MAKKAH — Menjelang fase paling krusial dalam ibadah haji, Kementerian Haji dan Umrah RI terus memperketat pengawasan kesiapan fasilitas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Pemerintah tak ingin jemaah Indonesia menghadapi persoalan klasik saat puncak haji dimulai.
Lewat Satgas Operasi Armuzna, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi melakukan inspeksi langsung ke berbagai titik layanan bersama pihak syarikah atau penyedia layanan. Hasilnya, sejumlah perubahan besar mulai terlihat di lapangan.
Di kawasan Arafah, misalnya, seluruh lorong antar-tenda kini telah dipasangi kamera pengawas (CCTV) yang aktif selama 24 jam. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat sistem keamanan sekaligus memudahkan pengawasan jemaah saat jutaan manusia berkumpul di lokasi yang sama.
Tak hanya soal keamanan, aspek kenyamanan juga menjadi perhatian utama. Untuk meredam panas ekstrem gurun, setiap tenda kini dilengkapi lantai tambahan berupa parquet atau interlock di bawah karpet.
Selain itu, setiap tenda juga dipasangi dua hingga tiga unit pendingin ruangan (AC). PPIH memastikan setiap jemaah akan mendapatkan fasilitas dasar berupa kasur busa baru, bantal, seprai, dan selimut. Distribusi kasur baru juga mulai terlihat di kawasan Mina.
Salah satu sorotan utama tahun ini adalah pembenahan fasilitas sanitasi. Pemerintah mencoba mengurai kepadatan antrean toilet yang selama ini menjadi keluhan jemaah saat puncak haji.
Caranya, Kemenhaj meminta pihak syarikah membangun deretan urinoir khusus pria di luar toilet utama agar antrean bisa lebih cepat terpecah. Selain itu, fasilitas toilet kini juga mulai dirancang lebih inklusif dengan jalur khusus dan tangga ramah disabilitas.
Kepala Bidang Pelindungan Jemaah (Linjam) PPIH Arab Saudi, Muftiono, mengatakan pengawasan terhadap progres pembangunan dilakukan setiap hari untuk memastikan seluruh fasilitas sesuai kontrak layanan.
“Pada saat awal kita melakukan pengecekan, progres baru mencapai sekitar 60 persen. Namun, hari ini alhamdulillah sudah sangat luar biasa perubahannya,” ujar Muftiono di Mina, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, perkembangan pesat dalam sepekan terakhir membuat pihaknya semakin optimistis seluruh fasilitas akan siap sebelum jemaah bergerak menuju Masyair.
“Melihat perkembangan itu, saya optimis bahwa target H-5 seratus persen bisa terwujud,” tegas Muftiono.
Bagi pemerintah, kesiapan Armuzna bukan sekadar soal infrastruktur. Di titik inilah jutaan jemaah akan menjalani fase paling padat, paling melelahkan, sekaligus paling menentukan dalam ibadah haji.
Karena itu, Kemenhaj memastikan seluruh detail teknis terus dikawal tanpa jeda agar jemaah Indonesia bisa menjalankan ibadah dengan lebih aman, nyaman, dan khusyuk tanpa dibebani persoalan fasilitas dasar di lapangan.*
