3 weeks ago
4 mins read

Peran ASEAN–Indonesia dalam Memulihkan Kemanusiaan Global

Ilustrasi warga Gaza yang menungsi akibat serangan Israel. (Foto: HRW)

JAKARTA – Tahun ini tidak hanya menyoroti meningkatnya kebutuhan kemanusiaan pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi juga mengungkap erosi solidaritas global yang semakin mengkhawatirkan.  Rasa empati kian memudar, kehendak politik mengeras, dan kerja sama internasional mulai melemah justru pada saat ia paling dibutuhkan.

Dampaknya terlihat nyata: rumah sakit yang hancur di Gaza, komunitas yang terjebak konflik di Sudan, serta keluarga-keluarga Rohingya yang berjuang untuk bertahan hidup di kamp-kamp pengungsian dan lingkungan yang padat penduduk di Myanmar, Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia.

Di tengah berbagai krisis ini, kesenjangan antara kebutuhan dan kemampuan dunia untuk merespons belum pernah sebesar dan seberbahaya sekarang. Bahkan pendanaan ulang Global Fund untuk memerangi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria mencerminkan kemunduran tersebut, dengan janji-janji yang jauh dari memadai ketika persediaan obat menipis, tenaga kesehatan tidak dibayar, dan kematian yang sebenarnya dapat dicegah terus meningkat. Tanpa pembaruan komitmen, capaian selama puluhan tahun terancam runtuh.

Dalam lanskap global yang terpecah ini, ASEAN—dan Indonesia khususnya—dapat memainkan peran yang sangat penting. Sebagai sebuah blok yang dibangun atas prinsip kerja sama, stabilitas, dan dukungan timbal balik, ASEAN memiliki potensi untuk membantu memulihkan keyakinan bahwa setiap nyawa memiliki nilai yang setara, tanpa memandang di mana seseorang hidup.

Di saat aksi kemanusiaan semakin dipolitisasi, diprivatisasi, dan dimiliterisasi, Indonesia sebagai salah satu pilar utama ASEAN dapat memimpin kawasan ini—sebagaimana yang pernah dilakukannya—dalam memperjuangkan prinsip-prinsip dasar yang melindungi warga sipil, menjunjung martabat manusia, serta memastikan akses yang adil terhadap layanan kesehatan.

Gaza: Ketika Gencatan Senjata Tidak Cukup
Meskipun gencatan senjata saat ini sedang berlangsung, kebutuhan medis dan kemanusiaan di Gaza tetap sangat luar biasa.  Sebagian besar rumah sakit telah hancur atau mengalami kerusakan parah.  Tim Doctors Without Borders / Médecins Sans Frontières (MSF) terus menangani korban dalam jumlah besar, kasus bedah yang kompleks, serta anak-anak yang mengalami trauma psikologis mendalam.

Anak-anak seperti Omar, berusia lima tahun, yang dievakuasi ke rumah sakit bedah rekonstruktif Doctors Without Borders di Amman, mencerminkan runtuhnya sistem kesehatan di Gaza. Banyak pasien anak tiba dalam kondisi gizi buruk, mengalami trauma berat, dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menjalani rangkaian operasi, rehabilitasi, serta dukungan psikologis. Meskipun gencatan senjata sedang berlangsung, kekerasan tetap berlanjut: warga Palestina dilaporkan ditembak di dekat “garis kuning” saat mencoba kembali ke rumah mereka.  

Israel juga terus memberlakukan pembatasan yang secara signifikan menghambat masuknya pasokan medis, bahan bakar, perlengkapan pengungsian, serta kebutuhan esensial lainnya. Gencatan senjata tanpa akses kemanusiaan yang bebas hambatan hanya memberikan bantuan parsial; masyarakat tetap berada dalam risiko yang sangat tinggi.

Kondisi kehidupan sehari-hari sangat memprihatinkan. Pengungsian yang padat, tanpa akses memadai terhadap air bersih dan sanitasi, telah memicu lonjakan infeksi pernapasan, pencernaan, dan kulit. Situasi ini merupakan darurat kesehatan masyarakat yang dapat diprediksi dan seharusnya dapat dicegah, yang berpotensi memburuk seiring datangnya musim dingin.

Yang paling mengkhawatirkan, respons kemanusiaan justru secara sengaja dibatasi pada saat paling dibutuhkan. Bantuan kemanusiaan diperlakukan sebagai alat tawar-menawar politik, bukan sebagai upaya penyelamatan nyawa. Doctors Without Borders mendesak agar bantuan dapat disalurkan tanpa hambatan dan semata-mata berdasarkan kebutuhan, serta dengan tegas menolak segala bentuk militerisasi bantuan maupun pengkondisian bantuan atas dasar tujuan politik.

Sudan: Krisis Kemanusiaan Terbesar dan Paling Terabaikan di Dunia
Sudan saat ini menghadapi krisis kemanusiaan terburuk dan paling terabaikan di dunia. Doctors Without Borders mendukung lebih dari 30 fasilitas kesehatan di 10 negara bagian, namun tingkat penderitaan yang terjadi jauh melampaui kapasitas respons global. Sejak April 2023, lebih dari 1,7 juta orang telah mencari perawatan di klinik-klinik yang didukung oleh organisasi ini, sebuah indikator jelas dari runtuhnya sistem kesehatan.

