3 months ago
1 min read

Tantangan Jemaah Haji Lansia dan Perempuan

Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid. (Foto: Chairul Akhmad)

JAKARTA – Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid, mengharapkan petugas haji melayani jemaah haji dengan sepenuh hati, terutama jemaah lansia dan perempuan. Hal ini disampaikan Alissa saat memberikan pembekalan kepada calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Selama ini, menurut dia, kacamata layanan jemaah haji adalah kacamata laki-laki. Alissa yang menjadi anggota Amirul Haj pada 2023 itu mengatakan jemaah lansia punya tantangan yang sangat spesifik. Di antaranya kondisi fisik yang melemah, tantangan saat berada di Arab Saudi, hingga gap informasi dan teknologi.

“Mereka (jemaah lansia) tidak terbiasa di area bandara, tidak pernah naik pesawat, menghadapi bahasa sangat berbeda, makanya mereka mengandalkan petugas haji,” ujar putri sulung mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu.

Selain itu, kata dia, para lansia ini tidak terbiasa mengingat informasi. Mereka bahkan tidak tahu dari mana kabupaten mana mereka berasal. Tidak paham kloter dan hotel tempat mereka menginap di Tanah Suci.

“Lansia lahir di abad lalu. Mereka tidak kenal telepon genggam. Walau kenal, tapi tidak tahu cara menggunakannya,” ujar Alissa.

Ia menambahkan, kapasitas fisik jemaah lansia mengalami penurunan, seperti pendengaran, penglihatan, dan tenaga. Mereka juga dihinggapi penyakit kronis seperti sakit punggung, rematik, asam urat, hingga penyakit geriatrik.

“Kapasitas mental yang menurun membuat pemahaman mereka berkurang. Mereka menjadi pelupa (demethia) karena teriknnya cuaca di Arab Saudi. Hal ini membuat mereka mudah tertekan dan depresi,” katanya.

Sementara jemaah tantangan jemaah perempuan, lanjut Alissa, terkait dengan siklus reproduksi yang mereka alami. Mereka juga butuh perlengkapan yang lebih banyak ketimbang laki-laki. Selain itu, perempuan juga membutuhkan pendampingan ibadah dan pendampingan secara fisik.

“Kita masih menghadapi keterbatasan jumlah pendamping perempuan, fasilitas yang belum sepenuhnya sensitif gender, termasuk jumlah kamar mandi dan WC, hingga persoalan perlengkapan yang harus dibawa sendiri oleh jemaah perempuan,” ungkapnya.

Bagi jemaah haji, kata Alissa, seragam petugas adalah sumber rasa aman. Ketika mereka melihat petugas, mereka merasa aman, dan tidak panik. 

Ia berharap petugas haji dapat memahami bahwa lansia dan perempuan bukan kelompok yang harus menyesuaikan diri dengan sistem, melainkan sistem yang harus hadir melindungi mereka.

“Perjalanan haji adalah impian tiap Muslim. Berikanlah pengalaman terbaik bagi jemaah lansia. Mungkin ini adalah perjalanan terakhirnya,” pungkas Alissa.*

Komentar

Your email address will not be published.

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777

Go toTop

Jangan Lewatkan

Sektor Terluar, Tapi Cuma 500 Meter dari Nabawi

MADINAH — Sektor 5 kerap disebut sebagai wilayah terluar dalam

Menjaga Rasa Indonesia di Dapur Madinah

MADINAH — Di tengah padatnya operasional haji 2026, ada satu
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88