JAKARTA – Dilansir dari The Guardian, Israel dikabarkan telah melakukan pengeboman terhadap sekolah miliki Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jalur Gaza yang dipakai untuk menaungi para warga yang kehilangan rumahnya.
Media pemerintahan Jalur Gaza yang dikuasai oleh Hamas menuduh tentara Israel telah melakukan pembantaian mengerikan yang membuat malu rasa kemanusiaan.
Kantor berita Wafa dari Palestina mengatakan sekurang-kurangnya 32 orang telah terbunuh dalam serangan tersebut. tapi, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) setempat belum memberikan konfirmasi.
Di sisi lain, tentara Israel telah membenarkan dalam akun X-nya, kalau mereka memang sudah membidik bangunan tersebut untuk diserang. Mereka mengklaim bangunan tersebut merupakan rumah dari ‘teroris-teroris’ Hamas yang terlibat dalam serbuan 7 Oktober 2023 silam ke Israel.
Tentara Israel juga mengaku sasaran-sasaran mereka di dalam bangunan itu tengah merencanakan serbuan ke Israel. Dan mereka telah dieliminasi.
Pihak mereka juga mengklaim telah melakukan banyak langkah untuk mengurangi kemungkinan mencelakai mereka yang tidak terlibat.
Serangan baru
Serbuan ke sekolah milik PBB itu terjadi setelah tentara Israel menyatakan pada Rabu (5/6/2024), mereka akan meluncurkan operasi baru terhadap Hamas di Gaza Pusat.
“Pasukan Divisi ke-98 memulai kampanye presisi di area-area Bureij Timur dan Deir al-Ballah Timur, di atas dan di bawah tanah pada saat yang bersamaan,” kata pernyataan yang dibuat oleh militer Israel.
Organisasi relawan dokter, Medicines Sans Fronteirs (MSF) mengungkapkan sudah ada 70 orang yang meninggal dan 300 lainnya mengalami luka-luka sejak Selasa (4/6/2024).
Sayap bersenjata dari Hamas dan kelompok Jihad Islam mengatakan kalau mereka telah melakukan kontak senjata dengan pasukan-pasukan Israel di wilayah-wilayah tersebut.
Israel juga telah menyatakan penolakan mereka untuk menghentikan serangan ke Gaza.
Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Yoav Gallant, mengatakan semua bentuk negosiasi dengan Hamas akan dilakukan hanya di bawah pertempuran senjata. Artinya, tidak ada negosiasi dengan Hamas yang dilakukan dengan menjadikan penghentian serangan di Jalur Gaza sebagai pra-syarat.
Sementara itu, keadaan kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk. Hari Rabu (5/6/2024) lalu, dua organisasi keamanan pangan melaporkan banyak warga Palestina di Jalur Gaza mati karena kelaparan ekstrem. Mereka juga menemukan adanya kerusakan-kerusakan permanen pada anak-anak akibat malnutrisi.* (Bayu Muhammad)
Baca juga:
Netanyahu Diduga Memperlama Perang di Gaza
