Yang tersembunyi di balik layar
Hari ini Indadari berada di Madinah, kota yang diam-diam menempati ruang khusus dalam hatinya. Ia menjadi bagian dari tim peliput haji di Daerah Kerja (Daker) Madinah. Bukan sekadar kota tempat penugasan. Bukan pula sekadar titik di peta yang dipadati jutaan orang. Ada rasa akrab yang sulit ia jelaskan setiap kali menyebut nama Madinah.
Bahkan ada satu doa yang diam-diam ia simpan sendiri. Suatu hari, bila Allah mengizinkan, ia berharap diwafatkan di kota itu dan dimakamkan di Maqam Baqi. Kalimat tersebut meluncur tenang dari bibirnya. Tetapi di balik ketenangan itu, tersimpan kerinduan yang terasa panjang.
Di Daker Madinah, tugas Indadari pada dasarnya adalah mendokumentasikan perjalanan jemaah dan petugas haji, mengangkat cerita-cerita mereka, menyampaikan informasi, sekaligus menangkap sisi-sisi manusiawi yang kerap luput terlihat di balik besarnya penyelenggaraan ibadah haji.
Namun kenyataan di lapangan jauh lebih rumit dibanding sekadar memegang telepon genggam atau menulis naskah berita. “Orang mungkin melihat kami hanya membuat konten,” ucapnya.
Padahal di balik gawai dan tulisan itu, mereka sesungguhnya sedang belajar menangkap hal-hal yang tak terlihat: air mata yang jatuh diam-diam, doa-doa yang lirih dipanjatkan, kerinduan yang tak pernah terucap, perjuangan yang jarang diketahui orang lain, hingga ketulusan yang kadang justru muncul dari peristiwa kecil.
Ada hari-hari ketika mereka harus berlari mengejar momen, begadang mengirim berita, menyunting video di sela tugas, dan tetap bersiap kapan saja saat dibutuhkan. Tetapi anehnya, kelelahan itu tidak selalu terasa sebagai beban. Sebab melalui cerita para jemaah, mereka seperti ikut menjadi saksi perjalanan tamu-tamu Allah.
Dan hampir setiap hari, selalu ada kisah yang membuat hatinya luluh. Ada nenek yang menangis karena terpisah dari rombongan. Ada jemaah yang memeluknya sambil mendoakan panjang, padahal menurut Indadari yang ia lakukan hanyalah bantuan kecil.
Ada pula momen ketika ia menemani nenek-nenek berjalan perlahan di Masjid Nabawi, mendengarkan kisah hidup mereka, sesekali membuat mereka tertawa, lalu diam-diam menyimpan kehangatan itu sendiri.
Hal-hal seperti itu tampak kecil. Tetapi justru dari sanalah ia merasa belajar bahwa perhatian sederhana sering kali meninggalkan jejak paling kekal di hati seseorang.
Cinta paling sederhana
Dan dari sekian banyak kisah yang datang silih berganti, ada satu cerita yang paling mengendap di hatinya: tentang sepasang suami istri yang berangkat haji dengan nyaris tanpa apa-apa.
Sang istri terkena stroke. Beberapa pekan menjelang keberangkatan, uang mereka habis karena tertipu. Mereka nyaris gagal berangkat. Tetapi pasangan itu tetap tenang. Mereka percaya, bila Allah sudah memilih seseorang menjadi tamu-Nya, maka Allah pula yang akan mencukupkan jalannya.
Setiap sore Indadari melihat sang suami mendorong kursi roda istrinya mengelilingi Masjid Nabawi. Tidak ada adegan besar. Tidak ada percakapan dramatis. Hanya seorang lelaki yang berjalan pelan di belakang perempuan yang dicintainya, memastikan roda itu terus bergerak sambil sesekali membungkuk untuk menghibur istrinya.
Pemandangan sederhana itu—entah mengapa—seperti meninggalkan jejak kecil yang sulit dijelaskan.. “Untuk saya yang pernah gagal dalam rumah tangga, mereka mematahkan pikiran negatif saya tentang cinta,” tuturnya.
Dan mungkin memang begitu. Kadang Allah mengirim jawaban bukan melalui ceramah panjang atau nasihat besar, melainkan melalui manusia lain yang tanpa sadar sedang menunjukkan bentuk cinta paling sederhana.
Musim haji ini juga akhirnya mengubah cara Indadari memandang ibadah. Ia merasa Tanah Suci mengajarkan bahwa ibadah ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk ritual yang besar dan terlihat.
Kadang ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih bersahaja: membantu jemaah kembali ke hotel, menemani orang berjalan pelan, mendengarkan cerita yang mungkin hanya ingin didengar, atau memastikan seseorang merasa tidak sendirian di tempat yang jauh dari rumah.
Dan dari sanalah ia memahami satu hal: melayani tamu Allah ternyata bukan sekadar pekerjaan. Ini jawaban doa. Ini bentuk cinta Allah. Dan amanah itu, menurutnya, terlalu berharga untuk disia-siakan.*
