Saat seseorang tumbuh besar di sebuah rumah, dengan tontonan televisi bertema kekejaman dunia. Dan ketika itu dikonsumsi lebih dari tiga jam sehari, para penontonnya akan mengalami hidup di dunia yang lebih kejam. Ini diikuti tindakan yang relevan: menghidari kekejaman dunia. Dunia jadi tempat yang menakutkan. Karenanya dihindari.
Seluruhnya akan jelas berbeda, saat dibandingkan dengan tetangga yang tinggal di dunia yang sama, namun jam menontonnya lebih sedikit. Banyaknya waktu yang digunakan untuk mengkonsumsi program-program dalam jenis seperti itu, memperkuat ketakutan, kekhawatiran, dan paranoia terburuk yang dialami khalayak.
Kutipan ini menekankan soal kuantitas waktu yang digunakan. Makin tinggi waktu untuk mengonsumsi media, makin meresap realitas bentukan media. Ini artinya, dengan kuantitas berlipat kali lebih banyak pada penggunaan media digital, sindroma yang dialami akan lebih menyakitkan. Apakah serta merta seperti itu?
Jawaban relevan terkait kesertamertaan di atas, dikemukakan Bruno Juarez dan Karina Miszori, 2022, dalam “Social Media and our Perception of Reality: Ways to Unplug”. Keduanya menyebut, aplikasi seperti Instagram dan Tiktok, dibuat agar para penggunanya tak pernah berhenti menggulir layar.
Algoritma disesuaikan dengan pola aktivitas khalayaknya. Ini menyebabkan rasa betah, sehingga waktu konsumsinya terus meningkat. Rasa betah dihubungkan dengan dilepasnya serotonin di otak, yang berperan memperbaiki suasana hati. Juga memunculkan kebahagiaan. Siapa yang rela kebahagiaannya tercabut, lantaran menghentikan konsumsi media digital?
Dengan naiknya waktu konsumsi media digital khalayak makin percaya, gambar dan video yang dikonsumsinya nyata. Padahal, gambar dan video itu diedit. Juga hanya mewakili sebagian realitas. Karenanya mungkin bukan hanya dunia kejam yang diserap. Lantaran semua produsen dan kreator konten berlomba menyajikan kesempurnaan. Sehingga realitas terbangun sebagai dunia yang sempurna. Apakah ini keadaan yang lebih baik?
Semua waktu yang dihabiskan di media digital, untuk melihat pengguna lain berbagi kesempurnaan hidupnya. Ini menciptakan persaingan. Persaingan yang mendorong perlombaan: berusaha menjadi lebih baik, berbagi gambar yang sempurna, menceritakan kesempurnaan, atau mengalami malam sempurna bersama teman-teman. Persoalannya, apakah memang itu realitasnya? Tidak. Seluruhnya demi impresi. Kekaguman.
Nampak ada pergeseran: dari sindroma dunia kejam ke sindroma dunia sempurna. Manakah realitas yang lebih baik? Mana yang layak dihayati? Yang jelas keduanya melebarkan jarak, dari dunia yang senyatanya. Di media digital, realitas dunia tampil menjauh dari senyatanya.*
Dr. Firman Kurniawan S, Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital/Pendiri LITEROS.org.
