2 years ago
1 min read

‘Ketuhanan yang Berperikemanusiaan’ ala Bung Karno

Presien RI Pertama, Sukarno. (Foto: Quora)

JAKARTA – “Ketuhanan yang Maha Esa” kini dikenal sebagai bagian pertama dari Pancasila. Tapi siapa sangka, sila tersebut awalnya merupakan yang terakhir dalam gagasan Sukarno mengenai azas-azas yang mendasari pendirian negara Indonesia modern.

Pada 1 Juni 1945, baru setelah Sukarno membicarakan azas nasionalisme, kemanusiaan, demokrasi, dan kesejahteraan sosial, ia membahas “prinsip ketuhanan”.

“Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa,” ujarnya.

Daniel Dhakidae dalam artikel berjudul “Lima Bulan yang Mengguncang Dunia: Kelahiran Pancasila, Proklamasi, dan Pendirian Negara-Bangsa” menjelaskan kenapa sila mengenai ‘Ketuhanan’ itu dimunculkan terakhir.

Sebetulnya, Dhakidae pun mengakui kalau keputusan Sukarno menempatkan sila “Ketuhanan yang Maha Esa” di akhir menggemparkan.

“Ketuhanan ditempatkan sebagai sila terakhir, yang dalam pandangan umum kalau mengatakan sesuatu dalam urutan dan berhubungan dengan Tuhan, maka harus mendapatkan kedudukan pertama dan bukan terakhir,” katanya.

“Karena itu, apa yang dikemukakan Sukarno menjadi sacrilegious, blasphemous (penistaan) bagi siapapun yang beriman,” lanjutnya.

Berperikemanusiaan

Salah satu penjelasan yang diberikan oleh Dhakidae berkaitan dengan pemahaman ontologis Sukarno atas Pancasila yang ia rangkai sendiri itu.

Mengutip pidato Sukarno, Dhakidae menafsirkan sila “Ketuhanan” yang ia munculkan di akhir berlandaskan kepada dasar kemanusiaan, bukan agama.

“Jangan pun Weltanschauung (pandangan dunia) yang diadakan oleh manusia… “De mensch,” – manusia – harus perjuangkan itu. Zonder perjuangan itu tidaklah ia akan menjadi realiteit. Tidak! Bahkan saya berkata lebih lagi dari itu: zonder perjuangan manusia, tidak ada satu hal agama, tidak ada satu cita-cita agama, yang dapat menjadi realiteit,” ucap Sukarno.

Karena manusia berjuang atau bekerjalah, Dhakidae memahami, ‘ketuhanan’ muncul dan menjadi bermakna bagi orang-orang.

“Tanpa kerja tidak ada kebudayaan, tidak ada masyarakat, dan tidak ada ketuhanan,” ujarnya dalam artikel yang telah disinggung.

Baru setelah orang-orang berjuang untuk mewujudkan pandangan-pandangannya, termasuk agama, maka ‘ketuhanan’ bisa hadir dalam kehidupan manusia.

“Ketika Sukarno mengatakan bahwa perjuangan adalah menschlich, dan dalam Menschlichkeit (kemanusiaan) dari perjuangan itulah terletak keberhasilan dari Gottlichkeit, dari sila pertama,” kata Dhakidae.

Dan hadirnya ‘ketuhanan’ setelah manusia berjuang itulah yang sengaja dijadikan sila terakhir oleh Sukarno.* (Bayu Muhammad)

Baca juga:

Gali Dasar Negara, Bung Karno Temukan Pancasila

Sukarno Memilih antara Nasionalisme dan Agama

Kelahiran Putra Sang Fajar

Komentar

Your email address will not be published.

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization
Go toTop

Jangan Lewatkan

Penjelasan Sukarno tentang Peristiwa Gerakan 30 September

JAKARTA – Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) merupakan kejadian yang

Bung Karno dan Rehabiitasi Sejarah

JAKARTA – Peristiwa krusial Pencabutan TAP MPRS No. XXXIII/MPRS/1967 pada
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88