MADINAH — Tangannya kurus dan mulai keriput. Jalannya pelan, tapi langkahnya mantap. Di sebuah kamar hotel jemaah Indonesia di Madinah, Nenek Jumariah (70) duduk sederhana dengan mukena dan tas kecil yang tak pernah jauh dari genggamannya. Sesekali ia tersenyum malu ketika diajak bicara. Sesekali pula matanya berkaca-kaca.
Tak ada yang menyangka, perempuan lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, itu menyimpan kisah panjang tentang kesabaran, kemiskinan, dan mimpi yang dijaga selama hampir dua dekade. Mimpinya cuma satu: pergi ke Tanah Suci. Jumariah tergabung dalam jemaah Kloter UPG 14.
“Kerja sawah,” kata Nenek Jumariah pelan saat ditanya bagaimana perjuangannya mengumpulkan biaya haji.
Kalimat itu sederhana. Tapi di baliknya, ada kehidupan yang dijalani dengan sangat keras. Setiap pagi sekitar pukul enam, ia pergi ke sawah membawa bekal air setengah liter. Mencangkul, membersihkan kebun, bekerja sampai siang, lalu pulang untuk mandi dan makan seadanya sebelum kembali menjalani rutinitas hidup yang sama keesokan harinya.
Dari pekerjaan itulah ia menabung. Sedikit demi sedikit. Kadang Rp 500 ribu dari hasil panen padi. Kadang Rp 700 ribu. Kadang hanya Rp 200 ribu dari membantu mengerjakan kebun orang lain. “Kalau sudah panen padi, saya jual, baru kusimpan,” ujarnya.
Yang membuat banyak orang tercekat bukan cuma jumlah uangnya. Tapi bagaimana cara ia menjaganya. Uang itu tidak disimpan di rekening bank. Tidak pula di lemari. Nenek Jumariah menyimpannya di ember.
Ia menaruh uang-uang itu di ember yang disimpan di bawah tempat tidur, lalu menutupinya dengan kain-kain bekas agar tak diketahui orang lain. “Baru saya tutup kain-kain jelek toh, supaya tidak ada tahu,” tuturnya.
Jumlahnya tidak pernah besar sekaligus. Kadang hanya Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, Rp 100 ribu. Tapi uang-uang kecil itulah yang akhirnya mengantarkannya ke Madinah. Butuh hampir 20 tahun bagi Nenek Jumariah untuk mengumpulkan biaya haji.
Dan selama itu pula, tabungan hajinya nyaris tidak pernah disentuh. “Kalau sudah kumasukkan di ember, saya tidak ambil,” ujarnya.
Padahal hidupnya jauh dari berkecukupan. Ketika butuh makan, ia memilih memasak daun ubi atau sayur seadanya daripada mengambil uang tabungan haji. “Besok-besok bertelur ayamku, saya ambil. Saya masak telur ayam,” katanya sambil tersenyum kecil.
Pesan orang tua
Di balik keteguhan itu, ada pesan orang tua yang terus menempel di kepalanya. Orang tua Nenek Jumariah juga bekerja sebagai petani. Mereka tak pernah mampu pergi haji. Tapi sebelum meninggal, mereka menitipkan satu pesan yang tidak pernah ia lupakan.
“Kalau kau punya uang Nak, pergi kau naik Tanah Suci. Pergi kau karena saya tidak ada, maka aku pergi (naik haji),” kenangnya.
Kalimat itu terus hidup di dalam dirinya selama puluhan tahun. Maka ketika uangnya dirasa cukup, ia memberanikan diri mendaftar haji pada 2011. Ia bahkan sempat kebingungan bagaimana cara mendaftar hingga akhirnya ditemani seorang teman menuju kantor pendaftaran.
Kini, bertahun-tahun setelah mendaftar, perempuan sederhana yang hidup sendirian di kampung itu benar-benar tiba di Kota Nabi. Namun Madinah justru membuat air matanya lebih mudah jatuh. “Pertama dulu saya ke sini menangis,” katanya.
Saat ditanya kenapa menangis, ia terdiam cukup lama. “Saya ingat orang tuaku,” jawabnya lirih.
Ada jeda panjang setelah kalimat itu keluar. Matanya memerah. Suaranya bergetar. “Kenapa aku ada di sini?” lanjutnya.
