil sebelumnya.

Di tengah situasi ini, aparat penegak hukum, baik dari Kejaksaan Republik Indonesia maupun Komisi Pemberantasan Korupsi, tidak lagi beroperasi dalam tekanan pembuktian yang ketat. Mereka bekerja dalam zona nyaman: tuntutan hampir selalu berujung vonis.

Apa yang terjadi jika sebuah sistem tidak pernah kalah? Ia berhenti belajar. Standar pembuktian menurun. Argumentasi menjadi longgar. Kasus dengan konstruksi lemah tetap diajukan, karena probabilitas kemenangan mendekati kepastian. Ini bukan lagi penegakan hukum, ini produksi vonis.

Lebih problematik lagi adalah konstruksi “kerugian negara” yang sering dijadikan jantung perkara. Dalam banyak kasus, angka kerugian tidak lahir dari metode akuntansi yang dapat dipertanggungjawabkan, melainkan dari asumsi yang dipaksakan. Logika ekonomi diabaikan, prinsip acceptable accounting practices ditabrak, dan rasionalitas dikorbankan demi satu tujuan: memastikan bahwa seseorang dapat dipidana.

Sehingga, yang sering terjadi adalah pola terbalik: penjara dulu, hitung kerugian negara belakangan.

Di titik inilah kita melihat bagaimana kriminalisasi kebijakan dan keputusan bisnis terjadi secara vulgar. Kasus yang menimpa Nadiem Makarim, Ibrahim Arif, Tom Lembong, dan Ira Puspadewi menunjukkan pola yang sama: keputusan kebijakan atau bisnis yang diambil dalam situasi kompleks ditarik ke ranah pidana korupsi dengan logika hasil, bukan niat.

Di sini, hukum kehilangan kemampuan paling dasarnya: membedakan antara kebijakan publik/korporasi dan kejahatan.

Namun era digital mengganggu kenyamanan ini. Transparansi membongkar apa yang selama ini tersembunyi. Persidangan tidak lagi menjadi ruang tertutup elit hukum, tetapi panggung publik yang diawasi jutaan mata. Muncul istilah sinis: no viral, no justice.

Dan ketika publik mulai melihat sendiri bagaimana sebuah kasus dibangun; kelemahan menjadi terang, kejanggalan menjadi nyata, dan absurditas tidak lagi bisa disembunyikan.

Perlawanan pun muncul. Narasi tunggal dari penuntut mulai ditantang. Keahlian teknis aparat dalam bidang ekonomi, keuangan, dan korporasi dipertanyakan secara terbuka. Untuk pertama kalinya, ada tekanan balik terhadap dominasi penuntutan.

Dalam konteks inilah keputusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia menjadi signifikan. Dengan menegaskan bahwa perhitungan kerugian negara harus dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) bukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan juga bukan oleh pihak lain yang ditunjuk oleh penyidik. Mahkamah Konstitusi menegaskan prinsip fundamental: independensi berlandaskan konstitusi.

BPK dipilih karena secara konstitusional berdiri independen dan sejajar dengan kekuasaan eksekutif, sementara BPKP berada di bawah eksekutif, (apalagi pihak lain yang ditunjuk penyidik) membuatnya rentan terhadap konflik kepentingan dan potensi intervensi.

Ini bukan sekadar koreksi teknis’ tetapi merupakan upaya memutus rantai penggunaan hukum sebagai alat kekuasaan. Jika kita jujur, maka harus diakui: kriminalisasi melalui tuduhan korupsi telah menjadi bentuk baru dari stigmatisasi politik. Ia lebih canggih, lebih sulit dibantah, dan lebih efektif menghancurkan reputasi. Oleh karena itu peringkat Indeks Korupsi Indonesia tetap tinggi.

Bedanya dengan masa lalu hanya satu, yaitu; dulu negara tidak berpura-pura adil, sekarang ia melakukannya dengan sangat meyakinkan. Pertanyaan besarnya adalah: sampai kapan?

Jika hukum terus dijadikan senjata politik, maka keadilan akan selalu menjadi korban. Dan jika keadilan runtuh, maka pemberantasan korupsi itu sendiri kehilangan legitimasi moralnya.

Kita tidak membutuhkan lebih banyak vonis. Kita membutuhkan lebih banyak kebenaran.

Tanpa itu, Indonesia hanya berpindah dari satu bentuk otoritarianisme ke bentuk lain—dari represi ideologi ke represi legalistik. Dan mungkin, itu justru lebih berbahaya.*

Laksamana SukardiPolitikus Senior.

Komentar

Your email address will not be published.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

Tantangan Mundur Pimpinan DPR Bukan Hal yang Luar Biasa

JAKARTA – Ada sesuatu yang terdengar heroik dari Senayan. Pimpinan

Andi Mallarangeng: Bebas Aktif Tidak Berarti Pasif

JAKARTA – Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China, perang Rusia-Ukraina, konflik
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88