MADINAH — Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, Khalilurrahman, mengimbau jemaah haji Indonesia untuk menjaga kesehatan dan keselamatan selama berada di Kota Nabi. Ia menekankan sejumlah hal krusial agar ibadah berjalan lebih optimal dan terhindar dari kendala di lapangan.
Menurut Khalilurrahman, persoalan sederhana seperti sandal kerap menjadi sumber masalah bagi jemaah. Banyak jemaah yang lupa membawa sandal saat beribadah di Masjid Nabawi sehingga menyebabkan kaki melepuh.
“Tentu yang pertama dan utama kita ingin memastikan keselamatan dan kesehatan jemaah haji. Yang krusial di Madinah ini banyak jamaah yang selesai melaksanakan salat di Masjid Nabawi lupa membawa sandal. Sehingga banyak kasus kaki jamaah itu melepuh,” ujar Khalil.
Ia menyarankan jemaah tidak menitipkan sandal di loker sekitar masjid karena jumlahnya sangat banyak dan berpotensi tertukar.
“Saran kami, ketika mereka salat sandal dibawa, dimasukkan dalam kantong plastik, didekatkan dengan di mana mereka salat atau dimasukkan ke dalam tas,” pesannya.
Selain itu, Khalilurrahman mengingatkan jemaah untuk mengantisipasi cuaca ekstrem di Madinah dan Makkah yang diperkirakan mencapai 45 hingga 47 derajat Celsius.
“Dalam menyikapi kondisi cuaca seperti itu, maka tolong tetap membawa alat pelindung diri, bawa masker, bawa payung, bawa semprotan, dan bawa air minum secukupnya,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga hidrasi dengan pola minum bertahap. Tipsnya adalah diminum secara bertahap tidak sekaligus.
Meminta bantuan petugas haji
Khalilurrahman juga meminta jemaah tidak ragu untuk meminta bantuan kepada petugas haji yang siaga 24 jam.
“Kalau ketika mereka terpisah rombongan atau ingin minta bantuan, silakan tanya pada petugas. Petugas siap 24 jam untuk memberikan bantuan pelayanan kepada jemaah haji,” tuturnya.
Terkait ibadah Arbain, ia mengingatkan jemaah untuk memerhatikan jadwal kedatangan dan kepulangan agar dapat menyelesaikan salat 40 waktu secara penuh.
Dalam hal operasional, Khalil memastikan proses penyambutan kloter pertama berjalan lancar tanpa kendala berarti, termasuk di area imigrasi.
“Alhamdulillah, sejauh pantauan kami, mulai kedatangan di Bandara Madinah sampai di hotel, semuanya berjalan lancar. Tidak ada jamaah yang tertahan di imigrasi,” katanya.
Ia juga menyoroti komitmen layanan haji ramah lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas. Petugas diminta sigap membantu jemaah dengan keterbatasan, termasuk dalam mobilitas.
“Ketika kita melihat jamaah yang tidak mampu, ada keterbatasan fisik, maka sebagai petugas harus sigap, harus respon cepat,” ujarnya.
Aspek spiritual
Selain aspek teknis, Khalil juga mengajak jemaah memperbanyak salawat selama berada di Madinah sebagai penguat spiritual.
“Selawat yang ringan yang sederhana, Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad. Itu insya Allah bisa memberikan kekuatan baik rohani, jasmani untuk mereka,” katanya.
Ia pun meminta keluarga jemaah di Indonesia untuk tidak khawatir karena layanan yang diberikan telah memenuhi standar, mulai dari akomodasi hingga konsumsi.
“Jemaah haji Indonesia mendapatkan pelayanan hotel setara bintang 3 dan bintang 4. Lokasinya juga dekat dengan Masjid Nabawi. Petugas siap melayani 24 jam,” tegasnya.*