Seolah sampai sekarang pun ia masih sulit percaya bisa berdiri di tempat yang dulu hanya hadir dalam doa-doa panjangnya.
Tangis itu kembali pecah ketika ia masuk ke Raudhah. Di tempat yang diyakini sebagai salah satu taman surga itu, Nenek Jumariah lagi-lagi teringat orang tuanya. “Waktu itu masuk ke Raudhah, saya tidak bisa tahan air mataku,” katanya.
Doanya sederhana. Sangat sederhana. Ia tidak meminta rumah besar. Tidak meminta harta. “Aku berdoa supaya saya panjang umur saja. Semoga dikasih ke sini lagi.”

Rajin ke Masjid Nabawi
Di Madinah, Nenek Jumariah dikenal sebagai jemaah yang sangat rajin ke Masjid Nabawi. Ia bahkan berangkat sejak dini hari demi shalat Subuh di masjid. “Kalau Subuh, jam 01.00 pergi,” ujarnya.
Ia biasanya pergi bersama rombongan ibu-ibu lain karena takut tersesat. Nenek Jumariah mengaku tidak bisa membaca, sehingga tidak berani berjalan sendirian di tengah keramaian Kota Madinah. “Nanti mau ke sana orang, saya ke sini,” katanya sambil tertawa kecil.
Meski begitu, soal fisik, ia justru membuat banyak orang kalah. Pendampingnya, Marwati, mengaku sering kewalahan mengikuti langkah Nenek Jumariah. “Dia itu semangatnya melebihi anak-anak muda,” kata Marwati.
Saat menuju Raudhah, Marwati bahkan mengaku sempat ditarik karena langkah Nenek Jumariah terlalu cepat. “Sampai-sampai saya berjalan dengan kencang begitu, bahkan dia lari tarik saya. Lebih duluan dia,” ujarnya sambil tertawa.
Ikon Makkah Route
Ketua Kloter UPG 14, Siti Hawaisyah, mengatakan kisah hidup Nenek Jumariah memang sudah menarik perhatian sejak awal. Karena itulah ia dipilih menjadi salah satu ikon program Makkah Route—layanan istimewa kerja sama pemerintah Arab Saudi dan Indonesia yang mempercepat proses keimigrasian haji.
“Kriteria kami pilih itu masalah latar belakang kehidupannya. Cerita unik kehidupannya,” jelas Siti.
Tim Makkah Route bahkan datang langsung ke rumah Nenek Jumariah di Maros untuk melihat sendiri kehidupan perempuan lansia itu. Rumah sederhana di dekat sawah. Hidup sendiri. Ponsel jadul yang hanya bisa dipakai menelepon. Tapi semangat hidup yang luar biasa.
Menurut Siti, Nenek Jumariah termasuk jemaah paling disiplin selama masa manasik. Ia tercatat mengikuti lebih dari 80 kali pertemuan tanpa pernah absen. “Tidak pernah alfa,” kata Siti.
Bahkan saat banyak jemaah lain mengeluh lelah, Nenek Jumariah tetap datang meski harus dibonceng motor oleh kerabatnya. Kesehatannya pun nyaris tanpa catatan penyakit.
“Dia tidak punya merah (tanda kesehatan jemaah di kartu jemaah haji), berarti dia sehat,” kata salah satu jemaah sambil menunjukkan hasil pemeriksaan kesehatan.
Kini, setiap kali duduk di pelataran Masjid Nabawi, Nenek Jumariah selalu terlihat tenang. Ia menyebut Madinah seperti rumah sendiri. “Baik kurasa di sini. Tenang saja,” ujarnya.
Di usianya yang tak lagi muda, setelah hidup dalam keterbatasan dan menunggu selama puluhan tahun, Nenek Jumariah akhirnya sampai di tempat yang dulu hanya bisa ia bayangkan.
Dan mungkin, di antara jutaan jemaah dari seluruh dunia, ada satu hal yang membuat perjalanan perempuan tua dari Maros ini terasa begitu istimewa: ia datang bukan karena hidupnya mudah.
Ia datang karena tidak pernah menyerah menjaga mimpi kecilnya. Meski hanya dimulai dari recehan yang disimpan diam-diam di dalam ember tua, di bawah tempat tidur rumah sederhananya.*
