TUNIS — Diplomasi pendidikan Indonesia kembali mengemuka di panggung internasional. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tunis menggelar diskusi buku bertajuk “Gerbang Pintu Timur: Pengalaman Mahasiswi Tunisia di Indonesia” dalam Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40, Kamis (30/4/2026).
Diskusi ini menghadirkan Duta Besar RI untuk Tunisia Zuhairi Misrawi dan penulis buku, Nahed Zidenhum. Momentum ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai Tamu Kehormatan dalam ajang literasi internasional tersebut.
Dalam paparannya, Zuhairi menekankan bahwa Indonesia membuka ruang luas bagi mahasiswa Tunisia untuk menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Tanah Air.
“Buku ini merupakan bukti Indonesia menyambut baik dan memberikan kesempatan pada para mahasiswa Tunisia untuk belajar di berbagai kampus Indonesia. Kementerian Pendidikan Tinggi mempunyai program khusus para mahasiwa Tunisia untuk belajar di berbagai kampus Indonesia,” kata Zuhairi.
“Tapi, selain itu, para kampus juga memberikan beasiswa bagi para mahasiswa Indonesia untuk belajar di Indonesia. Peluang sangat besar, tinggal kemauan dari para mahasiswa Tunisia,” lanjutnya.
Menurut Zuhairi, pendekatan pendidikan menjadi salah satu instrumen paling efektif dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia–Tunisia.
“Diplomasi kebudayaan melalui program beasiswa pendidikan terbukti sangat efektif dalam mempererat hubungan bilateral Indonesia-Tunisia. Pengalaman menimba ilmu dan berteman dengan warga setempat memberikan kesan positif dan konstruktif, sehingga membuka peluang untuk mengembangkan diplomasi ekonomi,” paparnya.
“Sebab itu, kami dengan senang hati menyambut para mahasiswa asal Tunisia untuk belajar di Indonesia,” tegasnya.
Sementara itu, penulis buku Nahed Zidenhum membagikan pengalaman personalnya selama menempuh studi di Indonesia, khususnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia menilai pengalaman tersebut tidak hanya akademik, tetapi juga kultural.
“Saya berterima kasih pada pemerimtah Indonesia melakui KBRI Tunis, yang telah memberikan kesempatan untuk kuliah di negeri yang indah dan warganya ramah. Buku ini adalah tanda terima kasih saya pada Indonesia,” ujarnya.
Diskusi ini menjadi bagian dari strategi Indonesia dalam memperluas jejaring internasional melalui jalur pendidikan dan kebudayaan—sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi studi yang inklusif dan terbuka bagi dunia.*
