MADINAH — Pergerakan jemaah haji Indonesia dari Madinah menuju Makkah mulai memasuki fase krusial. Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, Khalilurrahman, memastikan seluruh skema pemberangkatan kloter pertama telah disiapkan secara matang, dengan penekanan pada ketertiban dan kesiapan jemaah.
Koordinasi lintas sektor menjadi kunci. Daker Madinah telah berkomunikasi dengan para kepala sektor serta pihak terkait untuk memastikan proses pergerakan jemaah berjalan lancar tanpa hambatan.
Dalam skema yang disiapkan, jemaah diminta mengikuti alur waktu yang ketat. Koper harus sudah diturunkan ke lobi hotel delapan jam sebelum keberangkatan. Sementara itu, tiga jam sebelum jadwal berangkat, jemaah sudah harus dalam kondisi siap karena bus akan tiba lebih awal di lokasi.
“Keberangkatan juga diatur berbasis rombongan guna menjaga keteraturan. Jemaah diimbau tidak terburu-buru masuk ke dalam bus sebelum ada arahan resmi dari petugas layanan akomodasi dan transportasi di masing-masing sektor,” jelas Khalil di kantor Daker Madinah, Selasa (28/4/2026).
Di lapangan, lanjut Khalil, petugas akan melakukan verifikasi akhir melalui penempelan stiker pada bus setelah berkoordinasi dengan pihak syarikah.
“Langkah ini dilakukan untuk memastikan kendaraan yang digunakan benar-benar sesuai dengan data jemaah di hotel yang bersangkutan,” ia menegaskan.
Dengan berbagai pengaturan tersebut, Daker Madinah berharap proses pemberangkatan jemaah dari Madinah menuju Makkah dapat berjalan tertib, aman, dan tetap mengedepankan kenyamanan ibadah.
Akses ke Raudhah
Selain memastikan kelancaran pergerakan, Daker Madinah juga menyoroti aspek layanan ibadah, khususnya akses ke Raudhah. Khalil menegaskan bahwa seluruh jemaah haji Indonesia memiliki hak yang sama untuk masuk ke area tersebut.
Menurut Khalil, ada dua cara memasuki Raudhah. Pertama, secara mandiri melakui aplikasi Nusuk di smarthphonemasing-masing jemaah. Kedua, dengan pengaturan kolektif yang difasilitasi Daker Madinah.*
