MADINAH — Arus kedatangan jemaah haji Indonesia terus mengalir deras. Hingga 1 Mei 2026 pukul 06.00 waktu setempat, tercatat sebanyak 158 kloter telah mendarat di Arab Saudi dengan total 61.407 jemaah, termasuk 13.186 jemaah lanjut usia (lansia).
Di tengah tingginya mobilitas, petugas Daerah Kerja (Daker) Bandara memperketat pengawasan, terutama pada penanganan koper dan dokumen jemaah. Seluruh koper dipusatkan di area drop baggage untuk memastikan proses distribusi berjalan aman dan tertib.
Kepala Daker Bandara, Abdul Basyir, mengatakan petugas disiagakan dalam tiga shift setiap hari, dengan fokus mengawasi langsung proses pengangkutan hingga pemasukan koper ke dalam kontainer.
“Kami melakukan pengawasan dari cara mereka melakukan pengangkatan koper sampai memasukan dalam container. Kalau ada koper yang rusak biasanya mereka juga melaporkan ada kerusakan koper sejak mereka terima di drop baggage area,” kata Basyir, Jumat (1/5/2026).
Jika ditemukan kerusakan, koper jemaah akan didata dan ditindaklanjuti. Penilaian kerusakan dilakukan oleh pihak maskapai, termasuk kemungkinan penggantian.
“Untuk penggantiannya yang akan meng-assesment dari maskapai. Kalau perlu ada penggantian akan dilakukan penggantian menjelang jemaah ini pulang,” lanjutnya.
Namun, untuk kerusakan berat yang tidak memungkinkan digunakan, jemaah diminta segera melapor ke sektor atau Daker Madinah untuk mendapatkan solusi sementara.
Selain koper, perhatian juga diarahkan pada pengamanan dokumen perjalanan, khususnya paspor. Petugas mengimbau jemaah untuk tidak lengah, terutama dalam fase awal kedatangan.
“Kami tetap mengimbau semua jemaah haji yang berangkat agar hati-hati menjaga dokumen perjalanannya. Mereka kami minta menjaga paspornya disimpan ke tempat semestinya,” ujar Basyir.
Paspor diminta tetap berada di dalam tas khusus dan hanya dikeluarkan saat diperlukan oleh petugas. “Paspor jangan dikeluarkan dari tas sebelum diperiksa petugas,” pesannya.
Dalam beberapa kasus, petugas juga telah menangani jemaah yang sempat tertahan akibat dokumen tertinggal, dengan koordinasi cepat bersama maskapai. Jika ada paspor jemaah yang tertinggal, petugas akan berkoordinasi dengan maskapai.
Di sisi lain, lanjut Basyir, kesiapan logistik bagi jemaah yang membutuhkan penanganan khusus juga dipastikan sejak awal, terutama untuk evakuasi medis.
Dengan jumlah jemaah yang terus bertambah, pengawasan ketat di bandara menjadi kunci untuk menjaga kelancaran, keamanan, dan kenyamanan seluruh proses kedatangan jemaah haji Indonesia di Tanah Suci.*