Di Darfur, kekerasan, kelaparan, dan pengungsian paksa telah mencapai tingkat yang mengerikan. Di Tawila, sebanyak 75 persen anak di bawah usia lima tahun yang baru tiba mengalami gizi buruk akut, sementara 25 persen di antaranya menderita gizi buruk parah. Banyak dari mereka datang setelah berbulan-bulan hidup dalam kepungan dan kelaparan. 

Di Kamp Zamzam, tim Doctors Without Borders telah merawat ratusan orang dengan luka tembak, patah tulang, serta cedera akibat serangan yang menyasar kelompok etnis tertentu. Warga sipil menuturkan bahwa mereka “dibunuh, dihalangi, dan diburu” saat berusaha melarikan diri. 

Rumah sakit kerap menjadi sasaran serangan. Fasilitas yang didukung Doctors Without Borders, termasuk Rumah Sakit Al Nao di Omdurman dan Rumah Sakit Kas di Darfur, telah dihancurkan, dijarah, atau dikepung oleh kelompok bersenjata. Perlindungan hukum terhadap fasilitas medis serta terhadap mereka yang mencari dan memberikan layanan kesehatan praktis runtuh.

Dampak tidak langsung dari konflik ini tidak kalah dahsyat. Selama dua tahun terakhir, Doctors Without Borders telah menangani 174.000 kasus malaria, 89.100 kasus diare, serta ribuan pasien campak. 

Penyakit-penyakit tersebut dipicu oleh pengungsian massal, keterbatasan akses terhadap air bersih, dan runtuhnya layanan imunisasi.  Doctors Without Borders juga telah membantu lebih dari 35.300 persalinan, namun banyak perempuan tetap terlambat mendapatkan pertolongan akibat kondisi keamanan yang buruk dan jarak tempuh yang jauh. 

Rohingya: Krisis yang Tak Bisa Lagi Diabaikan oleh Asia
Di seluruh Asia Tenggara, krisis Rohingya masih menjadi salah satu keadaan darurat kemanusiaan yang paling terabaikan di kawasan ini. Hampir satu juta warga Rohingya masih bertahan hidup di kamp-kamp pengungsian yang padat dan tidak layak di Bangladesh, sementara ribuan lainnya mengungsi atau berada dalam status transit di Myanmar, Malaysia, dan Indonesia.

Pemangkasan pendanaan telah secara drastis mengurangi berbagai layanan dasar yang sangat penting. Tim Doctors Without Borders melaporkan peningkatan kasus gizi buruk, penyakit menular, anemia, serta kebutuhan layanan kesehatan mental yang terus meningkat. Para penyintas genosida kini menghadapi kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk, bukan karena kurangnya empati dari komunitas lokal, melainkan akibat merosotnya komitmen internasional.

Tanpa adanya solusi politik yang berkelanjutan, negara-negara di kawasan ini terpaksa menanggung beban penanganan krisis yang semakin lama semakin diabaikan oleh dunia internasional.

Mengapa Suara ASEAN Menjadi Penting Saat Ini
Di tengah kondisi global yang tercerai-berai, ASEAN dan Indonesia dapat tampil sebagai kekuatan yang stabil, konstruktif, dan berlandaskan prinsip.

Negara-negara ASEAN memiliki sejarah panjang dalam merespons pengungsian, menampung pengungsi, memimpin upaya pembangunan perdamaian, serta mendukung respons bencana di tingkat regional. Dengan kredibilitas diplomatik yang melintasi berbagai batas geopolitik, ASEAN berada dalam posisi unik dalam tatanan dunia multipolar yang tengah berkembang untuk memperjuangkan akses kemanusiaan, dengan menyerukan bantuan tanpa syarat dan tanpa hambatan di Gaza, Sudan, Myanmar, dan wilayah lainnya. 

Negara-negara ASEAN dapat menegaskan kembali prinsip-prinsip dasar kemanusiaan bahwa bantuan harus semata-mata didasarkan pada kebutuhan, tanpa dipengaruhi oleh kepentingan militer maupun politik. Negara-negara ASEAN dapat mengingatkan dunia bahwa tidak ada satu pun nyawa yang bernilai lebih rendah hanya karena tempat mereka hidup.

Menjelang akhir 2025, lanskap kemanusiaan global ditandai oleh kebutuhan yang mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah, sementara komitmen pendanaan justru berada pada titik terendah. Negara-negara ASEAN perlu menggalang lebih banyak dukungan di mana pun hal itu memungkinkan dan, yang lebih penting, menggunakan kredibilitas serta pengaruh politik mereka untuk menekan pihak lain agar membalikkan tren penurunan ini.

Dengan bersuara secara tegas dan bersatu, kawasan ini dapat membantu memulihkan nilai-nilai kemanusiaan melalui tindakan nyata pada saat kemanusiaan itu sendiri tengah memudar. Jutaan orang—mulai dari anak-anak di Gaza, para ibu di Sudan, hingga keluarga Rohingya di seluruh Asia Tenggara—tidak dapat menunggu munculnya kembali rasa empati global. Kelangsungan hidup mereka bergantung pada tindakan saat ini.

Paul McPhun, Direktur Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF) untuk kawasan Asia Pasifik, dengan fokus kerja di Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Komentar

Your email address will not be published.

Go toTop

Jangan Lewatkan

Quo Vadis Politik Luar Negeri Indonesia 2026?

JAKARTA – Situasi dunia pada 2026 diproyeksi akan memasuki turbulensi

Novelet: Segenggam Pasir dari Gaza

Pesawat itu mendarat di Bandara Internasional Kairo menjelang senja. Dari
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88