GAZA – Eskalasi kekerasan di Jalur Gaza kembali memakan korban jiwa. Seorang warga di Gaza, Palestina dilaporkan meninggal dunia, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka, sebagian dalam kondisi kritis, akibat serangan yang terjadi pada Senin (13/4/2026) malam di pusat Kota Gaza.
Insiden bermula ketika sebuah pesawat tak berawak pengintai militer Israel menargetkan sebuah kafe yang berada di sekitar Menara Dawood. Tak lama setelah serangan tersebut, pasukan Israel dilaporkan melepaskan tembakan ke arah warga di lokasi kejadian, memperparah jumlah korban.
Korban luka segera dievakuasi ke Rumah Sakit Palang Merah Palestina untuk mendapatkan penanganan medis. Di lokasi terpisah, sejumlah warga juga dilaporkan mengalami luka-luka di sekitar area pasar di Beit Lahia, wilayah utara Jalur Gaza.
Sumber medis dari Rumah Sakit Lapangan Kuwait mengonfirmasi bahwa satu orang meninggal dunia dalam insiden tersebut, sementara beberapa korban lainnya masih menjalani perawatan intensif. Setidaknya satu korban dilaporkan berada dalam kondisi kritis.
Sebelumnya pada malam yang sama, dua warga Palestina juga dilaporkan terluka akibat tembakan pasukan Israel di kawasan Shujaiyya dan Zeitoun, yang terletak di bagian timur Kota Gaza.
Dalam perkembangan yang lebih luas, situasi kemanusiaan di Jalur Gaza terus menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Berdasarkan data dari sumber medis setempat, jumlah korban tewas sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.333 orang, dengan sedikitnya 172.202 lainnya mengalami luka-luka.
Lebih dari itu, krisis kemanusiaan di Gaza kini berada pada titik kritis. Ribuan warga dilaporkan masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan akibat serangan yang terus berlangsung, sementara tim penyelamat menghadapi keterbatasan alat, bahan bakar, dan akses untuk menjangkau para korban.
Fasilitas kesehatan di Gaza juga berada di ambang kolaps. Banyak rumah sakit tidak lagi berfungsi optimal akibat kerusakan infrastruktur dan minimnya pasokan obat-obatan serta listrik. Tenaga medis bekerja dalam kondisi darurat dengan keterbatasan peralatan, sementara jumlah pasien terus meningkat tajam.
Di sisi lain, krisis pangan dan air bersih semakin memburuk. Warga menghadapi kesulitan memperoleh kebutuhan dasar, termasuk makanan, air layak konsumsi, dan sanitasi. Blokade yang berkepanjangan turut memperparah distribusi bantuan kemanusiaan, menyebabkan jutaan warga hidup dalam kondisi serba kekurangan.
Badan-badan kemanusiaan internasional juga terus memperingatkan potensi meningkatnya angka kelaparan dan penyebaran penyakit, terutama di kalangan anak-anak dan kelompok rentan. Kepadatan di tempat-tempat pengungsian memperbesar risiko krisis kesehatan yang lebih luas.
Kondisi ini menegaskan bahwa konflik yang terus berlangsung tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memperdalam penderitaan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian dan respons serius dari komunitas internasional.*
