MAKKAH — Medio Desember 2025, sebuah notifikasi pesan WhatsApp muncul di layar ponsel Indadari Mindrayanti. Isinya sederhana, bahkan mungkin akan terlihat seperti pesan biasa bagi banyak orang.
“Teh Indadari, berkenan nggak jadi petugas haji 2026?”
Pesan itu singkat. Tidak panjang. Tetapi bagi Indadari, beberapa kata tersebut seperti mengetuk sesuatu yang selama ini diam-diam ia simpan dalam ruang paling sunyi di hatinya.
Ada jeda panjang sebelum ia benar-benar menyadari apa yang baru saja dibacanya. Tangannya terasa dingin, dadanya sesak, dan tanpa benar-benar bisa ia tahan, matanya mulai dipenuhi air.
Ia menangis. Bukan semata karena mendapat tawaran menjadi petugas haji. Bukan pula karena bangga menerima amanah besar yang diimpikan banyak orang. Ada sesuatu yang terasa jauh lebih dalam dari itu. Di momen tersebut, ia merasa sedang dipeluk Allah dengan cara yang sangat lembut.
Sebab beberapa waktu sebelumnya, di Raudhah dan Multazam, dua tempat yang bagi banyak Muslim menjadi ruang paling intim untuk berbicara dengan Tuhan, ia baru saja menitipkan sebuah doa sederhana:
“Ya Allah, izinkan saya menjadi pelayan jemaah haji-Mu.”
Dan seperti banyak hal dalam hidup yang sering kali tak dapat dijelaskan logika, jawaban itu ternyata datang jauh lebih cepat daripada yang pernah ia bayangkan.
Sebait doa di Nopember
Sesungguhnya perjalanan Indadari menuju titik ini tidak dimulai ketika dirinya tiba di Madinah. Jika ditarik jauh ke belakang, kisahnya mungkin sudah dimulai sekitar lima tahun lalu, saat ia memutuskan mewaqafkan dirinya kepada Allah dengan sebuah niat yang terdengar sederhana, tetapi diam-diam sangat besar: menjadi pelayan umat di tiga masjid mulia umat Islam—Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa.
Saat itu, ia belum tahu bagaimana jalan menuju terkabulnya doa tersebut. Ia hanya berjalan mengikuti alur hidup sebagaimana adanya. Mendampingi perjalanan umrah. Membersamai perjalanan ke Masjidil Aqsa. Menemani banyak orang dalam perjalanan spiritual mereka.
Baru belakangan ia merasa, ketika menoleh ke belakang, seolah Allah sedang menyusun semuanya secara perlahan, nyaris tanpa suara.
Lalu November 2025 datang. Ketika sedang menunaikan umrah, ia kembali berdiri di Raudhah dan Multazam. Setelah berterima kasih kepada Allah karena telah mengizinkannya melayani umat di tiga masjid mulia, ia kembali menyisipkan satu doa lain.
“Ya Allah, izinkan saya menjadi pelayan jemaah haji-Mu.”
Menariknya, saat itu ia bahkan tidak pernah membayangkan menjadi petugas haji. Tidak pernah terlintas. Tidak pernah benar-benar terpikir. Ia hanya memiliki harapan sederhana: suatu hari dapat berhaji sambil tetap melayani umat.
Tetapi mungkin memang begitulah cara Allah bekerja. Manusia sering meminta sesuatu dalam ukuran kecil yang mampu dipikirkannya, sementara Allah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang sanggup dibayangkan.
